SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Kecamatan Tejakula di Kabupaten Buleleng, Bali, diprediksi mengalami kekeringan ekstrem dalam periode 10–20 Oktober.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan wilayah tersebut masuk dalam kategori awas setelah lebih dari 60 hari atau dua bulan berturut-turut, tanpa hujan.
Kondisi tersebut mengindikasikan terjadinya kekeringan meteorologis, yakni fase kering berkepanjangan akibat minimnya curah hujan selama periode musim kemarau.
“Kami tetap memantau situasinya dan sudah melakukan koordinasi dengan pemerintahan di wilayah Kecamatan Tejakula,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, Putu Ariadi Pribadi.
Berdasarkan peta potensi bencana BPBD Buleleng, sejumlah wilayah di Buleleng juga terancam mengalami kekeringan tahun ini.
Adapun wilayah yang rawan kekeringan yakni 9 desa di Kecamatan Gerokgak, 5 desa di Kecamatan Busungbiu, 4 desa di Kecamatan Tejakula, 1 desa di Kecamatan Kubutambahan, dan 1 desa di Kecamatan Sukasada
Meski sudah ada peringatan kekeringan ekstrem, BPBD mencatat belum ada permintaan distribusi air bersih dari wilayah terdampak.
Hingga pertengahan Oktober, hanya Desa Sinabun, Kecamatan Sawan, yang mengajukan bantuan air bersih.
Namun permintaan itu bukan karena kekeringan, melainkan karena instalasi PAM desa sedang diperbaiki.
Selain itu pada saat yang bersamaan, desa setempat juga tengah menggelar piodalan. Sehingga konsumsi air bersih meningkat.
“Pada 6 Oktober kami menyalurkan 5.000 liter air, dan pada 9 Oktober tambahan 20.000 liter. Total 25.000 liter kami distribusikan untuk mendukung pelaksanaan piodalan,” jelas Ariadi.
BPBD menghimbau masyarakat, agar tetap waspada terhadap potensi kekeringan ekstrem. Kemudian mengatur penggunaan air bersih secara bijak, utamanya selama periode kemarau. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya