Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
Tak ada lagi genangan yang mengurung rumah-rumah warga. Tak ada lagi cerita keluarga yang harus bertahan berminggu-minggu di tengah banjir. Di Desa Baihang, Distrik Yingzhou, Provinsi Anhui, Tiongkok, kehidupan kini berjalan tenang di antara jalan-jalan lebar, rumah-rumah tertata, dan hamparan lahan pertanian yang produktif.
Padahal, belasan tahun lalu, desa itu dikenal sebagai kawasan langganan banjir dan kemiskinan.
Perubahan besar itu, menurut warga setempat, bermula dari kunjungan seorang pejabat tinggi Tiongkok pada 8 April 2011. Sosok itu adalah Xi Jinping, yang saat itu masih menjabat Wakil Presiden Tiongkok dan anggota Komite Tetap Biro Politik Partai Komunis Tiongkok.
Dalam rangkaian program China International Press Communication Center (CIPCC), para jurnalis dari kawasan Asia Pasifik, termasuk Radar Buleleng, berkesempatan mengunjungi desa yang kini menjadi salah satu model pembangunan pedesaan di Negeri Tirai Bambu tersebut.
Nama Xi Jinping masih begitu lekat dalam ingatan warga Baihang. Bahkan, bangunan sekretariat Partai Komunis Tiongkok di desa itu kini menjadi ruang dokumentasi yang menyimpan berbagai jejak kunjungannya.
Bukan tanpa alasan.
Saat berkunjung 15 tahun silam, Xi Jinping menghabiskan waktu sekitar 97 menit di Baihang. Waktu yang mungkin terasa singkat bagi banyak orang, tetapi menjadi titik balik bagi ribuan warga desa.
Kala itu, Baihang berada dalam kondisi yang jauh dari kata sejahtera.
Desa yang berada di tepian Danau Barat Anhui tersebut kerap dilanda banjir. Hampir setiap tahun air menggenangi pemukiman warga.
Dalam siklus sekitar satu dekade, banjir besar bahkan bisa bertahan berminggu-minggu hingga lebih dari sebulan.
Masyarakat setempat menjulukinya sebagai guan di atau dasar guci. Sebutan yang menggambarkan kondisi desa yang selalu tergenang dan lembab layaknya bagian dasar sebuah tembikar.
Akibatnya, kemiskinan menjadi persoalan yang sulit diputus.
Saat datang ke Baihang, Xi Jinping tidak hanya mendengar laporan dari pejabat setempat. Ia turun langsung ke rumah-rumah warga. Memeriksa kondisi toilet, kualitas air bersih, hingga perlengkapan rumah tangga yang dimiliki masyarakat.
Ia juga berdialog langsung dengan warga untuk mengetahui berbagai kesulitan yang mereka hadapi.
Tak lama setelah kunjungan itu, perubahan besar mulai berlangsung.
Pemerintah membangun kawasan permukiman baru yang lebih aman dari ancaman banjir. Rumah susun didirikan. Sekolah dibangun. Pusat komunitas dan fasilitas ekonomi disiapkan. Infrastruktur pendukung pun dibangun secara masif.
Jalan-jalan desa diperlebar dan diaspal. Saluran air dan sungai buatan dibangun mengelilingi kawasan permukiman baru. Selain berfungsi sebagai sistem irigasi pertanian, infrastruktur tersebut juga menjadi benteng pengendali banjir.
Hasilnya terasa nyata.
Selama lebih dari satu dekade terakhir, warga Baihang tidak lagi mengalami banjir yang dulu menjadi momok tahunan.
*"Pemukiman kami yang lama di tepi barat sudah menjadi danau. Di tempat yang baru hidup kami sekarang lebih sejahtera, masyarakat juga lebih bahagia. Ekonomi kami tumbuh dengan sangat baik,"* ujar Sekretaris Partai Komunis Tiongkok Desa Baihang, Yan Yongzhi.
Saat ini Baihang memiliki luas sekitar 6,5 kilometer persegi dengan jumlah penduduk mencapai 4.783 jiwa yang tersebar dalam 956 kepala keluarga.
Sekitar 1.000 warga bekerja di sektor manufaktur maupun instansi pemerintahan di kota. Namun mereka tetap memilih tinggal di desa yang kini jauh lebih nyaman dibandingkan masa lalu.
Pertumbuhan ekonomi pun terus meningkat.
Pada 2025, pendapatan kolektif desa mencapai 1,2 juta yuan atau sekitar Rp 3,34 miliar. Sementara nilai aset kolektif desa telah menembus sekitar Rp 31,6 miliar.
Ketika rombongan jurnalis berkunjung, suasana desa terlihat tenang dan tertata.
Beberapa petani tampak sibuk memilah daun bawang yang akan dikirim ke kota. Seorang lansia duduk santai di depan rumahnya. Di sudut lain, sejumlah perempuan lanjut usia bercengkrama di depan toko kecil.
Namun di balik kemajuan itu, perhatian terhadap kelompok rentan tetap menjadi bagian penting pembangunan desa.
Tak jauh dari kawasan permukiman, berdiri sebuah panti jompo yang menampung para lansia sebatang kara. Sebagian tidak memiliki keluarga. Sebagian lainnya hidup sendiri karena anak-anak mereka bekerja jauh di luar provinsi.
"Kami berusaha sebaik mungkin menjaga warga kami tetap sehat, sejahtera, dan bahagia. Kami selalu bekerja sama dengan seluruh komunitas untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat di sini," kata Yongzhi.
Transformasi Baihang pun mengundang perhatian nasional.
Desa ini berhasil meraih berbagai penghargaan, mulai dari Desa Beradab Nasional, Komunitas Percontohan Pengurangan Bencana Komprehensif Nasional, Desa Percontohan Demokrasi dan Hukum Nasional, hingga Unit Percontohan Pembangunan Komunitas Bahagia Nasional.
Meski telah meraih banyak prestasi, Baihang belum berhenti berbenah.
Pemerintah desa kini fokus mengembangkan ekonomi berbasis produk unggulan lokal. Jahe, telur bebek, dan tanaman herbal musim dingin bernama lou bo menjadi komoditas andalan yang dipasarkan ke berbagai wilayah Tiongkok.
Tak hanya menjual produk mentah, masyarakat juga mulai mengembangkan industri pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian.
"Ada beberapa produk pertanian yang kami jadikan tanaman khas, seperti jahe dan telur bebek, dan lou bo. Pengolahan produk pertanian juga kami lakukan, sehingga tidak hanya menjual produk mentah," jelas Yongzhi.
Di saat yang sama, sektor pariwisata mulai dikembangkan sebagai sumber ekonomi baru. Produk-produk desa juga dipasarkan melalui platform e-commerce untuk memperluas akses pasar.
Bagi warga Baihang, pembangunan yang mereka nikmati hari ini bukan sekadar hasil investasi infrastruktur. Mereka meyakini perubahan tersebut berawal dari perhatian yang diberikan kepada sebuah desa kecil yang dulu nyaris tenggelam oleh banjir dan kemiskinan.
"Apa yang kami lakukan semata-mata mengikuti instruksi Presiden Xi Jinping saat beliau berkunjung ke lokasi ini untuk pengembangan arah pembangunan di komunitas kami," tutup Yongzhi. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya