Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
LAMPU terlihat berderet di hamparan kebun leci di Kabupaten Lingshan, Provinsi Guangxi, Tiongkok.
Awalnya saya mengira penerangan itu dipasang untuk memudahkan petani bekerja pada malam hari.
Dugaan itu keliru. Lampu-lampu tersebut ternyata menjadi salah satu senjata utama petani untuk melindungi tanaman leci dari serangan hama.
Di sinilah saya menyadari bahwa bertani di Tiongkok tak lagi sekadar soal cuaca, musim, atau keberuntungan.
Teknologi telah menjadi bagian dari keseharian petani. Bahkan untuk urusan sesederhana mengusir lalat buah.
Sabtu (13/6/2026), bersama sejumlah jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari berbagai negara Asia Pasifik, saya berkesempatan mengunjungi salah satu kebun leci modern di Lingshan County, atau Kabupaten Lingshan, wilayah yang berada di bawah administrasi Kota Qinzhou.
Lingshan dikenal sebagai salah satu sentra produksi leci terbesar di Guangxi. Buah berkulit merah itu bukan sekadar komoditas pertanian.
Leci telah menjadi bagian penting dari ekonomi masyarakat setempat. Tak heran jika perkebunan leci membentang sejauh mata memandang dengan luas mencapai ratusan ribu hektare.
Kebun yang kami kunjungi sengaja dijadikan pusat demonstrasi pertanian modern. Di sana, pengunjung bisa melihat bagaimana teknologi diterapkan dari proses budidaya hingga penyimpanan pascapanen.
Pengalaman paling menarik tentu saat mencicipi langsung berbagai varietas leci. Ada yang ukurannya hampir sebesar salak. Ada pula varietas tanpa biji yang menjadi favorit pasar premium. Rasanya manis, segar, dan nyaris tanpa rasa asam.
Namun, daya tarik utama justru bukan pada buahnya. Melainkan cara petani menjaga kualitas buah tersebut.
Menurut Wakil Kepala Dinas Pertanian dan Urusan Pedesaan Kabupaten Lingshan, Yang Jie, para peneliti menemukan bahwa hama utama tanaman leci merupakan serangga nokturnal yang aktif pada malam hari.
Alih-alih menyemprotkan insektisida secara rutin, mereka memilih pendekatan yang lebih sederhana dan ramah lingkungan: membuat serangga kehilangan orientasi.
"Kalau siang hari, serangga ini tidak muncul. Tapi kalau malam, aktif sekali. Sehingga kami pasang lampu yang terang supaya serangga itu bingung," jelas Yang Jie.
Strategi itu ternyata cukup ampuh. Paparan cahaya membuat serangga kesulitan mencari makan dan pasangan. Siklus reproduksi mereka terganggu sehingga populasi hama menurun drastis.
Hasilnya bukan hanya mengurangi kerusakan tanaman. Penggunaan pestisida juga dapat ditekan secara signifikan.
"Kami tidak perlu menyemprotkan insektisida. Sehingga kualitas organik tetap bisa dipertahankan," ujarnya.
Lampu-lampu itu biasanya mulai dinyalakan sejak matahari terbenam sekitar pukul 19.00 hingga menjelang fajar. Penerangan dilakukan sekitar satu bulan sebelum musim panen tiba.
Teknologi lain yang tak kalah menarik justru berada jauh dari kebun. Yakni di fasilitas penyimpanan buah atau cold storage.
Bagi petani buah, masa setelah panen sering kali menjadi tantangan terbesar. Buah yang tidak segera terjual berisiko membusuk. Terlebih leci termasuk buah yang terkenal mudah rusak.
Karena itulah para peneliti di Qinzhou menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari solusi.
"Kami perlu melakukan penelitian dan pengembangan selama enam tahun untuk menemukan formulasi dan teknologi penyimpanan yang tepat," kata Pakar Teknik Kota Qinzhou Prof. Cao Xuechuan.
Hasilnya cukup mengesankan. Melalui teknologi penyimpanan dengan kadar oksigen rendah, leci dapat bertahan hingga 30 hari tanpa kehilangan kesegarannya.
Bahkan setelah dikeluarkan dari ruang penyimpanan dan ditempatkan pada suhu ruangan, kualitas buah tetap mendekati kondisi saat baru dipetik.
"Tinggal dikeluarkan saja dari penyimpanan. Lalu diletakkan di suhu ruangan kurang lebih 10-20 menit, kualitasnya tetap setara dengan buah segar," ujarnya.
Penemuan itu tidak datang dengan mudah. Cao mengungkapkan satu kesalahan kecil dalam proses penyimpanan bisa membuat kulit leci mengering hanya dalam hitungan dua jam.
Namun kerja keras tersebut terbayar lunas. Kini leci Qinzhou menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan Tiongkok.
Buah tersebut rutin dikirim ke berbagai negara, termasuk Singapura dan Malaysia, dengan harga mencapai 30 yuan atau sekitar Rp75 ribu per kilogram.
Selama proses ekspor, rantai pendingin tetap dijaga agar kualitas buah tidak menurun.
"Kalau tidak begitu, buah pasti busuk," katanya.
Saat ini lebih dari 48 varietas leci tumbuh di Qinzhou dengan total produksi mencapai 160 ribu ton per tahun.
Tak hanya dijual sebagai buah segar, leci juga diolah menjadi campuran teh hingga bahan baku obat-obatan yang memberikan nilai tambah lebih tinggi bagi petani.
Keberhasilan itu menarik perhatian salah satu peserta CIPCC asal India, Saurabh Sures Kumar. Kebetulan keluarganya juga memiliki bisnis perdagangan leci di negaranya.
Menurut Saurabh, leci yang tumbuh di India diyakini berasal dari Tiongkok dan masuk melalui Jalur Sutra sekitar seabad lalu. Kini buah tersebut bahkan telah memperoleh sertifikat Indikasi Geografis karena kualitasnya yang diakui dunia.
"Rasa sebenarnya tidak jauh beda. Ada banyak hal yang bisa kami pelajari dari perkebunan leci di Tiongkok. Mudah-mudahan bisa kami aplikasikan nanti di India," ujarnya.
Di tengah perbincangan itu, pikiran saya justru melayang ke Bali. Dulu, buah leci cukup mudah ditemukan di sejumlah daerah pegunungan. Kini keberadaannya semakin jarang.
Melihat bagaimana teknologi mampu menjaga produktivitas sekaligus meningkatkan nilai ekonomi leci di Tiongkok, rasanya bukan hal yang mustahil jika praktik serupa suatu hari diterapkan di Indonesia, khususnya Bali.
Sebab terkadang, masa depan pertanian tidak selalu lahir dari alat yang rumit. Kadang cukup dari sebuah lampu yang menyala di tengah kebun pada malam hari. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya