Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
DARI kejauhan, bangunan itu terlihat seperti pusaran angin yang membeku di tengah hiruk-pikuk Kota Beijing. Tak ada sudut-sudut tegas sebagaimana gedung perkantoran pada umumnya. Seluruh bagian bangunan melengkung, berpilin, lalu menyatu membentuk lingkaran yang seolah tak memiliki titik awal maupun akhir.
Siapa pun yang pertama kali melihatnya hampir pasti akan berhenti sejenak. Bukan hanya karena bentuknya yang tak lazim, tetapi juga karena bangunan itu menyimpan salah satu pusat industri media terbesar di Tiongkok.
Di balik desain futuristis tersebut berdiri Phoenix International Media Center, markas Phoenix Media Group, salah satu konglomerasi media berbahasa Mandarin terbesar di dunia.
Pada Kamis (2/7/2026), para jurnalis dari kawasan Asia Pasifik peserta China International Press Communication Center (CIPCC) mendapat kesempatan mengintip langsung bagaimana perusahaan media tersebut membangun ruang redaksi modern yang berpadu dengan teknologi mutakhir.
Kunjungan itu jauh melampaui agenda melihat studio televisi atau ruang kerja para jurnalis. Rombongan diajak memahami bagaimana Tiongkok menggabungkan arsitektur, inovasi digital, penyiaran, hingga strategi distribusi konten menjadi sebuah ekosistem media yang dirancang menjangkau audiens lintas negara.
Begitu memasuki kompleks Phoenix Center di Distrik Chaoyang, perhatian langsung tertuju pada atrium raksasa yang dibalut ribuan panel kaca. Cahaya matahari menembus kisi-kisi baja yang membungkus bangunan, membentuk permainan bayangan geometris yang terus berubah mengikuti arah datangnya sinar.
Di tengah atrium berdiri Dream Bridge, jalur melengkung tanpa penyangga yang menghubungkan area studio dengan gedung perkantoran. Jembatan itu bukan sekadar penghubung antarruang, melainkan simbol filosofi perusahaan sekaligus menjadi salah satu spot paling ikonik di dalam kompleks tersebut.
Phoenix Center memang bukan sekadar kantor penyiaran. Sang arsitek, Shao Weiping, merancang gedung tersebut dengan mengambil inspirasi dari pita Möbius, struktur matematika yang hanya memiliki satu permukaan tanpa awal maupun akhir.
Konsep tersebut kemudian dipadukan dengan filosofi yin-yang dalam kebudayaan Tiongkok. Bahkan lekukan bangunannya dibuat tidak simetris mengikuti logo Phoenix TV yang menggambarkan dua burung feniks saling berhadapan.
Yang paling menarik justru bukan hanya bentuk bangunannya, melainkan filosofi keterbukaannya.
Berbeda dengan banyak kantor media besar yang identik dengan akses terbatas dan sistem keamanan berlapis, Phoenix memilih menghadirkan ruang yang lebih ramah bagi masyarakat.
Bagian bawah bangunan sengaja dibuat seolah melayang sehingga publik dapat memasuki halaman tengah. Pada waktu-waktu tertentu, gedung ini juga menjadi ruang pameran seni, instalasi budaya, hingga jalur tur yang memungkinkan pengunjung melihat aktivitas studio penyiaran dari balik dinding kaca.
Konsep tersebut membuat jarak antara ruang redaksi dan masyarakat terasa jauh lebih dekat.
“Suasana gedung yang nyaman dan terbuka membuat betah. Jadi kalau suntuk, tinggal keluar kantor dan jalan-jalan di area kantor,” ujar jurnalis asal Bangladesh, Easmin Akter.
Pendapat itu diamini peserta lainnya. Hampir seluruh sudut gedung memang menghadirkan suasana yang berbeda dari kantor media konvensional. Area publik berpadu dengan ruang kerja tanpa sekat yang kaku, menciptakan atmosfer yang lebih hangat sekaligus nyaman.
Di balik dinding-dinding kaca transparan, aktivitas jurnalistik tetap berlangsung tanpa henti. Kru silih berganti keluar masuk studio. Kamera bergerak mengikuti jadwal siaran. Semua berjalan nyaris tanpa suara, namun sangat terorganisasi.
Dari atrium utama, rombongan kemudian diajak memasuki area yang paling dinanti, yakni studio penyiaran Phoenix TV.
Pemandangan di dalam studio cukup mengejutkan. Tidak terlihat banyak kru memindahkan lampu atau menggeser kamera seperti lazimnya studio televisi. Sebagian besar peralatan bekerja otomatis mengikuti sistem yang telah diprogram sebelumnya.
Lampu-lampu studio bergerak perlahan dari langit-langit. Kamera berpindah posisi dengan presisi mengikuti titik pengambilan gambar. Seluruh proses produksi berlangsung tenang, tetapi sangat efisien.
Bagi sebagian peserta, pengalaman itu menjadi sesuatu yang benar-benar baru.
"Studio kami di India berbeda. Di sini, lampu-lampu tergantung dan digerakkan secara otomatis. Ini sudah level up dan sangat maju," ujar Saurabh Kumar, jurnalis asal India.
Meski demikian, teknologi canggih ternyata bukan satu-satunya hal yang ingin diperlihatkan Phoenix kepada peserta CIPCC.
Dalam sesi diskusi, Chief Director Beijing Office Phoenix Media Group, Hu Ling, menjelaskan bahwa tantangan media saat ini bukan lagi sekadar menghasilkan berita, melainkan menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi.
Menurutnya, televisi tidak lagi menjadi tujuan utama distribusi berita. Kini, ponsel telah berubah menjadi layar pertama bagi jutaan orang untuk memperoleh informasi.
"Kami menjadikan mobile phone sebagai kekuatan utama kami. Baik dalam produksi maupun memasarkan konten,” ujarnya.
Saat melakukan siaran langsung, misalnya, reporter lebih banyak memanfaatkan telepon genggam. Rekaman siaran tersebut kemudian dipotong menjadi video-video pendek oleh tim di kantor untuk disebarluaskan melalui berbagai platform media sosial.
“Itu membuat brand kami sangat menempel di masyarakat. Sosial media kami gunakan untuk kecepatan, tapi di TV kami gunakan untuk cerita yang utuh dan mendalam,” jelasnya.
Strategi tersebut membuat ruang redaksi Phoenix bekerja dalam dua kecepatan sekaligus.
Ketika sebuah peristiwa besar terjadi, tim digital bergerak lebih dulu menyebarkan informasi melalui video singkat di media sosial.
Sementara itu, tim televisi menyiapkan laporan yang lebih lengkap, mendalam, dan kaya perspektif untuk tayangan utama.
Kedua pendekatan itu berjalan beriringan, saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
Transformasi digital tersebut diperkuat jaringan jurnalistik yang sangat luas. Hu Ling mengungkapkan, Phoenix TV kini memiliki koresponden di 63 negara.
Jaringan itu menjadikan Phoenix sebagai salah satu organisasi media berbahasa Mandarin dengan cakupan peliputan internasional paling luas.
Kunjungan ke Phoenix International Media Center akhirnya memberikan satu pelajaran. Bahwa di era ketika informasi bergerak dalam hitungan detik, kekuatan media bukan hanya terletak pada teknologi yang dimiliki, tetapi juga pada kemampuan beradaptasi tanpa meninggalkan kualitas jurnalisme. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya