Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
JAM sebenarnya sudah melewati pukul 18.00. Namun langit Beijing masih terang benderang. Di musim panas, senja memang datang lebih lambat.
Matahari masih bersinar terang ketika ratusan orang mulai memadati Central Park di kawasan Renmin University of China (RUC), Minggu (28/6/2026) sore.
Sekilas, suasananya menyerupai pasar loak. Tikar-tikar plastik warna-warni berjajar di sepanjang pedestrian taman. Di atasnya tertata buku kuliah, mug bergambar kampus, topi, pakaian, boneka, gantungan kunci, kartu permainan, hingga raket bulutangkis.
Tak ada kios permanen. Tak terdengar suara pedagang menawarkan dagangan. Para penjual adalah mahasiswa yang beberapa hari lagi akan resmi meninggalkan kampus setelah menyelesaikan masa studi mereka.
Di hadapan mereka, para pembeli datang silih berganti. Ada mahasiswa aktif, warga sekitar, hingga mahasiswa internasional yang sengaja berburu barang-barang murah sekaligus kenang-kenangan dari salah satu kampus bergengsi di Beijing tersebut.
Pasar dadakan itu hanya hadir dua hari, Sabtu (27/6/2026) hingga Minggu (28/6/2026), sebagai tradisi menjelang musim wisuda.
Setelah upacara kelulusan yang dijadwalkan berlangsung Sabtu (4/7/2026), para mahasiswa akan kembali ke kampung halaman masing-masing.
Sebelum koper ditutup, barang-barang yang tak lagi dibawa pulang diberi kesempatan menemukan pemilik baru.
Suasana sore itu terasa santai. Hampir semua barang hanya diletakkan di atas tikar tanpa etalase ataupun meja pajangan. Para mahasiswa duduk lesehan sambil berbincang dengan teman-teman mereka.
Di sisi lain, calon pembeli bebas jongkok, memeriksa barang satu per satu, lalu menawar harga dengan senyum.
Semakin matahari condong ke barat, semakin ramai pula kawasan taman tersebut. Ratusan orang memenuhi setiap sudut.
Sebagian membawa tas belanja, sebagian lagi hanya berjalan santai menikmati suasana sambil sesekali berhenti ketika menemukan barang yang menarik perhatian.
Mayoritas yang dijual merupakan barang bekas, tetapi kondisinya masih sangat layak pakai.
Buku referensi kuliah, novel, perlengkapan olahraga, mug, pakaian, gantungan kunci, boneka, hingga berbagai souvenir kampus berpindah tangan dengan harga yang sangat murah.
Saya baru sempat mengunjungi pasar itu pada Minggu sore. Sejumlah lapak sudah mulai berkemas karena sebagian barang habis terjual sehari sebelumnya. Meski begitu, masih banyak "harta karun" yang tersisa.
Saya akhirnya membawa pulang dua gantungan kunci karakter Minion dan Garfield. Harganya hanya lima yuan, atau sekitar Rp 12 ribu.
Tak hanya saya yang pulang dengan wajah puas.
Saurabh Kumar, jurnalis asal India yang mengikuti program China International Press Communication Center (CIPCC), tampak sumringah setelah menemukan topi bertuliskan Renmin University of China.
Di toko resmi kampus, topi serupa dibanderol sekitar 30 yuan. Namun di pasar kelulusan itu, ia mendapatkannya hanya dengan lima yuan.
"Harga yang sangat murah. Karena di toko resmi, harganya 30 yuan, tapi saya dapat 5 yuan. Meskipun bekas, tapi masih bagus. Topi ini tidak saya pakai, hanya akan simpan sebagai kenang-kenangan," katanya.
Keberuntungan serupa dirasakan Beberg Arif, jurnalis asal Pakistan. Ia membeli satu set kartu Uno hanya dengan lima yuan.
"Lumayan, bisa untuk main kalau bosan di apartemen," ujarnya sambil tersenyum.
Tak berhenti di situ, ia juga membawa pulang dua pasang sepatu baru yang masih tersimpan dalam box.
Sementara itu, Ali Yoosuf, jurnalis asal Maladewa, justru menemukan barang yang nilainya lebih besar. Ia membeli raket bulutangkis bekas Yonex Nanoray 7000i seharga 40 yuan atau sekitar Rp 90 ribu.
Menurutnya, harga tersebut jauh lebih murah dibandingkan harga raket serupa di negaranya.
"Harga yang sangat wajar. Meski ada lecet pemakaian, raket ini masih sangat bagus. Saya akan membawanya pulang ke Maldives, untuk main bulutangkis bersama teman-teman di negara saya," tuturnya.
Bagi Davone Manyvanh, jurnalis asal Laos, justru konsep pasar itulah yang paling menarik.
Ia mengaku baru pertama kali melihat mahasiswa membuka lapak sendiri di dalam lingkungan kampus untuk menjual barang-barang pribadi menjelang kelulusan. Tradisi seperti itu, menurutnya, belum pernah ia temui di negaranya.
Menjelang kelulusan, koper memang harus diringankan. Namun kenangan tak mungkin ikut ditimbang. Maka sebagian kenangan itu memilih tinggal di Beijing, berpindah dari satu mahasiswa kepada mahasiswa lain. Bahkan bisa saja ikut terbang ke India, Pakistan, Laos, Maladewa, atau Indonesia. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya