SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Di tengah gencarnya program Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) oleh Pemerintah Provinsi Bali, Desa Baktiseraga, Kabupaten Buleleng, Bali, justru telah lebih dulu bergerak.
Melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Baktiseraga Bersih, desa ini berhasil memangkas timbunan sampah secara signifikan.
Sebelum memiliki TPS3R, persoalan sampah sempat menjadi keluhan serius warga. Pada 2017 hingga 2018, keberadaan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) memicu protes karena bau menyengat dan kondisi yang dinilai jorok serta berdampak pada kesehatan.
“Sampah memang menjadi persoalan yang tidak mudah ditangani. 2020 kami dapat bantuan TPS3R, kami kembangkan juga dengan manajemen yang kuat di dalamnya,” ujar Perbekel Desa Baktiseraga, I Gusti Putu Armada.
Kunci keberhasilan pengelolaan sampah di desa ini terletak pada sistem dan manajemen yang jelas.
TPS3R dikelola empat tenaga yang digaji desa, dengan pola kerja terintegrasi antara pemerintah desa, masyarakat, dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kartika Lestari.
Dalam praktiknya, masyarakat diwajibkan memilah sampah sejak dari rumah. BUMDes kemudian menyediakan layanan pengangkutan sampah berbayar. Jika sampah tidak dipilah, petugas tidak akan mengangkutnya.
”Intinya mau tidak kerja sama pilah sampah. Kalau pilah di desa, tidak akan pernah habis. Tentu tidak mudah, karena banyak hal yang harus kami perbaiki. Ketika kami lakukan itu, sudah dirasakan perubahannya,” jelas Armada.
Dulu, volume sampah di desa ini mencapai dua hingga tiga truk per hari, bahkan meningkat saat hari raya.
Kini, sistem pengelolaan berbasis sumber membuat sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA) jauh berkurang.
Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos berbasis osaki yang dikelola langsung oleh TPS3R.
Hasilnya mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp2 juta hingga Rp 3 juta per bulan yang dikelola BUMDes untuk operasional. Sementara sampah plastik ditabung melalui bank sampah bekerja sama dengan pihak swasta dan pengepul.
Dengan sistem ini, hanya sampah residu yang dikirim ke TPA Bengkala. Bahkan, jumlahnya kini tinggal sekitar 35–40 persen dari total sampah.
”Kami masih kirim sampah ke TPA Bengkala, tapi itu residu saja. Kami belum mampu mengolah mandiri, karena masih terkendala alat di TPS3R,” ungkapnya.
Meski menunjukkan hasil positif, pengelolaan sampah di Baktiseraga masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan anggaran, peralatan, hingga luas lahan.
TPS3R yang ada saat ini hanya berdiri di atas lahan empat are, padahal idealnya membutuhkan sekitar sepuluh are agar pengelolaan lebih maksimal.
Selain itu, desa juga hanya memiliki dua mesin pencacah dan beberapa armada pengangkut, namun dinilai masih perlu penambahan untuk mendukung operasional.
Ke depan, tantangan terbesar adalah meningkatkan kesadaran masyarakat agar tetap konsisten memilah sampah dari sumbernya.
”Kedepan tinggal tingkatkan kualitas ke bawah saja. Minta peran aktif masyarakat. Kalau masyarakat tidak peduli, maka desa tidak bisa bergerak,” tegas Armada. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya