Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Titik Nol Singaraja Makin Ikonik, Plang Nama Jalan dari Sampah Plastik Jadi yang Pertama di Indonesia

Francelino Junior • Jumat, 26 Juni 2026 | 08:14 WIB
PAPAN NAMA JALAN: Plang papan nama jalan berbahan dasar sampah plastik. Plang itu terbuat dari limbah sampah plastik yang terkumpul di Buleleng. (Pemkab Buleleng)
PAPAN NAMA JALAN: Plang papan nama jalan berbahan dasar sampah plastik. Plang itu terbuat dari limbah sampah plastik yang terkumpul di Buleleng. (Pemkab Buleleng)

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Wajah kawasan Titik Nol Kota Singaraja kini tampil semakin menarik. 

Selain dipercantik dengan penataan kawasan yang lebih estetis, ikon pusat Kota Singaraja itu kini memiliki plang nama jalan berbahan daur ulang sampah plastik. 

Plang tersebut dilakukan pada Kamis (25/6/2026).

Ada tiga ruas jalan di kawasan tersebut yang kini menggunakan plang baru, yakni Jalan Veteran, Jalan Pahlawan, dan Jalan Ngurah Rai. 

Seluruh komponen plang, mulai dari papan nama hingga tiangnya, dibuat dari material hasil daur ulang. 

Desainnya pun dibuat lebih khas dengan menambahkan miniatur Tugu Singa Ambara Raja di bagian puncak tiang.

Proyek ini merupakan kolaborasi antara Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Buleleng dan Rumah Plastik Mandiri. 

Selain mempercantik wajah kota, keberadaan plang tersebut juga menjadi simbol pemanfaatan sampah plastik menjadi produk yang memiliki nilai guna.

Pemilik Rumah Plastik Mandiri, Putu Eka Darmawan, menjelaskan bahwa material utama plang berasal dari plastik jenis High-Density Polyethylene (HDPE) yang diolah dari limbah botol oli.

"Bahannya pakai plastik paling awet yakni jenis High-Density Polyethylene (HDPE) yaitu dari sampah botol oli. Total gunakan 1,2 ton sampah plastik, diambil dari bank sampah dan TPST di Buleleng," ujarnya.

Ia mengungkapkan, satu tiang membutuhkan sekitar 120 kilogram sampah plastik, sedangkan berat satu plang mencapai sekitar 70 kilogram. Seluruh proses produksi memakan waktu sekitar satu bulan. 

Namun, proses yang paling menyita waktu bukan pada pembuatannya, melainkan menyatukan konsep desain agar selaras dengan estetika kawasan Titik Nol sekaligus memenuhi standar teknis dari Dishub.

Menurut Eka, sekitar 98 persen material yang digunakan merupakan hasil olahan sampah plastik. Bahkan, inovasi tersebut diklaim menjadi yang pertama diterapkan di Indonesia.

"Selama tidak kena panas sampai lebih dari 130 derajat, plang nama ini aman," tegasnya.

Sementara itu, Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, menilai pemanfaatan sampah plastik menjadi fasilitas publik merupakan langkah nyata dalam mengatasi persoalan lingkungan. 

Menurutnya, limbah plastik yang selama ini menjadi masalah kini dapat diubah menjadi produk yang bermanfaat sekaligus mendukung pengelolaan sampah anorganik di Kabupaten Buleleng.

Ke depan, penggunaan plang berbahan daur ulang itu tidak hanya berhenti di kawasan Titik Nol. Pemerintah Kabupaten Buleleng berencana menggantinya secara bertahap di seluruh wilayah.

"Nanti perlahan dan bertahap, di Buleleng seluruhnya akan pakai seperti ini. Tunggu tanggal mainnya," ucap Sutjidra. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#sampah plastik #titik nol #sampah #buleleng