Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
LANGIT di Kota Fuyang mulai redup ketika saya menarik koper menuju Fuyang West Railway Station, Rabu sore (27/5/2026).
Perjalanan saya di Provinsi Anhui, Tiongkok, belum selesai. Setelah beberapa hari berada di Fuyang, kali ini tujuan saya bergeser ke Huangshan, kota pegunungan yang berada di sisi selatan Anhui.
Jika Fuyang identik dengan hamparan kota modern di wilayah utara, maka Huangshan menawarkan wajah berbeda.
Lebih hijau. Lebih sejuk. Dan dipenuhi perbukitan yang mengingatkan saya pada Kintamani di Bali.
Bedanya, Kintamani punya gunung kaldera. Sementara Huangshan punya jajaran perbukitan yang bernama Yellow Mountain. Soal ini, saya akan ceritakan lewat tulisan lain.
Didampingi sejumlah staf Kementerian Luar Negeri Tiongkok, saya bersama beberapa jurnalis Asia Pasifik bergerak menuju stasiun.
Dari luar, Fuyang West Railway Station lebih mirip bandara dibanding stasiun kereta api. Bangunannya besar, modern, dan dipenuhi sistem serba digital.
Kami menunggu sekitar 30 menit sebelum kereta cepat tiba. Begitu pintu kereta terbuka, seluruh penumpang langsung bergerak cepat masuk ke dalam gerbong. Maklum, kereta hanya berhenti sekitar enam menit di stasiun tersebut.
Hari itu saya untuk pertama kalinya menjajal kereta cepat di Tiongkok.
Jarak Fuyang menuju Huangshan sekitar 383 kilometer. Namun, perjalanan sepanjang itu hanya ditempuh dalam waktu tiga jam. Sebuah pengalaman yang membuat saya cukup terpukau.
Yang menarik, tak ada nomor kursi di dalam gerbong yang saya tempati. Penumpang bebas memilih tempat duduk selama kursinya kosong.
Saat kereta mulai melaju, nyaris tidak terasa getaran. Bahkan ketika melesat dalam kecepatan tinggi, suasana di dalam gerbong tetap tenang dan nyaman.
Kalaupun ada sedikit guncangan, biasanya hanya terasa saat kereta berbelok tipis.
Tepat pukul 19.13 WITA, kami tiba di Huangshan North Railway Station. Udara di kota ini terasa jauh lebih dingin dibanding Fuyang. Dari stasiun, perjalanan dilanjutkan menuju hotel yang berada di kawasan perbukitan.
Sepanjang jalan, saya seperti sedang melihat potongan suasana Kintamani. Bedanya, bukit-bukit di Huangshan tampak lebih rapat dan memanjang sejauh mata memandang. Jalannya, tentu saja lebih mulus.
Keesokan harinya, Kamis (28/5/2026), saya menghadiri forum internasional bertajuk “2026 RCEP Local Governments and Friendship Cities Cooperation (Huangshan) Forum” di Huangshan International Conference and Exhibition Centre.
Forum itu mempertemukan pemerintah daerah dari berbagai negara anggota RCEP untuk membangun kerja sama ekonomi, budaya, hingga industri.
Salah satu fokus utamanya adalah membuka peluang kerjasama sister city antara daerah di negara peserta dengan pemerintah daerah di Tiongkok.
RCEP sendiri merupakan blok ekonomi besar yang beranggotakan 10 negara ASEAN, yakni Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Selain itu ada pula negara mitra seperti Australia, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, forum ini menjadi ruang penting untuk memperkuat kerja sama kawasan.
Sekjen ASEAN, Kao Kim Hourn, mengatakan kondisi geopolitik dunia, termasuk konflik di Timur Tengah, telah memberi tekanan ekonomi yang cukup berat bagi banyak negara, termasuk ASEAN.
Karena itu, menurut dia, kolaborasi antarnegara menjadi kunci menjaga ketahanan ekonomi kawasan.
“Kerjasama perdagangan bebas antara ASEAN dengan Tiongkok akan memberikan peluang baru di bidang ekonomi dan bisnis bagi negara-negara ASEAN,” ujarnya dalam pidato forum tersebut.
Di sela konferensi, saya juga bertemu delegasi dari Indonesia. Salah satu yang cukup aktif membuka peluang kerja sama adalah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Yogyakarta kini menjajaki kerjasama sister city dengan Provinsi Anhui. Kerja sama itu diyakini bisa membuka peluang investasi, pariwisata, hingga pertukaran teknologi.
Penandatanganan Letter of Intent antara kedua provinsi menjadi sinyal awal semakin eratnya hubungan tersebut.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Yogyakarta, Ghofar Ismail, mengatakan Yogyakarta dan Anhui memiliki banyak kesamaan. Salah satunya sama-sama memiliki kekuatan di sektor heritage dan budaya.
Namun, Yogyakarta juga ingin belajar dari Anhui, terutama dalam pengembangan renewable energy dan smart agriculture.
“Yogyakarta dan Anhui sama-sama punya heritage. Kami juga ingin belajar terkait renewable energy dan smart agriculture, yang mana Anhui kuat sekali di bidang tersebut,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Yogyakarta bahkan sudah menyiapkan lahan investasi di Kabupaten Kulonprogo, tak jauh dari Yogyakarta International Airport.
Harapannya jelas. Investasi dari Anhui dan Tiongkok bisa semakin banyak masuk ke Indonesia.
“Peluang kerjasama ini sangat terbuka. Kami harap investasi dari Anhui maupun Tiongkok bisa semakin banyak masuk,” demikian Ghofar. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya