Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Remaja Yatim Piatu di Buleleng Bertahan Hidup dengan Menjala Ikan

Eka Prasetya • Kamis, 7 Agustus 2025 | 21:35 WIB
BERI SEMANGAT: Ketua Komisi IV DPRD Buleleng, Nyoman Sukarmen (kanan) bertemu dengan Gede Sumerta (tengah) siswa di SMAN 2 Banjar.
BERI SEMANGAT: Ketua Komisi IV DPRD Buleleng, Nyoman Sukarmen (kanan) bertemu dengan Gede Sumerta (tengah) siswa di SMAN 2 Banjar.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Di tengah gegap gempita perayaan Hari Kemerdekaan RI ke-80, Gede Sumerta, 16, justru mengaku belum pernah merasakan arti kemerdekaan sesungguhnya. 

Remaja asal Dusun Ambengan, Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, itu kini menjalani hidup seorang diri, tanpa orang tua, dan harus bekerja keras setiap hari demi bisa bertahan hidup dan melanjutkan sekolah.

Sumerta adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Ibunya meninggal dunia saat ia baru berusia dua tahun, disusul sang ayah yang tutup usia saat ia duduk di bangku kelas dua SD. 

“Banyak yang merayakan kemerdekaan, tapi terus terang saya belum pernah merasakannya. Saya hidup sendiri tanpa orang tua,” tuturnya.

Kini, Sumerta tinggal di rumah peninggalan orang tuanya. Untuk bisa makan dan membiayai sekolah, ia setiap hari menjala ikan di pesisir Pantai Banjar. Hasil tangkapan itulah yang ia jual ke tetangga untuk dijadikan bekal. 

“Biasanya dapat setengah plastik ikan kecil, saya jual Rp 10 ribu. Kadang malah nggak dapat apa-apa kalau ombaknya besar,” ungkapnya.

Baca Juga: Lapor Pak! Perwalian Anak yang Digagas Kejari Badung Pertama di Bali, Bantu Penuhi Hak Anak Yatim dan Telantar

Uang dari menjala ikan digunakan untuk makan dan kebutuhan sekolah. Meski begitu, ia mengaku tidak pernah sekalipun mendapat bantuan dari pemerintah, baik dari desa, kecamatan, maupun kabupaten. 

“Bantuan dari pemerintah belum pernah saya terima. Hanya ada sedikit bantuan dari yayasan,” kata siswa kelas X SMAN 2 Banjar itu.

Beruntung, sebagai anak yatim piatu, ia dibebaskan dari biaya sekolah. Namun, Sumerta tetap berharap ada perhatian dari pemerintah untuk meringankan beban hidupnya. 

“Harapan saya hanya satu, ada bantuan agar saya bisa tetap sekolah. Itu yang paling penting bagi saya,” ucapnya. Ia juga menyebutkan bahwa dua kakaknya kini bekerja di Denpasar.

Kisah memilukan Sumerta akhirnya sampai ke telinga anggota DPRD Buleleng. Kamis (7/8/2025), Komisi IV DPRD Kabupaten Buleleng mengunjungi SMAN 2 Banjar untuk melihat langsung kondisi Sumerta. 

Kunjungan dipimpin Ketua Komisi IV, Nyoman Sukarmen, bersama anggota komisi, Ni Wayan Parlina Dewi.

“Kami sudah berkoordinasi dengan kepala sekolah dan aparat desa. Kami pastikan program bantuan dari pemerintah segera bisa disalurkan kepada anak ini,” jelas Sukarmen.

Sukarmen juga mengajak seluruh pihak, termasuk anggota dewan dan masyarakat, untuk turut berpartisipasi membantu Sumerta agar bisa hidup layak dan terus menempuh pendidikan. 

“Ini tanggung jawab bersama. Kita tidak boleh menutup mata terhadap kondisi seperti ini,” tegasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #dprd buleleng #uang #pantai #SMAN 2 Banjar #orang tua #remaja #biaya #sekolah #kemerdekaan #buleleng #ikan