SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Buleleng mulai merancang buku resep Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya standarisasi menu sekaligus memetakan selera penerima manfaat di berbagai wilayah.
Seluruh menu MBG yang selama ini disajikan akan dihimpun dan didokumentasikan dalam satu buku.
Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Buleleng, Rusdianto mengatakan, setiap menu MBG sebenarnya telah tercatat lengkap. Mulai dari bahan baku, takaran, hingga kandungan gizinya. Data tersebut kini tengah disiapkan untuk diolah menjadi buku resep.
“Semua menu itu sebenarnya sudah terdokumentasi. Tinggal kita olah nanti mau dibuat versi digital atau dicetak, masih kita cari alternatif terbaik,” ujarnya.
Baca Juga: Selalu Merugi, Cok Krisna Tetap Pertahankan Seluruh Outlet di Bali Utara
Rusdianto menjelaskan, pencatatan menu dilakukan secara rutin oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), terutama ketika ada menu baru yang disajikan.
Catatan tersebut menjadi dasar penting agar menu MBG tetap terkontrol dari sisi kualitas dan nilai gizi.
Pada tahap awal, seluruh menu MBG akan dihimpun tanpa seleksi. Namun ke depan, setiap SPPG akan diminta menentukan menu favorit sebagai bahan evaluasi bersama.
“Dari buku menu ini nanti kita bisa saling tahu menu yang disukai atau kurang diminati. Itu bisa jadi pertimbangan antar-SPPG dalam menyusun menu berikutnya,” jelas pria asal Seririt, Buleleng ini.
BGN Buleleng juga mencatat adanya perbedaan kecenderungan selera antara wilayah pedesaan dan perkotaan, meski pengamatan tersebut belum dikaji secara ilmiah.
Berdasarkan temuan di lapangan, masyarakat di desa cenderung menyukai menu sederhana.
“Di desa itu lebih suka menu seperti lalapan, telur ceplok, ayam goreng. Sederhana tapi disukai,” katanya.
Sebaliknya, di wilayah perkotaan, menu yang diminati cenderung mengarah ke makanan modern atau kekinian. Beberapa di antaranya seperti chicken katsu, mi, hingga burger. Bahkan, permintaan menu mi sempat cukup tinggi.
“Pernah juga kami sajikan mi, karena mitra dapur memang bisa membuat sendiri dan gizinya sudah ditakar. Tapi sempat diminta dikurangi karena ada anggapan mi itu tidak sehat,” ungkap Rusdianto.
Meski begitu, ia menegaskan seluruh menu MBG dimasak langsung di dapur SPPG dan telah melalui penghitungan nilai gizi sesuai standar.
Ke depan, buku resep MBG diharapkan menjadi pedoman bersama agar menu tetap variatif, bergizi, dan sesuai selera penerima manfaat di masing-masing wilayah. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya