SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Fenomena perayapan tanah atau soil creep yang terjadi di Banjar Dinas Sorga, Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali, mulai mendapat perhatian serius.
Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III memasang alat seismograf portable di sejumlah titik lahan warga, pada Jumat (6/3/2026).
Alat tersebut dipasang untuk memantau pergerakan tanah selama beberapa hari ke depan.
Hasil pengamatan nantinya akan digunakan untuk memastikan penyebab pasti fenomena tanah merayap yang telah berdampak pada belasan kepala keluarga di wilayah tersebut.
Peristiwa pergerakan tanah ini sebelumnya dilaporkan warga terjadi pada 11 Februari dan kembali muncul pada 27 Februari 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, I Gede Suyasa mengatakan, pihaknya kini masih berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait untuk melakukan kajian teknis di lapangan.
Menurutnya, BPBD hanya melakukan pendampingan di lapangan, sementara analisis ilmiah akan dilakukan oleh tim ahli.
“Kami berkoordinasi dengan para ahli yang berwenang untuk memastikan dampak perayapan tanah di Lokapaksa. Kami hanya mendampingi, nanti hasil investigasi dan pemantauan langsung di lapangan akan dibahas bersama dari tim BBMKG, ahli geologi dan juga tim dari Undiksha Singaraja,” jelasnya.
Salah satu warga terdampak, Luh Tilem, mengaku pertama kali merasakan kejadian tersebut saat hujan deras mengguyur wilayahnya pada malam 11 Februari sekitar pukul 00.00 WITA.
“Pas hujan malam tanggal 11 Februari sekitar jam 12.00 wita. Mekeleped terus bangun cari-cari sesuatu yang jatuh, pagi setelah bangun tidur sudah mendapati teras amblas. Pas itu saya sendiri, suami nginep di rumah anak di hulu. Di teras saja rusak ada tembok cerah sedikit. Setelah kejadian saya tidur di luar buat bedeng sederhana. Saya di rumah bersama suami dan anak,” tuturnya.
Perbekel Lokapaksa, Putu Dodik Tryana menjelaskan, pihak desa telah mendata kerusakan yang terjadi dan melaporkannya kepada BPBD Buleleng.
Ia menyebutkan hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi hampir di seluruh wilayah Bali diduga menjadi pemicu awal pergerakan tanah di wilayah tersebut.
“Dalam satu malam itu tiga rumah ini terdampak cukup besar. Kalau retakan lain juga sampai lima sampai enam rumah warga,” ujarnya.
Ia menambahkan, fenomena perayapan tanah seperti ini baru pertama kali terjadi di wilayah tersebut.
Saat ini tercatat sedikitnya empat kepala keluarga mengalami dampak paling parah, sementara kerugian material masih dalam proses pendataan.
Di sisi lain, Pemkab Buleleng melalui Dinas Sosial telah menyalurkan bantuan kebutuhan dasar bagi warga terdampak.
Kepala Dinas Sosial Buleleng, I Putu Kariaman Putra mengatakan, bantuan yang disalurkan berupa perlengkapan sandang, kasur, hingga tempat tidur lipat untuk warga yang rumahnya terdampak.
“Kami memfasilitasi pertama kebutuhan dasar termasuk kebutuhan yang berkaitan dengan sandang, pakaian, kasur, valt bed lengkap dengan keperluan jika warga menerima musibah bencana,” jelasnya.
Ia menambahkan, ketersediaan logistik kebencanaan di gudang Dinas Sosial selalu disiapkan untuk menghadapi situasi darurat. Penyaluran bantuan juga dilakukan dengan berkoordinasi bersama BPBD serta Dinas Sosial Provinsi Bali.
Kariaman menyebutkan sepanjang tahun ini jumlah kejadian bencana di Buleleng tergolong cukup tinggi, mulai dari tanah longsor hingga pohon tumbang.
Saat ini warga masih menunggu hasil pemantauan dari tim ahli untuk memastikan penyebab pasti fenomena perayapan tanah tersebut sekaligus menentukan langkah penanganan selanjutnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya