SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Warga di Kabupaten Buleleng, Bali, meminta pemerintah mengevaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah dilaksanakan kepada siswa.
Program tersebut dinilai pemborosan anggaran. Banyak makanan yang tidak terserap, sehingga terkesan mubazir.
Desakan untuk melakukan evaluasi program mencuat, setelah rentetan peristiwa yang berkaitan dengan pemberian makan siang gratis di Buleleng mencuat.
Masalah MBG di Buleleng mencuat setelah viral di media sosial porsi makanan yang dianggap tidak layak.
Siswa di SDN 1 Baktiseraga, Buleleng, mendapat seporsi makan siang yang dinilai tidak wajar. Porsi makanan terdiri dari nasi, batang kangkung dengan toge, sebutir bakso, dan sepotong tahu.
Gegara hal tersebut, sejumlah netizen pun ikut angkat bicara. Ada yang mengeluhkan jika lauk yang diberikan ada yang basi.
Banyak pula yang mengeluhkan jika makanan yang diberikan kepada siswa terasa hambar, sehingga siswa enggan mengonsumsi makanan tersebut.
Menyusul hal tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) bahkan harus melakukan penghentian sementara terhadap operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Pemaron.
Tak heran bila sejumlah masyarakat mendesak agar pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) mengevaluasi program MBG.
Salah seorang warga Buleleng yang berani angkat bicara terkait MBG adalah Topan Undaharta, warga yang mukim di kawasan Kelurahan Banyuasri, Singaraja.
Topan mengaku merasa sayang dengan anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah terkait program MBG.
Sebab ia sering menerima informasi apabila anaknya kurang berselera dengan menu yang diberikan.
“Pernah juga menu yang dikirimkan itu terlambat, sampai tidak disempat dibagikan. Akhirnya nggak dimakan. Jadinya banyak yang terbuang,” ungkapnya.
Topan pun mendesak agar pemerintah mengevaluasi lagi program tersebut. Kalau toh program harus dilaksanakan, ia meminta sasaran penerima disesuaikan.
“Menurut saya sih lebih baik sasarannya ke masyarakat yang kurang mampu. Kalau diberikan ke mereka, rasanya bukan hanya anak-anak saja dapat makanan bergizi. Orang tuanya pun dapat,” ujarnya.
Tapi bila program itu menyasar kepada warga miskin, Topan wanti-wanti agar pemerintah benar-benar melakukan verifikasi dan validasi data warga miskin.
“Karena kadang-kadang banyak yang ngotot masuk data warga miskin, padahal kondisi aslinya sudah mampu,” ujarnya.
Asal tahu saja, sepekan belakangan masyarakat Buleleng dibuat heboh dengan porsi MBG yang dinilai tidak layak.
Porsi tersebut terungkap dari hidangan yang disajikan kepada siswa di SDN 1 Baktiseraga. BGN pun memutuskan menghentikan sementara operasional SPPG tersebut.
Hingga kini tercatat ada 10 titik SPPG yang beroperasi di Buleleng. Yakni SPPG Buleleng Banjar Dencarik, SPPG Buleleng Banjar Temukus, SPPG Buleleng Sukasada Pancasari, SPPG Buleleng Seririt Seririt, SPPG Buleleng Buleleng Kaliuntu, SPPG Buleleng Buleleng Kampung Anyar, dan SPPG Buleleng Sawan Sangsit.(*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya