SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Buleleng kembali melahirkan talenta muda penuh inspirasi.
Mereka adalah Putu Cista Pramitha Dewi dan Ketut Andika Pratama Dwi Payana, pasangan Jegeg dan Bagus Buleleng 2025.
Bagi Cista dan Andika, gelar Jegeg Bagus bukan sekadar simbol prestise, melainkan ruang nyata untuk bergerak, bersuara, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Andika mengawali langkahnya dari ajang Putra Putri SMA Negeri 1 Singaraja. Dari sana, ia dipercaya mewakili sekolah hingga lolos ke tingkat kabupaten.
Seleksi ketat sejak Desember 2024 akhirnya membawanya ke panggung Grand Final 22 Maret 2025.
“Awalnya hanya karena tanggung jawab, tapi semakin dijalani saya menemukan motivasi baru. Ternyata saya bisa, dan syukurnya diberi kesempatan menjadi Bagus Buleleng 2025,” ungkap Andika.
Sementara itu, Cista merupakan siswa SMAN Bali Mandara. Dia sudah lebih dulu aktif sebagai Duta Anak Buleleng 2024 hingga dipercaya melangkah ke tingkat provinsi.
Pengalaman advokasi pendidikan yang ia jalankan menjadi modal berharga untuk menapaki Jegeg Bagus.
“Saya ingin advokasi yang sudah saya jalankan bisa menjangkau lebih banyak orang. Jegeg Bagus Buleleng menjadi wadah tepat untuk itu,” jelasnya.
Perjalanan keduanya tentu tak mulus. Cista mengakui manajemen waktu antara sekolah, advokasi, dan seleksi adalah tantangan terbesar.
“Untungnya guru dan teman sekolah selalu mendukung,” ujarnya.
Sedangkan bagi Andika, menjaga energi sekaligus menghadapi ekspektasi tinggi selama proses pemilihan adalah ujian tersendiri.
Sebagai duta, mereka sepakat bahwa pariwisata dan budaya Buleleng tidak bisa dipisahkan.
“Pariwisata kita lahir dari tradisi. Kalau ingin kembangkan pariwisata, budaya harus diperkuat dulu,” tegas Andika.
Andika juga menggagas program mitigasi bencana struktural di destinasi wisata.
Ia mendorong pemasangan plang evakuasi, titik kumpul, hingga papan informasi di lokasi rawan bencana seperti Air Terjun Gitgit dan Pantai Kerobokan.
Program ini bahkan meraih predikat Best Social Project tingkat provinsi.
“Tujuannya agar wisatawan tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi. Jadi wisata di Buleleng tidak hanya indah, tapi juga aman,” jelasnya.
Sementara Cista fokus pada mitigasi non-struktural berupa edukasi literasi bencana bagi anak-anak dan remaja.
“Edukasi menjadi kunci agar masyarakat siap menghadapi bencana,” tandasnya.
Selain bencana, keduanya menyoroti isu lingkungan. Menurut mereka, generasi muda kini semakin dekat dengan tren green tourism dan eco tourism, sehingga kesadaran menjaga kebersihan dan kelestarian alam harus terus digencarkan.
Tak hanya itu, budaya juga harus berjalan beriringan dengan teknologi. Mulai dari promosi pariwisata lewat media sosial, hingga inovasi modern seperti penggunaan QRIS untuk dana punia di pura.
“Budaya dan modernisasi tidak bisa bertolak belakang, justru harus berjalan beriringan,” tegas Andika.
Cista dan Andika bertekad menjadi duta yang tidak hanya mempromosikan pariwisata, tetapi juga menjadi pelopor perubahan positif bagi anak muda.
“Kami bukan hanya duta pariwisata, tapi juga pelopor bagi generasi muda Buleleng,” tutup Cista. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya