Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Mengunjungi Museum dan Makam Nasional. Belajar Memahami Cara Tiongkok Merawat Luka Perang

Eka Prasetya • Minggu, 14 Juni 2026 | 20:29 WIB
PENINGGALAN PERANG: Salah satu senjata perang yang dipamerkan di Western Yunnan Anti-Japanese War Memorial Museum di Kota Tengchong, Provinsi Yunnan, Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
PENINGGALAN PERANG: Salah satu senjata perang yang dipamerkan di Western Yunnan Anti-Japanese War Memorial Museum di Kota Tengchong, Provinsi Yunnan, Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

PERANG selalu meninggalkan luka. Namun tidak semua bangsa memperlakukan luka dengan cara yang sama.

Ada yang memilih melupakannya perlahan. Ada pula yang menyimpannya rapat-rapat dalam lembar sejarah. 

Tiongkok memilih jalan berbeda. Mereka merawat ingatan itu. Menjaganya tetap hidup. 

Bukan untuk membangkitkan kebencian, melainkan sebagai pengingat bahwa perdamaian tidak pernah datang dengan harga murah.

Kesan itulah yang saya dapatkan saat mengunjungi Western Yunnan Anti-Japanese War Memorial Museum di Kota Tengchong, Provinsi Yunnan, Tiongkok, pada Jumat (12/6/2026).

Perjalanan menuju kota di perbatasan barat daya Tiongkok itu tidak singkat.

Setelah mengikuti dua konferensi di Kota Kunming sehari sebelumnya, rombongan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) langsung bergegas menuju Bandara Kunming Changshui. 

Bahkan kami tidak sempat mengganti jas yang dikenakan sejak pagi.

Pesawat Kunming Airlines yang membawa kami lepas landas tepat pukul 18.45 waktu setempat. 

Sekitar satu setengah jam kemudian, pesawat mulai menurunkan ketinggian menuju Bandara Mangshi yang melayani kawasan Tengchong.

Menjelang pendaratan, sebuah pengumuman terdengar dari pengeras suara kabin.

Seluruh penumpang diminta menutup jendela pesawat.

Alasannya cukup unik. Bandara tersebut juga digunakan untuk kepentingan militer. Sesuai aturan yang berlaku di Tiongkok, seluruh jendela penumpang harus tertutup saat pesawat melintas maupun mendarat.

Bagi saya yang terbiasa bepergian di Indonesia, aturan itu terasa tidak biasa. Di sejumlah bandara yang juga digunakan militer, seperti Bandara Sultan Hasanuddin Makassar maupun Bandara Sultan Syarif Kasim II di Riau, penumpang masih dapat melihat bahkan memotret pesawat tempur dari balik jendela.

Namun setiap negara tentu memiliki cara masing-masing dalam menjaga keamanan wilayahnya.

Keesokan paginya, perjalanan membawa kami ke salah satu tempat paling bersejarah di Tengchong.

Museum yang berdiri sejak 2013 itu menyimpan lebih dari 28 ribu relik dan sekitar 10 ribu foto dokumentasi perang antara Tiongkok dan Jepang. 

Koleksi tersebut menjadikannya salah satu museum dengan benda asli peninggalan Perang Dunia II terlengkap di dunia.

Begitu memasuki bangunan utama, perhatian saya langsung tertuju pada deretan sekitar seribu helm tentara yang dipasang mengelilingi dinding museum.

Helm-helm itu bukan hanya berasal dari Tiongkok, tetapi juga dikumpulkan dari Myanmar, wilayah yang menjadi bagian penting dari jalur peperangan saat itu.

“Ada yang bilang perang antara Jepang dan Tiongkok hanya berlangsung pada perang dunia kedua. Tapi kami sebenarnya sudah berperang sejak 1931 sampai 1945, saat Jepang sudah menduduki sejumlah wilayah di Tiongkok,” kata Su Bei, pemandu yang mendampingi kami.

