Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Menaklukkan Tembok Besar Tiongkok: Berhenti di Menara Kedua dan Menyadari Usia Tak Bisa Diajak Kompromi

Eka Prasetya • Jumat, 5 Juni 2026 | 04:45 WIB
KEAJAIBAN DUNIA: Suasana Tembok Besar Tiongkok di Juyongguan, Beijing. Titik ini salah satu delapan lokasi yang dibuka bagi wisatawan. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
KEAJAIBAN DUNIA: Suasana Tembok Besar Tiongkok di Juyongguan, Beijing. Titik ini salah satu delapan lokasi yang dibuka bagi wisatawan. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

ADA satu kalimat yang hampir selalu muncul ketika seseorang berkunjung ke Beijing. "Kalau belum ke Tembok Besar Tiongkok, berarti belum benar-benar ke Beijing."

Kalimat itu mungkin terdengar klise. Namun sesampainya di Juyongguan, salah satu gerbang paling terkenal dari Tembok Besar Tiongkok, saya mulai memahami mengapa tempat ini menjadi destinasi wajib bagi wisatawan dari seluruh dunia.

Rabu (3/6/2026) pagi, bersama puluhan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC), saya berangkat dari pusat Kota Beijing menuju kawasan pegunungan di utara kota. 

Dalam rombongan itu hadir jurnalis dari Asia Pasifik, Timur Tengah, Eurasia, hingga Afrika. 

Tujuannya sama: menyaksikan secara langsung salah satu keajaiban dunia yang selama ini hanya terlihat di buku pelajaran, film dokumenter, atau layar televisi.

Sekitar satu jam perjalanan, bentangan tembok raksasa itu mulai terlihat membelah lereng pegunungan. 

Dari kejauhan, bentuknya tampak seperti naga batu yang meliuk mengikuti kontur bukit.

Hari itu kami mengunjungi Juyongguan, salah satu dari delapan titik akses Tembok Besar yang dibuka untuk wisatawan. 

Lokasinya sekitar 60 kilometer dari pusat Beijing dan menjadi salah satu titik yang paling mudah dijangkau.

"Lokasi ini adalah salah satu yang paling terkenal dan paling mudah diakses di Beijing," kata Alan Bhu, pemandu yang mendampingi rombongan kami.

Bukan tanpa alasan Juyongguan begitu populer. Selain berada di lokasi strategis, kawasan ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.

Pada masa lampau, gerbang ini menjadi salah satu benteng utama yang menjaga ibu kota dari serangan musuh yang datang dari arah utara. Khususnya dari bangsa Mongolia.

Bentangan tembok sepanjang 4.142 meter itu mengelilingi celah pegunungan. Di sepanjang jalur masih berdiri menara pengawas, gerbang pertahanan, hingga sistem pintu air yang menjadi bagian dari strategi militer Tiongkok kuno.

Alan menjelaskan, sejarah Tembok Besar Tiongkok membentang lebih dari 2.000 tahun. Berbagai dinasti silih berganti membangun, memperluas, dan memperkuat struktur pertahanan tersebut hingga menjadi seperti yang terlihat saat ini.

Di Juyongguan, jejak sejarah itu terasa begitu dekat. Salah satu peninggalan yang paling banyak diburu wisatawan adalah Yuntai atau Teras Awan, sebuah pondasi menara penyeberangan yang dibangun pada masa Dinasti Yuan antara tahun 1271 hingga 1368 Masehi.

Ukiran-ukiran kuno yang masih terawat membuat kawasan ini terasa seperti mesin waktu yang membawa pengunjung kembali ke ratusan tahun silam.

Namun sebelum menikmati semua itu, ada satu hal yang harus dilalui setiap pengunjung: pemeriksaan keamanan yang sangat ketat.

Setiap orang wajib melewati mesin x-ray dan metal detector. Bahkan korek api yang dibawa pengunjung langsung diamankan petugas.

