Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Melihat Langsung Bei Nao No. 1, Chip Otak Tiongkok yang Siap Mengubah Cara Manusia Berkomunikasi

Eka Prasetya • Kamis, 2 Juli 2026 | 19:34 WIB
CHIP OTAK: Pemandu menunjukkan chip otak Bei Nao No. 1 (kiri) yang dipamerkan di Ruang Kelas Tematik Beijing Chinese Communist Party (CPC) Municipal Committee Party School. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
CHIP OTAK: Pemandu menunjukkan chip otak Bei Nao No. 1 (kiri) yang dipamerkan di Ruang Kelas Tematik Beijing Chinese Communist Party (CPC) Municipal Committee Party School. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

UKURANNYA tak lebih besar dari sekeping koin. Bentuknya pun nyaris tak mencuri perhatian. Namun, perangkat kecil yang tergeletak di atas meja Ruang Kelas Tematik Beijing Chinese Communist Party (CPC) Municipal Committee Party School itu menyimpan kemampuan yang terdengar seperti adegan dalam film fiksi ilmiah.

Namanya Bei Nao No. 1. Sebuah chip antarmuka otak-komputer (Brain-Computer Interface atau BCI) yang dikembangkan Tiongkok untuk menerjemahkan aktivitas otak manusia menjadi perintah digital. 

Dengan teknologi tersebut, seseorang yang kehilangan kemampuan berbicara tetap dapat menyampaikan apa yang dipikirkannya hanya melalui sinyal otak.

Perangkat futuristis itu menjadi salah satu teknologi yang diperkenalkan kepada para jurnalis dari kawasan Asia Pasifik peserta China International Press Communication Center (CIPCC) saat mengunjungi Ruang Kelas Tematik di Beijing CPC Municipal Committee Party School, Selasa (30/6/2026).

Di hadapan para peserta, ditampilkan simulasi proses pemasangan chip melalui prosedur bedah minimal invasif. 

Satu demi satu penjelasan membuat para jurnalis terpukau. Teknologi yang selama ini identik dengan cerita fiksi ternyata telah memasuki tahap penerapan klinis.

"Alat ini dikembangkan bersama oleh Beijing Institute of Brain Science and Brain-Inspired Intelligence bersama perusahaan Xinzhida," ujar Profesor Departemen Ekonomi Beijing CPC Municipal Committee Party School, Lu Yuan Yuan.

Menurut Lu, hingga saat ini sebanyak tujuh operasi pemasangan implan semi-invasif telah berhasil dilakukan di Rumah Sakit Pertama Universitas Peking, Rumah Sakit Tiantan, dan Rumah Sakit Xuanwu.

Teknologi tersebut dirancang untuk membantu pasien yang kehilangan kemampuan berbicara maupun bergerak akibat berbagai gangguan neurologis, seperti afasia, Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), hingga cedera saraf tulang belakang.

Melalui Bei Nao No. 1, pasien cukup memikirkan kalimat yang ingin disampaikan. Sistem kemudian membaca sinyal otak tersebut dan mengubahnya menjadi tulisan yang langsung muncul di layar elektronik.

Misalnya ketika pasien membayangkan kalimat "Saya ingin minum air" atau "Saya ingin bertemu seseorang", sistem akan menerjemahkannya menjadi teks yang dapat dibaca orang lain.

"Tulisan itu akan muncul di layar elektronik karena alat ini membaca sinyal otak yang dikirim secara sadar," jelasnya.

Bagi penderita afasia yang kehilangan kemampuan berbicara, teknologi tersebut membuka harapan baru untuk kembali berkomunikasi dengan keluarga maupun tenaga medis.

Meski memulai penelitian lebih lambat dibandingkan Amerika Serikat, Tiongkok mengklaim berhasil mengejar bahkan berada di barisan terdepan dalam pengembangan teknologi antarmuka otak-komputer.

"Di bidang ini, Tiongkok memulainya lebih dari 20 tahun lebih lambat daripada Amerika Serikat. Namun sekarang kami telah melompat ke posisi terdepan dunia," kata Lu.

Saat ini, Pemerintah Beijing menjadikan teknologi Brain-Computer Interface sebagai salah satu industri masa depan yang terus diprioritaskan. Pengembangan Bei Nao No. 1 sendiri telah melalui sekitar lima tahun riset sebelum memasuki tahap uji klinis.

Proyek tersebut dipimpin Prof. Luo Minmin, Direktur Chinese Institute for Brain Research (CIBR), melalui perusahaan rintisan NeuCyber (Beijing Xinzhida Neurotech Co., Ltd.).

Berbeda dengan Neuralink milik Elon Musk yang menggunakan metode fully invasive dengan elektroda ditanam langsung ke jaringan korteks otak, Bei Nao No. 1 mengusung pendekatan semi-invasive. Elektroda ultra-tipis dan fleksibel ditempatkan di atas lapisan pelindung otak (duramater) tanpa menyentuh jaringan otak secara langsung.

Pendekatan tersebut dinilai mampu mengurangi risiko cedera jaringan otak maupun respons imun tubuh, sehingga menawarkan tingkat keamanan yang lebih baik.

Salah satu pencapaian yang paling menyita perhatian komunitas ilmiah dunia adalah keberhasilan Bei Nao No. 1 menjadi sistem BCI nirkabel semi-invasif pertama yang mampu menerjemahkan bahasa Mandarin langsung dari aktivitas otak pasien.

Teknologi itu diuji pada seorang perempuan berusia 67 tahun yang menderita ALS dan telah kehilangan kemampuan berbicara. Hanya sekitar tiga jam setelah operasi dan proses pelatihan sistem, algoritma kecerdasan buatan berhasil mengenali puluhan karakter Mandarin yang dipikirkan pasien.

Kini sistem tersebut telah menguasai sekitar 100 kosakata yang umum digunakan dalam percakapan sehari-hari. Pasien cukup membayangkan kalimat seperti "Saya ingin minum air" atau "Hari ini saya ingin berjalan-jalan bersama keluarga", lalu tulisan tersebut otomatis muncul di layar.

Data yang dipaparkan menunjukkan akumulasi penggunaan perangkat oleh seluruh pasien telah melampaui 65.000 jam tanpa ditemukan efek samping berbahaya. Bahkan pasien pertama yang menerima implan telah menggunakan chip tersebut selama lebih dari satu tahun dengan kondisi tetap stabil.

Kemajuan lain juga ditunjukkan pada pasien yang mengalami kelumpuhan total akibat cedera saraf tulang belakang selama lima tahun. Setelah menjalani terapi berbasis BCI secara rutin, pasien tersebut mulai kembali melatih fungsi motorik dan belajar berjalan menggunakan alat bantu.

Pengembangan teknologi ini pun terus berlanjut. Versi berikutnya, Bei Nao No. 2, tengah dipersiapkan sebagai sistem fully invasive dengan 512 saluran pembaca sinyal otak yang terhubung langsung ke jaringan saraf.

Dalam tahap pengujian, teknologi tersebut telah berhasil digunakan pada monyet rhesus untuk mengendalikan kursor komputer dan menggerakkan lengan robot secara real time hanya melalui pikiran.

Jika seluruh tahapan validasi klinis berjalan sesuai rencana, Bei Nao No. 2 akan segera memasuki uji coba pada manusia. 

Lewat pengembangan Bei Nao, Tiongkok ingin menunjukkan bahwa komunikasi langsung antara otak dan mesin bukan lagi sebatas imajinasi dalam film fiksi ilmiah, melainkan teknologi yang perlahan mulai hadir dan mengubah kehidupan manusia. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#beijing #tiongkok #china #buleleng