Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Ketika Teknologi dan Kepedulian Berpadu: Cara Tiongkok Bantu Penyandang Disabilitas Hidup Mandiri

Eka Prasetya • Minggu, 28 Juni 2026 | 12:08 WIB
TERAPI SENI: Proses pendampingan terhadap anak dengan autisme di Kota Beijing, Tiongkok, lewat terapi seni. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
TERAPI SENI: Proses pendampingan terhadap anak dengan autisme di Kota Beijing, Tiongkok, lewat terapi seni. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

PINTU kaca otomatis terbuka perlahan. Di baliknya, garis-garis kuning bertekstur membentang lurus di atas lantai keramik. Jalur itu bukan sekadar ornamen. 

Bagi penyandang tunanetra, itulah penunjuk arah yang mengantar mereka melangkah mandiri dari satu ruangan ke ruangan lain.

Di sisi lain gedung, beberapa anak penyandang autisme datang bersama orang tua mereka. Ada yang menggenggam erat tangan sang ibu, ada pula yang berjalan perlahan menuju ruang terapi. Warna-warna cerah pada lantai dan dinding menjadi penanda visual yang memudahkan mereka mengenali setiap area aktivitas.

Pemandangan itu menyambut puluhan jurnalis dari kawasan Asia Pasifik dan Karibia saat mengunjungi Beijing Demonstration Center of Service for Persons with Disabilities di Beijing, Kamis (25/6/2026) lalu.

Sekilas, bangunan setinggi 24 lantai tersebut tampak seperti pusat layanan publik modern pada umumnya. 

Namun, dibalik arsitekturnya yang futuristis, tersimpan sebuah misi besar: membantu penyandang disabilitas hidup lebih mandiri, percaya diri, dan mampu berbaur di tengah masyarakat.

Pusat layanan yang diresmikan pada Maret 2022 itu berdiri di atas bangunan seluas 33.200 meter persegi. 

Kini, fasilitas tersebut menjadi model layanan disabilitas tingkat provinsi di Tiongkok sekaligus rujukan nasional dalam pengembangan lingkungan yang inklusif dan bebas hambatan.

"Kami melayani berbagai jenis disabilitas, termasuk autisme dan cerebral palsy," ujar Yang Jinyi, staf sekaligus pemandu yang mendampingi rombongan jurnalis.

Menurut Yang, lebih dari 250 ribu penyandang disabilitas di Beijing telah merasakan manfaat berbagai layanan yang tersedia di pusat tersebut.

Nuansa inklusif langsung terasa sejak memasuki gedung. Ramp tersedia di hampir setiap sudut. Toilet dirancang ramah bagi pengguna kursi roda. Koleksi buku braille tertata rapi di ruang baca. Sementara sistem penunjuk arah menggunakan kombinasi warna mencolok yang dirancang khusus agar mudah dipahami penyandang autisme.

Setiap lantai memiliki fungsi berbeda. Lantai satu dan dua digunakan sebagai pusat pelatihan kerja. Lantai tiga menjadi ruang aktivitas sosial dan pengembangan keterampilan. Lantai empat difokuskan untuk rehabilitasi anak, sedangkan lantai lima menjadi ruang seni dan kreativitas.

Lantai enam hingga delapan difungsikan sebagai pusat rehabilitasi vokasional, sementara layanan rehabilitasi bagi penyandang disabilitas dewasa juga berada di lantai delapan. Adapun lantai sembilan hingga 18 disiapkan sebagai ruang perawatan jangka pendek bagi mereka yang memerlukan pendampingan intensif.

Layanan yang diberikan tidak berhenti pada terapi medis semata. Beragam program disiapkan, mulai rehabilitasi bagi anak dengan disabilitas intelektual, autisme, maupun cerebral palsy, pelatihan keterampilan kerja, terapi seni, simulasi dunia kerja, hingga pendampingan menuju kehidupan yang mandiri.

Semua program dirancang agar penyandang disabilitas tidak hanya pulih secara fisik dan mental, tetapi juga memiliki kesempatan berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial maupun ekonomi.

Di antara berbagai fasilitas itu, ruang pameran teknologi asistif menjadi salah satu lokasi yang paling menyita perhatian para jurnalis. Di ruangan tersebut, teknologi benar-benar diterjemahkan menjadi alat yang mempermudah kehidupan.

