SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Program penataan kawasan Kota Singaraja, khususnya titik nol Singaraja dan kawasan heritage di Singaraja mendapat perhatian dari berbagai pihak.
Para intelektual hindu yang tergabung dalam wadah organisasi, mulai dari mahasiswa, pemuda, dan penyuluh agama, juga turut menyoroti hal tersebut.
Hal itu terungkap dalam forum Kelompok Diskusi Asyik Intelektual Hindu (KEDASIH) yang digelar di wantilan Pura Agung Jagatnatha Singaraja, Ju,mat (20/12/2025) malam.
Untuk mengupas rencana penataan titik nol, para intelektual muda Hindu di Buleleng menghadirkan Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Buleleng, I Putu Adiptha Ekaputra.
Dalam forum tersebut, mereka meminta paparan dari pemerintah terkait rencana penataan kawasan.
Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna mengatakan, penataan titik nol Kota Singaraja tidak bisa dipisahkan dengan penataan kawasan heritage.
Menurutnya di sekitar titik nol juga terdapat peninggalan sejarah kolonial. Ia menilai penataan cukup penting, karena Buleleng memiliki kekayaan bangunan bersejarah yang berbeda dibandingkan daerah lain di Bali.
“Penataan titik Nol Kota Singaraja ini merupakan serta upaya pelestarian kawasan bersejarah,” kata Supriatna.
Kepala Dinas PUTR Buleleng, I Putu Adiptha Ekaputra menyebut kawasan Tugu Singa Ambara Raja merupakan kawasan yang memiliki nilai sejarah panjang sebagai pusat aktivitas dan pintu gerbang ekonomi Buleleng pada masa lalu. Sehingga perlu ditata secara terencana dan berkelanjutan.
“Singaraja dikenal sebagai kota tua yang menyimpan berbagai bangunan bersejarah, seperti gardu-gardu peninggalan di Kampung Tinggi, kawasan Peguyangan, Kampung Bugis, jembatan lengkung di eks Pelabuhan Buleleng, hingga Kantor Bupati Buleleng dengan arsitektur Belanda,” ujar Adiptha.
Penataan ditargetkan bisa dimulai pada Januari 2026 dan bisa tuntas pada Juli 2026.
Selain itu sejumlah infrastruktur seperti kabel listrik dan kabel fiber optik juga akan ditanam di bawah tanah agar tata kota lebih rapi.
Asal tahu saja, Kelompok Diskusi Asyik Intelektual Hindu menjadi ruang dialog membahas isu-isu strategis daerah.
Kegiatan tersebut dipelopori Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Buleleng, I Kadek Satria.
Forum itu menjadi wadah pertukaran gagasan kritis terkait arah pembangunan Buleleng.
KEDASIH terselenggara melalui kolaborasi dengan organisasi kepemudaan Hindu, yakni PC KMHDI Buleleng, DPC Prajaniti, dan DPK Peradah. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya