Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
LANGIT Beijing masih terang ketika dentuman musik memecah sore di Central Park, kawasan terbuka di jantung Renmin University of China (RUC), Sabtu (4/7/2026).
Jarum jam baru menunjukkan pukul 18.00 waktu setempat, namun hamparan rumput di depan panggung sudah mulai ramai.
Mereka datang membawa satu tujuan yang sama: merayakan kelulusan. Mahasiswa, dosen, alumni, hingga warga sekitar duduk berbaur, menanti konser yang menjadi penutup rangkaian wisuda salah satu universitas bergengsi di Tiongkok tersebut.
Beberapa jam sebelumnya, para mahasiswa masih mengenakan toga. Bergantian memeluk orang tua, sahabat, dan dosen sembari mengabadikan momen kelulusan melalui kamera ponsel.
Namun, menjelang sore, wajah kampus berubah total.
Toga-toga perlahan menghilang, berganti kaos casual. Kamera yang sebelumnya sibuk memotret kini berganti lightstick berwarna-warni.
Di Renmin University of China, kelulusan tidak hanya ditutup dengan prosesi resmi. Ada sebuah konser besar yang menjadi pesta perpisahan sebelum para lulusan benar-benar meninggalkan kehidupan kampus dan memulai babak baru di dunia nyata.
Sayangnya, menikmati konser dari barisan terdepan ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
Penonton yang ingin memasuki area utama wajib memiliki tiket yang sudah dibeli jauh-jauh hari.
Sistem masuknya pun memanfaatkan teknologi face recognition. Wajah setiap pemegang tiket telah terdaftar sebelumnya sehingga hanya mereka yang bisa melewati gerbang pemeriksaan.
Saya baru mengetahui aturan tersebut ketika konser akan dimulai.
Alhasil, pagar pembatas menjadi posisi paling dekat yang bisa saya capai. Beruntung, panggung utama masih terlihat jelas dari luar arena.
Layar LED berukuran raksasa tetap menampilkan setiap penampilan para musisi, sementara dentuman musik terdengar begitu keras hingga ke area luar.
Meski hanya menjadi "penonton dari balik pagar", atmosfer konser tetap mampu menyihir siapa saja yang berada di sekitarnya.
Semakin malam, jumlah penonton terus bertambah. Banyak yang rela berdiri berjam-jam demi menikmati setiap lagu yang dibawakan para penampil.
Ketika matahari akhirnya tenggelam sekitar pukul 20.00, suasana berubah semakin memesona. Ribuan lightstick mulai menyala hampir bersamaan. Cahaya biru bergerak mengikuti irama.
Setiap kali lagu berganti, ribuan suara ikut bernyanyi serempak. Para penampil tampil bergantian, mulai dari duo, boyband, hingga band lengkap.
Meski seluruh lagu dibawakan dalam bahasa Mandarin, para penonton tampak hafal setiap baitnya. Hampir tak ada jeda tanpa koor panjang dari ribuan mahasiswa.
Bagi kami, para jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC), konser tersebut menjadi pengalaman baru menyaksikan bagaimana sebuah kampus di Tiongkok merayakan momen kelulusan mahasiswanya.
Jurnalis asal Thailand, Maneenat Onpanna, mengaku menikmati seluruh pertunjukan meski tidak memahami arti lagu-lagu yang dinyanyikan.
"Menyenangkan, jadi bisa tahu bagaimana konser di Tiongkok. Lagunya banyak yang mendayu-dayu, seperti suasana sedih. Saya kurang paham apa artinya, tapi mungkin terkait dengan perpisahan, karena setelah wisuda mereka akan berpisah dan kembali ke rumahnya masing-masing," ujarnya.
Kesan berbeda disampaikan Beberg Arif, jurnalis asal Pakistan. Baginya, konser tersebut menjadi jendela untuk melihat budaya kehidupan mahasiswa di kampus-kampus Tiongkok.
"Seru juga bisa tahu seperti apa kehidupan kampus di Tiongkok. Meski kurang paham lagunya. Saya pribadi berharap ada lagu EDM juga, jadi lebih seru," katanya sembari tertawa.
Bagi saya, malam itu justru menyisakan cerita yang berbeda.
Di balik meriahnya konser dan lautan cahaya light stick, musim panas Beijing menunjukkan sisi lain yang tak kalah mengesankan. Udara hangat yang masih bertahan meski malam telah turun membuat keringat terus mengalir.
Setelah beberapa lagu dimainkan, saya akhirnya memilih meninggalkan lokasi lebih awal. Menjauh dari panggung yang masih dipenuhi ribuan penonton.
Malam itu, saya pulang tanpa menyaksikan konser hingga usai. Namun, satu kesan tetap melekat kuat: di Renmin University of China, wisuda bukan sekadar seremoni akademik.
Ia dirayakan sebagai sebuah perpisahan yang hangat, penuh musik, dan meninggalkan kenangan yang mungkin akan terus dikenang para lulusannya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya