Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Menyusuri Subway di Kota Beijing. Mempelajari Arti Transportasi Publik yang Sesungguhnya

Eka Prasetya • Jumat, 10 Juli 2026 | 09:10 WIB
SUBWAY: Suasana subway di Kota Beijing. Transportasi publik ini menjadi salah satu andalan warga di Beijing. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
SUBWAY: Suasana subway di Kota Beijing. Transportasi publik ini menjadi salah satu andalan warga di Beijing. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

JIKA ada satu hal yang benar-benar mengubah cara saya menikmati Beijing selama sepekan terakhir, jawabannya bukan kemegahan Forbidden City, bukan pula deretan gedung pencakar langit yang mendominasi langit ibu kota Tiongkok. Perubahan itu justru dimulai dari sebuah lorong bawah tanah.

Di sanalah saya pertama kali berkenalan dengan Beijing Subway.

Pengalaman itu terjadi pada akhir Juni lalu. Pagi itu saya hendak menuju Distrik Tongzhou untuk menyaksikan Dragon Boat Festival. Lokasinya cukup jauh dari pusat kota. 

Sebagai orang yang baru beberapa hari berada di Beijing, saya sempat membayangkan perjalanan akan merepotkan. Berganti jalur di kota berpenduduk lebih dari 20 juta jiwa tentu terdengar rumit.

Namun semua kekhawatiran itu sirna hanya dalam hitungan menit.

Begitu melewati pemeriksaan keamanan, saya cukup menempelkan kartu debit dari Indonesia di gerbang otomatis. Tidak perlu membeli tiket. Tidak perlu menukar uang tunai. Bahkan tanpa mengunduh aplikasi apa pun. 

Kartu berlogo Mastercard, Visa, American Express, hingga JCB langsung terbaca sistem. Bagi pengguna dompet digital, pembayaran juga bisa dilakukan melalui QR Code Alipay.

Sesederhana itu.

Beberapa menit kemudian, kereta datang. Perjalanan pun dimulai.

Sejak hari itu, Beijing Subway praktis menjadi moda transportasi yang paling sering saya gunakan. Saya kerap berpindah dari satu sudut kota ke sudut lainnya menggunakan jaringan kereta bawah tanah tersebut.

Dari Tiananmen Square yang menjadi pusat politik Tiongkok, menuju Forbidden City yang sarat sejarah kekaisaran, berjalan santai di gang-gang tua Hutong, hingga menikmati sore di Beihai Park, semuanya dapat dijangkau hanya dengan beberapa kali berpindah jalur.

Selama tinggal di Renmin University of China (RUC), akses menuju stasiun pun terasa sangat mudah. Dari gerbang barat kampus, saya hanya berjalan sekitar lima menit menuju Stasiun Suzhou Jie di Jalur 10. Setelah itu, hampir seluruh penjuru Beijing seperti terbuka begitu saja.

Pilihan menggunakan subway juga jauh lebih masuk akal dibanding memesan taksi daring seperti Didi. Ongkosnya lebih murah, waktu tempuh lebih pasti, dan yang paling penting, terhindar dari kemacetan lalu lintas Beijing yang nyaris tak pernah benar-benar sepi.

Kalaupun ada tantangan, mungkin hanya satu: mendapatkan kursi.

Terutama ketika kereta memasuki Jalur 10, jalur lingkar yang menjadi urat nadi transportasi Beijing. Pada jam sibuk, gerbong hampir selalu dipenuhi penumpang. Mereka berdiri rapat, saling memberi ruang setiap kali pintu terbuka di stasiun berikutnya.

Namun justru di dalam gerbong itulah saya merasakan denyut kehidupan kota.

Pegawai kantoran yang sibuk menatap layar ponsel. Mahasiswa dengan ransel di punggung. Wisatawan yang memegang peta digital. Lansia yang duduk tenang sambil menikmati perjalanan. Semua berbagi ruang yang sama, bergerak mengikuti ritme kota yang nyaris tak pernah berhenti.

Tak heran jika Beijing Subway menjadi salah satu sistem transportasi bawah tanah tersibuk di dunia.

Hingga awal 2026, jaringan ini telah memiliki 30 jalur dengan panjang lintasan mencapai 909 kilometer dan melayani 423 stasiun, termasuk 106 stasiun transit. 

Rata-rata hampir 9,8 juta penumpang menggunakannya setiap hari. Bahkan pemerintah Beijing masih terus memperluas jaringan tersebut dengan target lebih dari 40 jalur pada 2035.

Yang membuat saya terkesan bukan hanya ukurannya.

Seluruh sistem terasa benar-benar terintegrasi. Petunjuk arah mudah dipahami, perpindahan antar lintas berlangsung mulus, sementara informasi tersedia dalam bahasa Mandarin maupun Inggris sehingga ramah bagi wisatawan.

Kesan serupa juga dirasakan Saurabh Kumar, jurnalis asal India yang mengikuti program China International Press Communication Center (CIPCC) bersama saya.

"Layanannya sangat terintegrasi. Semua stasiun terhubung satu dengan yang lain. Jadi mudah sekali untuk pergi ke mana-mana. Tidak perlu beli tiket khusus, cukup tap kartu bank, sehingga semuanya lebih mudah. Saya terbiasa menggunakan subway di India, tapi ini lebih mudah," katanya.

Pengalaman itu juga membekas bagi Beberg Arif, jurnalis asal Pakistan.

Menurutnya, negaranya memang memiliki sistem kereta bawah tanah, tetapi hanya tersedia di beberapa kota metropolitan.

"Pengalaman menggunakan subway sangat menyenangkan. Saya kira kota-kota metropolitan memang perlu memiliki sistem transportasi publik seperti ini," ujarnya.

Ucapan itu membuat pikiran saya melayang ke Bali.

Pulau yang setiap tahun menerima jutaan wisatawan tersebut masih bergulat dengan persoalan klasik: kemacetan. 

Jalur Denpasar, Badung hingga menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai hampir setiap hari dipenuhi antrean kendaraan. Perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu belasan menit sering kali berubah menjadi hampir satu jam.

Selama berada di Beijing, saya beberapa kali membayangkan bagaimana jika Bali memiliki sistem transportasi publik seperti ini. Wisatawan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kendaraan pribadi. Warga pun memiliki pilihan transportasi yang cepat, nyaman, terjangkau, dan bebas macet.

Harapan itu sejatinya pernah muncul. Pada 2024, proyek Subway Bali bahkan telah ditandai dengan peletakan batu pertama dan diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang untuk mengurai kemacetan di Pulau Dewata.

Namun dua tahun berlalu, pembangunan fisiknya belum juga tampak. Di saat Beijing terus memperpanjang lorong-lorong bawah tanahnya, Bali masih sibuk menunggu rencana menjadi kenyataan.

Perjalanan pertama saya menggunakan Beijing Subway akhirnya bukan sekadar kisah berpindah dari satu stasiun ke stasiun berikutnya. Lebih dari itu, kota sebesar apa pun tetap bisa terasa nyaman ketika transportasi publik dibangun dengan visi yang jelas, dikelola secara terintegrasi, dan benar-benar berpihak kepada masyarakat yang menggunakannya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
#beijing #tiongkok #china #buleleng