Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Berawal dari Telepon Dua Menit, Jurnalis Radar Buleleng Kini Belajar di Beijing

Eka Prasetya • Jumat, 15 Mei 2026 | 07:56 WIB
PENCAKAR LANGIT: Suasana di Kota Beijing, Tiongkok. Kota ini dipenuhi dengan gedung bertingkat. Tidak ada kabel membentang yang mengganggu pemandangan kota. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
PENCAKAR LANGIT: Suasana di Kota Beijing, Tiongkok. Kota ini dipenuhi dengan gedung bertingkat. Tidak ada kabel membentang yang mengganggu pemandangan kota. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

RadarBuleleng.id - Telepon itu datang tiba-tiba pada Jumat (20/3/2026) siang lalu. Di ujung sambungan, suara Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Bali, Djoko Heru Setiyawan terdengar tergesa-gesa.

“Eka, fasih nggak Bahasa Inggris?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi justru membuat saya mendadak gugup. 

Maklum, kemampuan Bahasa Inggris saya lebih banyak sebatas memahami percakapan, bukan aktif berbicara. Saya pun menjawab sejujurnya.

“Pasif saja, Mas,” jawab saya.

Tak lama kemudian, pertanyaan berikutnya muncul. Tentang skor TOEFL.

Saya sempat tertawa kecil sendiri. Setahun sebelumnya, saat menempuh pendidikan magister di Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa, saya memang pernah mengikuti tes TOEFL. Nilainya? Jauh dari kata istimewa.

Namun di luar dugaan, Mas Djo - begitu saya biasa menyapanya - justru meminta saya mengirim CV dan sertifikat TOEFL. 

Katanya, ada program kunjungan media ke Tiongkok dan nama saya akan didaftarkan.

Percakapan itu bahkan tak sampai dua menit. Setelah telepon ditutup, saya sama sekali tak menaruh harapan besar. 

Dengan kemampuan Bahasa Inggris seadanya dan pengalaman jurnalistik yang biasa-biasa saja, rasanya sulit membayangkan bisa lolos program internasional.

Formulir Mendadak dan Kabar Tak Terduga

Lima hari berlalu. Pesan WhatsApp dari Mas Djo kembali masuk. Kali ini saya diminta mengisi formulir dari Konsulat Jenderal Tiongkok di Bali. 

Waktunya mepet, hanya sehari. Saya isi sebisa mungkin, lalu kembali menjalani rutinitas biasa sebagai jurnalis di Radar Buleleng.

Sampai akhirnya, Jumat (24/4/2026) pagi, telepon lain datang. Kali ini dari Erika, staf Konsulat Tiongkok di Bali.

“Selamat Pak Eka, Anda lolos mengikuti program kunjungan media ke Tiongkok,” ujar Erika dari balik sambungan telepon.

Saya terdiam beberapa detik. Antara percaya dan tidak. Antara senang dan bingung.

Senang karena untuk pertama kalinya mendapat kesempatan pergi ke negeri orang. Bingung karena satu hal sederhana, saya tak bisa Bahasa Mandarin.

Malam harinya, kabar itu saya sampaikan kepada keluarga. Istri dan putri saya hanya diam sambil menahan air mata. 

Sementara putra saya yang masih duduk di kelas 2 SD justru terlihat penasaran.

“Tiongkok itu di mana?” tanyanya polos.

Sejak saat itu, persiapan dimulai. Medical check up, pengurusan visa, hingga membeli sunscreen untuk menghadapi musim panas di Tiongkok pada akhir Juni nanti.

Jurnalis Bali Pertama di Program CIPCC

Pada Rabu (29/4/2026), saya berkesempatan bertemu langsung dengan Konsul Jenderal Tiongkok di Bali, Zhang Zhisheng di Denpasar.

Sambutannya hangat. Ia menjelaskan, program China International Press Communication Center (CIPCC) sebenarnya sudah berjalan sejak 2014. Namun baru tahun ini ada jurnalis asal Bali yang berhasil ikut.

“Ini kesempatan besar. Mudah-mudahan setelah ini semakin banyak jurnalis Bali bisa ikut,” ujarnya.

Program CIPCC sendiri digagas China Public Diplomacy Association (CPDA). Setiap tahun, mereka mengundang ratusan jurnalis dari berbagai negara berkembang untuk tinggal dan belajar langsung di Tiongkok selama sekitar tiga bulan.

