Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Beijing Bersih Tanpa Sampah Berserakan. Rahasianya: Disiplin Memilah Sejak dari Rumah

Eka Prasetya • Selasa, 23 Juni 2026 | 10:01 WIB
PILAH SAMPAH: Salah satu lokasi pemilahan sampah di Renmin University of China, Beijing, Tiongkok. Tong pembuangan sampah di Beijing, dipisahkan ke dalam empat jenis tong. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
PILAH SAMPAH: Salah satu lokasi pemilahan sampah di Renmin University of China, Beijing, Tiongkok. Tong pembuangan sampah di Beijing, dipisahkan ke dalam empat jenis tong. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

PAGI baru saja menyapa Kota Beijing. Ribuan orang bergegas menuju tempat kerja, mahasiswa berlalu-lalang menuju kampus. 

Namun di tengah hiruk-pikuk kota berpenduduk lebih dari 20 juta jiwa itu, ada satu hal yang sulit ditemukan: sampah berserakan.

Selama beberapa pekan berada di Beijing, saya lebih sering berjalan kaki untuk beraktivitas. Ke supermarket hanya sekitar lima menit berjalan kaki. 

Jika ingin mencari suasana hijau di Yuanmingyuan Park, cukup berjalan sekitar setengah jam. Bahkan pusat perbelanjaan pun dapat dijangkau dalam waktu kurang dari 20 menit.

Kebiasaan berjalan kaki itu memberi kesempatan untuk mengamati lebih dekat wajah ibu kota Tiongkok tersebut. Bukan hanya di kawasan pusat kota, tetapi juga di jalan-jalan lingkungan, area kampus, hingga kawasan permukiman warga.

Hasilnya sama. Sulit menemukan sampah yang tercecer di trotoar. Tidak terlihat tumpukan sampah di sudut jalan. 

Bahkan di kawasan kampus Renmin University of China, tempat saya tinggal selama mengikuti program China International Press Communication Center (CIPCC), lingkungan tampak bersih dan tertata.

Padahal, kondisi itu tidak terjadi begitu saja.

Beijing pernah menghadapi persoalan sampah yang cukup serius. Bertahun-tahun lalu, kota ini dikepung ribuan titik pembuangan dan pengelolaan sampah yang berjalan sendiri-sendiri tanpa sistem yang terintegrasi.

Perubahan mulai dilakukan pada 1995 ketika pemerintah memperketat regulasi pengelolaan sampah. 

Langkah itu kemudian diperkuat dengan pembangunan fasilitas insinerator pada 2008. Reformasi besar-besaran berlanjut pada 2018 ketika sistem pemilahan sampah diterapkan secara lebih ketat dan menyeluruh.

Kini, memilah sampah telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Beijing.

Setiap warga wajib memisahkan sampah ke dalam empat kategori berbeda. Sampah sisa makanan ditempatkan pada tong berwarna hijau. 

Sampah yang masih bisa didaur ulang masuk ke tong biru. Sampah residu atau yang tidak dapat didaur ulang dibuang ke tong berwarna kuning. 

Sedangkan limbah elektronik harus ditempatkan pada fasilitas khusus berwarna merah.

Menariknya, keberadaan tong sampah itu disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.

Di area kampus maupun ruang publik, tong sampah berwarna kuning dan biru menjadi yang paling mudah ditemukan. Jumlah tong residu bahkan jauh lebih banyak dibandingkan tong daur ulang. Dalam beberapa lokasi, satu tong daur ulang bisa didampingi hingga lima tong residu.

Sementara tong hijau untuk limbah makanan biasanya tersedia di restoran, kantin, minimarket yang menjual makanan siap santap, hingga kawasan permukiman. 

Adapun tempat pembuangan limbah elektronik jumlahnya jauh lebih terbatas. Selama berada di kampus, saya hanya menemukan satu titik pembuangan khusus untuk jenis sampah tersebut.

Yang menarik bukan hanya soal pemilahannya, tetapi juga sistem pengangkutannya.

Setiap malam, truk khusus berkeliling mengangkut sampah organik dan sisa makanan. Truk yang digunakan tertutup rapat sehingga bau tidak menyebar ke lingkungan sekitar. Sampah kemudian dibawa ke fasilitas pengolahan untuk diubah menjadi pupuk.

Sementara sampah residu diangkut pada dini hari hingga pagi hari menggunakan armada khusus yang mampu memadatkan sampah selama perjalanan. Dari sana, sampah dibawa ke fasilitas pengolahan energi untuk dikonversi menjadi listrik.

Adapun sampah daur ulang memiliki jalur tersendiri.

Banyak pemulung yang secara aktif mengumpulkan botol plastik, kardus, kaleng, maupun barang bekas lain yang masih memiliki nilai ekonomi. 

Karena itu, jarang sekali sampah daur ulang terlihat menumpuk di tempat sampah. Bahkan tak sedikit pemulung yang turut memilah sampah residu untuk mencari material yang masih bisa dijual kembali.

"Kami sudah terbiasa memilah sampah, karena memang wajib. Membuang sampah juga bukan hal sulit selama sudah dipilah," ujar Nancy, salah seorang pendamping sekaligus penerjemah bagi para jurnalis peserta program CIPCC.

Disiplin warga, didukung sistem yang jelas dan konsisten, tampaknya menjadi kunci keberhasilan Beijing menjaga kebersihan kotanya.

Pelajaran itulah yang rasanya relevan bagi Bali. Terutama dalam upaya mengatasi persoalan sampah organik, limbah dapur, dan sisa makanan yang selama ini masih menjadi tantangan besar. 

Pengalaman dari Beijing menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak selalu harus dimulai dari teknologi canggih, melainkan dari kebiasaan sederhana: memilah sampah sejak dari rumah. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#beijing #tiongkok #sampah #buleleng