Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Melihat Wisuda Kampus Bergengsi Tiongkok: Tak Ada Gedung Hotel, Sederhana, tetapi Berkesan

Eka Prasetya • Minggu, 5 Juli 2026 | 20:20 WIB
LULUS: Para diaspora Indonesia di Renmin University of China (RUC) berhasil menuntaskan pendidikan mereka di tahun 2026. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
LULUS: Para diaspora Indonesia di Renmin University of China (RUC) berhasil menuntaskan pendidikan mereka di tahun 2026. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

MATAHARI musim panas Beijing baru saja meninggi ketika kawasan Renmin University of China (RUC) mulai dipenuhi lautan toga merah. Pada Sabtu (4/7) pagi, ribuan mahasiswa berjalan beriringan menuju Century Stadium, lapangan utama kampus yang hari itu menjadi saksi berakhirnya perjalanan akademik mereka.

Saya yang sedang mengikuti program China International Press Communication Center (CIPCC) dan tinggal di lingkungan kampus bersama puluhan jurnalis dari berbagai negara, langsung merasakan suasana yang berbeda. 

Jalan-jalan kampus yang biasanya lengang mendadak dipenuhi mahasiswa, keluarga, dosen, hingga fotografer yang sibuk mengabadikan momen kelulusan.

Yang paling mengejutkan justru lokasi wisudanya.

Bukan di auditorium megah berpendingin udara, melainkan di stadion terbuka. Di bawah langit biru Beijing, ribuan mahasiswa, dosen, pimpinan universitas, hingga tamu undangan rela berbagi terik matahari musim panas tanpa tenda besar yang menaungi mereka.

Tepat pukul 08.00, prosesi dimulai.

Semuanya berlangsung begitu tertib. Tidak ada yang berlarian mencari tempat teduh. Tidak ada pula keributan yang biasanya mengiringi acara besar. Seluruh peserta mengikuti setiap rangkaian dengan khidmat, seolah panas matahari bukanlah sesuatu yang perlu dikeluhkan.

Namun, kejutan berikutnya datang hanya sekitar satu jam kemudian.

Sekitar pukul 09.00, prosesi wisuda telah selesai.

Bagi saya yang terbiasa menyaksikan wisuda di Indonesia berlangsung hingga berjam-jam, pemandangan itu terasa begitu kontras.

Tak ada pemanggilan nama ribuan lulusan satu per satu. Tak ada antrean panjang menuju panggung untuk menerima ijazah. Tidak pula sesi yang berlarut-larut.

Seluruh prosesi dikemas ringkas, disiplin, tetapi tetap berkesan.

Tahun ini sekitar 8.000 orang mahasiswa Renmin University menyelesaikan pendidikan mereka, mulai dari jenjang sarjana, magister hingga doktor. 

Perbedaan tingkat pendidikan langsung terlihat dari warna toga yang dikenakan. Sarjana memakai toga merah-hitam, mahasiswa magister mengenakan merah-biru, sedangkan lulusan doktor tampil dengan toga merah-marun.

Di antara ribuan lulusan tersebut, beberapa wajah Indonesia turut merayakan hari bersejarah itu.

Jean Baptiste resmi menuntaskan pendidikan Magister Finance. Sementara Rizki Dwi Wibawa menyelesaikan studi Magister Jurnalistik di School of Journalism, fakultas yang selama beberapa pekan terakhir juga menjadi tempat kami mengikuti berbagai perkuliahan dalam program CIPCC.

"Akhirnya tuntas setelah dua tahun," kata Rizki sambil tersenyum.

Ada pula sosok yang terasa begitu akrab bagi para peserta CIPCC, yakni Deng Nanzi.

Selama program berlangsung, mahasiswa School of Journalism itu menjadi pendamping sekaligus penghubung bagi para jurnalis peserta dari kawasan Asia Pasifik. 

Hampir setiap hari ia membantu mengatur jadwal, mendampingi kunjungan lapangan, hingga memastikan seluruh kegiatan berjalan lancar.

Hari itu, ia bukan lagi pendamping para jurnalis.

Ia berdiri sebagai salah satu lulusan yang merayakan keberhasilannya sendiri.

Begitu prosesi resmi berakhir, suasana kampus berubah total.

Barisan toga yang semula tersusun rapi langsung membaur ke berbagai sudut kampus. Para lulusan bergegas mencari orang tua, saudara, sahabat, maupun dosen pembimbing yang telah menunggu sejak pagi.

Pelukan hangat, tawa, hingga air mata kebahagiaan terlihat di mana-mana.

Kamera ponsel dan kamera profesional bergantian menangkap setiap momen yang mungkin hanya datang sekali seumur hidup.

Tak sedikit orang tua datang membawa buket bunga berukuran besar. Sebagian mengenakan pakaian terbaik hanya untuk menemani anak-anak mereka berfoto di depan gedung-gedung ikonik Renmin University.

Menariknya, sesi berfoto justru menjadi bagian terlama dari seluruh rangkaian wisuda.

Hal itu bukan tanpa alasan.

Berbeda dengan tradisi di Indonesia, upacara wisuda di Tiongkok tidak digunakan untuk membagikan ijazah kepada setiap lulusan di atas panggung.

Dalam sistem pendidikan tinggi di Tiongkok, mahasiswa memperoleh dua dokumen berbeda, yakni Graduation Certificate sebagai bukti telah menyelesaikan pendidikan dan Degree Certificate sebagai bukti memperoleh gelar akademik. 

Kedua dokumen tersebut umumnya dibagikan melalui fakultas pada waktu yang berbeda, bukan saat seremoni wisuda universitas.

Karena itu, prosesi wisuda lebih berfungsi sebagai seremoni simbolis.

Rektor menyampaikan pidato, dilakukan pemindahan tassel toga sebagai simbol kelulusan, dilanjutkan foto bersama, lalu acara resmi ditutup.

Di universitas sebesar Renmin University yang setiap tahun meluluskan ribuan mahasiswa, format seperti ini membuat seluruh rangkaian berlangsung efisien tanpa kehilangan makna.

Justru setelah seremoni selesai, kampus berubah menjadi ruang perayaan yang sesungguhnya.

Tidak ada lagi protokoler.

Yang tersisa hanyalah keluarga yang saling berpelukan, sahabat yang tertawa bersama, serta ribuan lulusan yang mengabadikan babak terakhir kehidupan kampus mereka.

Di Indonesia, wisuda seringkali menjadi puncak sebuah perjalanan panjang yang dirayakan dengan seremoni berjam-jam.

Di Renmin University, Beijing, saya melihat sesuatu yang sedikit berbeda.

Wisuda hanya berlangsung sekitar satu jam. Singkat, sederhana, dan sangat disiplin.

Namun mungkin justru di situlah pesannya.

Kelulusan bukanlah garis akhir yang harus dirayakan sepanjang hari, melainkan penanda bahwa perjalanan berikutnya telah dimulai. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#beijing #tiongkok #pendidikan #china #buleleng