Mulai dari sistem media, budaya, pendidikan, perdagangan, hingga perkembangan teknologi Tiongkok.

“Nanti juga ada kunjungan ke beberapa provinsi. Jangan khawatir, Tiongkok aman,” kata Zhang sambil tersenyum.

Direktur Jawa Pos Radar Bali, Justin M. Herman juga sempat memanggil saya sebelum keberangkatan.

Pesannya singkat, tetapi membekas. “Belajar yang banyak di sana,” katanya.

Tujuh Jam Pertama Menuju Negeri Tirai Bambu

Minggu (15/5/2026) malam, saya menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai. Ditemani ayah mertua dan istri, saya melaju di Jalan Raya Singaraja-Denpasar menuju bandara.

Perjalan dimulai pukul 18.00 WITA. Perlahan saja. Sepanjang perjalanan arus lalu lintas ramai lancar.

Saya sampai di bandara pukul 21.30 WITA. Counter check-in belum dibuka, alhasil saya harus menunggu di Terminal Keberangkatan Internasional bandara.

Pukul 22.00 WITA, saya memeluk istri. Berpamitan menuju ke Beijing. Ketika menuju counter check in, saya menimbang koper.

Alamak, overweight! Dengan panik, saya menelpon istri saya. Dengan bergegas kami berdua membongkar koper dan menata ulang barang bawaan.

Beberapa pakaian diturunkan. Berat koper hanya berkurang 1,5 kilogram. Akhirnya sabun, sampo, conditioner, semua diturunkan. Akhirnya berat bisa berkurang 3 kilogram. Dengan nafas lega, saya menuju counter check in maskapai China Eastern.

Kendati dini hari, suasana Bandara Ngurah Rai cukup ramai. Ketika saya menaiki pesawat China Eastern Airlines menuju Shanghai, suasana pun cukup padat. Pesawat lepas landas pukul 00.55 WITA.

Ini penerbangan terjauh yang pernah saya lakukan. Tujuh jam di udara.

Sebagian besar waktu saya habiskan dengan tidur, mencoba menghemat energi sekaligus menenangkan pikiran.

Di dalam pesawat, bukan hanya wisatawan Tiongkok yang baru pulang dari Bali. Ada juga penumpang transit menuju Amerika, Eropa, hingga Rusia.

Shanghai memang menjadi salah satu penghubung Tiongkok dengan dunia.

Sampai di Shanghai Pudong International Airport, perasaan gugup kembali muncul. Terutama saat memasuki area imigrasi. 

Beberapa penumpang di depan saya diperiksa cukup lama. Petugas tampak teliti memeriksa visa dan dokumen.

Saya langsung merogoh map merah dari tas. Di dalamnya ada surat undangan, kontrak program, hingga dokumen berbahasa Mandarin dan Inggris yang sudah saya siapkan sejak di Bali.

Namun saat giliran saya tiba, petugas imigrasi hanya meminta sidik jari dan membubuhkan stempel masuk. Tak sampai lima menit. Map merah itu akhirnya kembali masuk tas tanpa sempat dibuka.

Bahasa Boleh Beda, Perjalanan Tetap Berjalan

Penerbangan berikutnya membawa saya menuju Beijing. Sekitar pukul 13.00 waktu setempat, pesawat mendarat di Beijing Capital International Airport, salah satu bandara tersibuk di dunia yang berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat kota Beijing.

Di pintu kedatangan, seorang pria memegang kertas bertuliskan logo CIPCC.

Ia tak banyak bicara. Hanya memberi isyarat tangan agar saya mengikutinya.

Saya pun berjalan di belakangnya sambil ngos-ngosan. Orang-orang di Tiongkok ternyata berjalan sangat cepat.

Perjalanan menuju pusat kota ditempuh sekitar 30 menit. Sepanjang jalan kami nyaris tak berbicara. Saya tak bisa Bahasa Mandarin. Ia juga tak fasih Bahasa Inggris.

Akhirnya, saya memilih menikmati pemandangan Beijing dari balik jendela mobil. Gedung-gedung tinggi. Jalanan lebar. Lalu lintas yang tertata. Tanpa kabel yang membentang.

Sampai akhirnya mobil berhenti di Renmin University of China, kampus bergengsi yang menjadi tempat tinggal saya bersama puluhan jurnalis dari berbagai negara selama beberapa bulan kedepan.

Di titik itu saya sadar, perjalanan ini baru saja dimulai. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#bali #tiongkok #china #buleleng