Alasannya sederhana namun penting. Sedikit percikan api dapat memicu kebakaran hutan, terlebih Tiongkok segera memasuki musim panas.

Larangan merokok juga diterapkan dengan sangat tegas. Saya bahkan sempat melihat seorang wisatawan lokal mendapat teguran sekaligus sanksi karena nekat merokok di area wisata. Dendanya tidak main-main, mencapai 200 yuan atau sekitar Rp 500 ribu.

Setelah melewati gerbang utama, tantangan yang sebenarnya baru dimulai.

Ribuan anak tangga menanti.

Dari bawah, jalur menuju menara-menara pengawas tampak tidak terlalu mengintimidasi. Namun kesan itu segera berubah ketika kaki mulai menapak tanjakan pertama.

Anak tangga di Tembok Besar ternyata tidak seragam. Ada yang pendek, ada yang setinggi lutut orang dewasa. 

Kemiringannya pun berbeda-beda. Beberapa bagian bahkan terasa seperti memanjat bukit batu.

Awalnya saya cukup percaya diri.

Sampai akhirnya nafas mulai terengah-engah.

Keringat bercucuran.

Jantung berdebar kencang.

Dan usia, rupanya, mulai mengingatkan bahwa tubuh tidak selalu sekuat yang dibayangkan.

Bersama beberapa rekan, saya berusaha mencapai menara berikutnya. Namun setelah tiba di menara kedua, saya memutuskan menyerah.

Bukan karena tidak mau melanjutkan perjalanan.

Tetapi saya merasa lebih bijak berhenti sebelum menjadi beban orang lain.

Saya membayangkan betapa malunya jika sampai harus dievakuasi tim penyelamat hanya karena terlalu ambisius menaklukkan Tembok Besar.

Akhirnya saya memilih duduk sejenak menikmati pemandangan pegunungan yang membentang di segala arah.

Sementara itu, beberapa rekan masih melanjutkan perjalanan menuju titik tertinggi.

Salah satunya Moiz Farouq, jurnalis asal Pakistan.

Ia berhasil mencapai menara terakhir yang berada jauh lebih tinggi.

"Seharusnya Anda tadi tidak menyerah. Setelah menara kedua jalurnya tidak terlalu terjal," katanya sambil tertawa ketika kami bertemu kembali di bawah.

Saya hanya bisa tersenyum.

Penyesalan memang selalu datang belakangan.

Meski demikian, berhenti di menara kedua ternyata tidak mengurangi rasa kagum terhadap tempat ini.

Dari titik itu saja, saya sudah bisa melihat bagaimana luar biasanya kemampuan manusia membangun benteng raksasa yang membentang melintasi pegunungan, lembah, hingga gurun selama berabad-abad.

Bagi banyak orang, berkunjung ke Tembok Besar adalah agenda wisata biasa.

Namun bagi sebagian lainnya, tempat ini adalah mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan.

Easmin Akter, jurnalis asal Bangladesh yang turut dalam rombongan kami, mengaku sudah lama memimpikan momen tersebut.

"Saat mendapat kesempatan mengikuti program CIPCC ke Tiongkok, saya selalu berharap bisa mengunjungi Tembok Besar. Ternyata harapan itu terkabul. Meski tidak sampai ke puncak, bisa berdiri di sini saja sudah menjadi mimpi yang terwujud," ujarnya.

Saya memahami perasaan itu.

Sebab ketika berdiri di atas tembok yang telah bertahan lebih dari dua milenium, menyaksikan pegunungan hijau membentang sejauh mata memandang, ada satu kesadaran yang muncul.

Tembok Besar Tiongkok bukan sekadar bangunan bersejarah.

Ia adalah pengingat tentang betapa besar tekad manusia untuk meninggalkan jejak yang mampu bertahan melampaui zaman. 

Dan bagi saya pribadi, juga pengingat bahwa lain kali harus lebih rajin olahraga sebelum mencoba menaklukkan ribuan anak tangga di salah satu keajaiban dunia. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#beijing #destinasi #wisatawan #china #buleleng