Di dalam museum, perang seolah hadir kembali dalam bentuk yang lebih sunyi.

Berbagai senjata, seragam tempur, medali penghargaan, hingga diorama pertempuran dipajang rapi. 

Masing-masing menyimpan cerita tentang masa ketika Tengchong menjadi salah satu medan tempur paling sengit di Asia.

Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah ruang khusus yang didedikasikan untuk Flying Tigers, skuad penerbang Amerika Serikat yang membantu Tiongkok menghadapi invasi Jepang.

“Tentara Amerika Serikat banyak membantu kami. Baik itu peperangan maupun dalam teknologi perang. Itu menunjukkan hubungan erat Amerika dan Tiongkok sebenarnya sudah berlangsung cukup lama,” ujar Su Bei.

Bagi banyak orang, Tengchong mungkin hanya sebuah kota kecil di dekat perbatasan Myanmar.

Namun bagi Tiongkok, kota ini memiliki makna jauh lebih besar.

Tengchong pernah jatuh ke tangan Jepang. Setelah pertempuran panjang dan berdarah, pasukan Tiongkok berhasil merebutnya kembali pada 1944. Kemenangan itu menjadi salah satu titik balik penting dalam perang melawan Jepang.

Posisinya yang berada di jalur strategis menuju Asia Tenggara dan Asia Selatan membuat Tengchong memiliki nilai militer dan geopolitik yang sangat penting kala itu.

Dari museum, kami berjalan menuju National Memorial Cemetery atau Taman Makam Nasional yang lokasinya berdampingan dengan kompleks museum. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai Guoshang Cemetery.

Meski cuaca mendung menggantung di langit Tengchong siang itu, arus pengunjung tidak pernah berhenti.

Ratusan orang datang silih berganti. Ada keluarga, pelajar, wisatawan, hingga rombongan biksu yang membawa bunga untuk berziarah.

“Setiap hari selalu ada pengunjung. Apalagi kalau libur nasional, bisa sampai 30 ribu pengunjung. Tahun lalu saja ada lebih dari 2 juta pengunjung,” ungkap Su Bei.

Tingginya jumlah pengunjung bukan hal yang mengejutkan. Selain tidak dipungut biaya masuk, kawasan tersebut telah berkembang menjadi pusat wisata sejarah yang menghidupi ekonomi warga sekitar.

Pedagang bunga, penjual souvenir, hingga pelaku usaha kecil lainnya ikut merasakan manfaat dari ramainya kunjungan.

Namun bagian yang paling membekas bagi saya justru berada di salah satu sisi kompleks makam.

Sebuah prasasti sepanjang 130 meter berdiri membentang.

Di atasnya terukir sekitar 130 ribu nama.

Mereka bukan hanya tentara. Ada martir, pejuang gerilya, tentara sekutu, hingga warga sipil yang kehilangan nyawa dalam perang.

Tak jauh dari sana terdapat 3.346 pusara pejuang, termasuk 13 makam anggota Flying Tigers asal Amerika Serikat.

Tiap tahun, keluarga para penerbang tersebut masih rutin datang berziarah.

Ribuan batu nisan tersusun rapi mengikuti kontur perbukitan. Semuanya mengelilingi menara peringatan utama yang berdiri di puncak.

Susunannya dibuat berdasarkan unit tempur dan pangkat masing-masing prajurit. Di bukit itulah abu para pejuang yang gugur dalam pertempuran pembebasan Tengchong selama 43 hari pada 1944 disemayamkan.

Di tempat itu saya memahami satu hal.

Bagi Tiongkok, perang memang meninggalkan luka yang sangat dalam.

Tetapi luka itu tidak ditutupi.

Luka itu dirawat, dikenang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai pengingat bahwa kemerdekaan memiliki harga yang mahal, dan perdamaian adalah sesuatu yang harus terus dijaga. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#beijing #museum #tiongkok #buleleng