Beragam inovasi dipamerkan. Mulai kursi roda berbasis kecerdasan buatan yang dapat dikendalikan melalui sinyal otak, topi pintar untuk penyandang tunanetra, mesin pencetak huruf braille, hingga kacamata berbasis kecerdasan visual yang mampu membantu pengguna mengenali lingkungan sekitar.

Namun, perhatian terbesar tertuju pada sepasang kacamata pintar berbasis augmented reality (AR).

Bentuknya nyaris tak berbeda dengan kacamata biasa. Keistimewaannya baru terlihat saat seseorang mulai berbicara. Setiap kalimat yang diucapkan langsung muncul dalam bentuk teks pada layar kecil di dalam lensa. Sistem itu bahkan mampu menerjemahkan lebih dari 100 bahasa secara real time, termasuk Bahasa Indonesia.

Ketika pemandu berbicara menggunakan Bahasa Mandarin, hasil terjemahan langsung muncul di hadapan pengguna.

"Kacamata ini luar biasa. Ini akan sangat membantu penyandang tuna rungu-wicara. Bahkan bukan hanya penyandang disabilitas, orang asing seperti saya juga bisa memahami Bahasa Mandarin karena terjemahannya langsung terlihat," ujar Moiz Farooq, jurnalis asal Pakistan.

Bagi penyandang gangguan pendengaran, teknologi seperti itu bukan sekadar perangkat elektronik. Teknologi tersebut membuka akses komunikasi yang selama ini menjadi salah satu hambatan terbesar dalam kehidupan sehari-hari.

Yang Jinyi mengatakan pengembangan teknologi asistif terus dilakukan agar semakin banyak penyandang disabilitas memperoleh kemudahan dalam beraktivitas.

"Kami meyakini teknologi akan memudahkan para penyandang disabilitas, apapun ragam disabilitasnya," katanya.

Perjalanan berlanjut ke ruang pameran karya seni. Lukisan penuh warna menghiasi dinding. Di meja lainnya tersusun aneka kerajinan tangan hasil karya penyandang autisme.

Tak jauh dari sana, aroma roti yang baru matang menyeruak dari ruang pelatihan bakery.

Di ruangan itu, para penyandang autisme belajar membuat roti dan kue sebagai bekal memasuki dunia kerja.

"Mereka belajar membuat kue untuk meningkatkan kualitas hidup agar lebih mandiri. Beberapa peserta pendampingan kami sekarang sudah bekerja di perusahaan bakery dan restoran," kata Yang.

Di tempat ini, terapi bukanlah tujuan akhir. Yang lebih penting adalah membantu setiap penyandang disabilitas menemukan peran, kepercayaan diri, dan kesempatan hidup yang setara di tengah masyarakat.

Pendekatan itu tampak jelas dalam program pendampingan bagi anak penyandang autisme.

Pada usia prasekolah, setiap anak memperoleh pendampingan individual atau one-on-one. Satu anak didampingi satu instruktur. 

Fokusnya bukan hanya meningkatkan kemampuan belajar, tetapi juga melatih mereka memahami instruksi, membangun komunikasi, dan berinteraksi sebelum memasuki sekolah formal.

Selama proses tersebut, para instruktur juga memetakan minat serta potensi setiap anak. Setelah perkembangan dinilai memadai, mereka mulai bergabung dalam kelompok yang lebih besar untuk melatih kemampuan bersosialisasi.

Memasuki usia remaja, program beralih pada persiapan hidup mandiri. Peserta dibekali keterampilan dasar, mulai menjaga kebersihan diri, mengatur aktivitas harian, hingga kemampuan bekerja.

Bagi mereka yang belum siap terjun ke masyarakat, pendampingan tetap diberikan hingga benar-benar mampu menjalani kehidupan secara mandiri.

Dari kunjungan itu saya belajar, bahwa membangun masyarakat inklusif tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas yang ramah disabilitas. Perlu ekosistem yang menyatukan rehabilitasi, pendidikan, pelatihan kerja, dukungan sosial, dan pemanfaatan teknologi dalam satu sistem yang saling melengkapi. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#beijing #tiongkok #disabilitas #china #buleleng