Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
Lampu perlahan padam.
Pintu ruangan menutup rapat. Dalam sekejap, dinding, langit-langit, hingga lantai berubah menjadi layar raksasa. Kota Beijing seolah hidup di hadapan mata.
Kami tidak lagi berdiri di sebuah ruangan di Distrik Xicheng. Dalam hitungan detik, puluhan jurnalis dari kawasan Asia Pasifik peserta China International Press Communication Center (CIPCC) seperti diajak terbang menyusuri Poros Tengah Beijing—jalur bersejarah yang menjadi tulang punggung ibu kota Tiongkok selama ratusan tahun.
Bangunan-bangunan kuno, taman kota, jalan raya, hingga gedung pencakar langit tampil bergantian dalam visual 360 derajat.
Sensasinya bukan sekadar menonton film. Lebih seperti menyaksikan perjalanan sebuah kota yang terus berevolusi tanpa meninggalkan akar sejarahnya.
Pengalaman itu menjadi pembuka kunjungan para jurnalis ke Beijing CPC Municipal Committee Party School, Selasa (30/6/2026).
Berbeda dengan Central Party School di Distrik Haidian yang mencetak kader tingkat nasional, sekolah partai ini menjadi pusat pendidikan bagi aparatur dan kader pemerintahan Kota Beijing.
Di dalam kompleks tersebut terdapat “Ruang Kelas Tematis Praktik Nyata Beijing atas Pemikiran Xi Jinping", sebuah ruang belajar yang lebih menyerupai laboratorium inovasi daripada museum pemerintahan.
Di tempat inilah pembangunan Beijing "diceritakan" bukan melalui pidato panjang, melainkan lewat data, teknologi digital, diorama interaktif, hingga tayangan sinematik yang terus diperbarui.
Selama menyusuri setiap sudut ruangan, pengunjung diajak melihat bagaimana Beijing berusaha menjawab persoalan yang selama ini menjadi tantangan hampir seluruh kota metropolitan dunia: kemacetan, polusi udara, ledakan jumlah penduduk, hingga pelayanan publik.
Alih-alih hanya memamerkan pencapaian, ruang seluas sekitar 1.000 meter persegi itu memperlihatkan bagaimana sebuah kebijakan diterjemahkan menjadi perubahan yang bisa diukur.
Salah satu transformasi yang paling banyak mendapat perhatian adalah perubahan kualitas lingkungan.
Melalui layar-layar digital, ditampilkan perbandingan Beijing satu dekade lalu ketika kabut asap pekat menjadi pemandangan sehari-hari dengan kondisi saat ini, ketika langit biru jauh lebih sering menyelimuti kota.
Perubahan tersebut disebut sebagai hasil strategi reduced-development, yakni mengurangi aktivitas industri yang tidak berkaitan dengan fungsi ibu kota untuk meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus kenyamanan hidup masyarakat.
Transformasi itu tidak berhenti pada pembangunan fisik.
Di sektor pelayanan publik, Beijing memperkenalkan sistem digital Jie Su Ji Ban, platform berbasis big data yang menghubungkan warga dengan pemerintah.
Masyarakat cukup menghubungi layanan 12345 untuk menyampaikan keluhan atau meminta bantuan. Seluruh laporan dipantau secara real time sehingga penanganannya dapat dilakukan lebih cepat.
Kemudahan juga diberikan kepada wisatawan internasional. Di bandara, stasiun kereta, hingga terminal bus tersedia pusat layanan terpadu yang membantu pengunjung mengakses transportasi umum, pembayaran digital, kartu seluler, hingga penggunaan kartu bank internasional melalui sistem tap to pay.
Layanan tersebut menjadi penting mengingat Beijing menjadi rumah bagi sekitar 170 kedutaan besar dan setiap tahun menerima jutaan kunjungan dari berbagai negara.
Namun, daya tarik utama fasilitas ini berada di sebuah ruangan bernama Fuxing.
Enam sisi ruangan dilapisi layar LED beresolusi tinggi. Saat pertunjukan dimulai, pengunjung seolah melayang di atas Beijing. Poros Tengah yang telah berusia ratusan tahun berpadu dengan wajah kota modern dalam pengalaman visual yang begitu imersif.
Teknologi di ruangan itu tidak sekadar menjadi hiburan. Ia menjadi media untuk menjelaskan bagaimana pelestarian warisan budaya dapat berjalan beriringan dengan pembangunan kota masa depan.
Tak heran jika fasilitas tersebut menjadi salah satu pusat pembelajaran yang paling ramai dikunjungi di Beijing.
Sebagian besar pengunjungnya merupakan kader pemerintahan dari berbagai daerah di Tiongkok, dosen, hingga mahasiswa.
Dalam beberapa tahun terakhir, delegasi internasional juga mulai rutin datang untuk mempelajari tata kelola kota, digitalisasi pemerintahan, dan strategi pembangunan perkotaan.
Bagi Moiz Farooq, jurnalis asal Pakistan, pengalaman melihat langsung ruang pembelajaran tersebut memberikan perspektif yang berbeda dibanding sekadar membaca laporan pembangunan.
"Saya bisa mengetahui banyak hal tentang perkembangan pembangunan Beijing, dan bagaimana pemerintah Tiongkok bisa melakukan tata kelola kota sebesar ini," ujarnya.
Kesan serupa disampaikan Siti Zanariah Binti Nor Zin, jurnalis asal Malaysia. Baginya, perubahan Beijing menunjukkan bahwa transformasi sebuah kota besar tidak lahir dalam semalam, melainkan melalui visi jangka panjang, konsistensi kebijakan, dan dukungan masyarakat.
"Ini sangat luar biasa. Bagaimana Beijing yang dulunya juga kota yang punya polusi, tapi kini sudah menjadi kota yang hijau dan layak ditinggali. Tentu ini semua terjadi berkat kerja keras pemerintah dan masyarakatnya. Saya harap konsep serupa juga bisa diadopsi oleh negara-negara lainnya, khususnya di kawasan ASEAN maupun Asia Pasifik," katanya.
Keluar dari ruang Fuxing, kesan yang tertinggal bukan hanya kecanggihan teknologi yang dipamerkan.
Melainkan sebuah pesan sederhana: kota besar tidak berubah hanya karena gedung-gedung tinggi dibangun. Ia berubah karena memiliki arah, perencanaan, dan konsistensi untuk mewujudkannya selama bertahun-tahun. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya