Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
SELEMBAR kertas merah dan sebuah gunting kecil diletakkan di depan saya. Tidak ada yang tampak istimewa. Ukurannya bahkan tak lebih besar dari buku tulis. Namun, beberapa menit kemudian saya menyadari, benda sesederhana itu ternyata menyimpan jejak sejarah Tiongkok yang telah bertahan lebih dari dua ribu tahun.
Pagi itu, Rabu (16/7/2026), puluhan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) mengikuti kelas seni potong kertas Jianzhi (剪纸) di Lide Building, Renmin University of China, Beijing.
Di ruang kelas itulah saya memahami bahwa sebuah peradaban tak selalu diwariskan melalui istana megah, tembok raksasa, atau artefak mahal. Kadang, ia hidup melalui selembar kertas yang dipotong dengan penuh ketelatenan.
Kelas dibuka dengan pengenalan sejarah Jianzhi, salah satu seni rakyat tertua di Tiongkok yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2009.
Tradisi memotong lembaran emas, perak, hingga kulit sebenarnya sudah dikenal sejak Dinasti Shang, sekitar abad ke-16 hingga ke-11 sebelum Masehi.
Namun Jianzhi berkembang pesat setelah Cai Lun menyempurnakan teknologi pembuatan kertas pada masa Dinasti Han Timur sekitar tahun 105 Masehi.
Sejak harga kertas semakin terjangkau, masyarakat mulai memanfaatkannya bukan hanya sebagai hiasan rumah, tetapi juga media menyampaikan doa, harapan, dan berbagai simbol kehidupan.
Tak heran jika hampir semua karya Jianzhi menggunakan kertas berwarna merah. Dalam budaya Tiongkok, merah melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, kemakmuran, sekaligus dipercaya mampu menangkal hal-hal buruk.
Setiap potongan pun memiliki filosofi tersendiri. Naga dan burung phoenix menjadi lambang keharmonisan sehingga kerap menghiasi dekorasi pernikahan. Sementara buah persik dipercaya melambangkan umur panjang dan kesehatan.
Meski memiliki akar budaya yang sama, gaya Jianzhi berkembang berbeda di setiap wilayah Tiongkok.
Di bagian utara, karya-karyanya tampil tegas dengan garis-garis tebal yang banyak mengangkat kehidupan petani, hewan ternak, hingga cerita rakyat.
Sebaliknya, wilayah selatan seperti Jiangsu dan Guangdong dikenal menghasilkan potongan yang jauh lebih rumit. Bunga, burung, serangga, hingga lanskap alam dipahat dengan detail halus menyerupai renda.
Namun di balik keindahan itu, ada satu aturan yang tak boleh dilanggar.
Setiap potongan harus tetap saling terhubung dalam satu kesatuan. Tak boleh ada bagian yang terputus dari pola utama. Satu kesalahan kecil saja bisa membuat seluruh karya gagal.
Saat mendengar penjelasan tersebut, saya sempat membayangkan betapa sulitnya membuat Jianzhi. Dugaan itu ternyata benar.
Setelah sesi teori usai, kami langsung diminta mempraktikkan teknik dasar. Pola pertama yang harus dibuat adalah seekor panda. Sekilas terlihat sederhana.
Namun ketika gunting mulai bergerak mengikuti garis lipatan, saya baru menyadari bahwa meleset beberapa milimeter saja bisa mengubah bentuk keseluruhan.
Ketika lipatan kertas dibuka perlahan, seekor panda mungil akhirnya muncul. Rasa puas pun tak bisa disembunyikan.
Tantangan berikutnya jauh lebih rumit.
Kami diminta membentuk siluet beberapa orang yang saling bergandengan tangan. Kesulitannya bukan pada memotong pola, melainkan memastikan seluruh figur tetap menyatu tanpa ada satu tangan pun yang terputus.
Di sinilah "aturan emas" Jianzhi benar-benar diuji. Beberapa peserta tanpa sengaja memotong terlalu dalam sehingga satu demi satu figur terlepas dari rangkaian. Suasana kelas pun langsung dipenuhi gelak tawa.
Latihan terakhir menjadi sesi paling menyenangkan. Tak ada lagi pola yang harus diikuti. Kami bebas menuangkan imajinasi masing-masing, selama setiap garis tetap saling terhubung.
Dalam hitungan menit, selembar kertas merah berubah menjadi bunga, dedaunan, pola geometris, hingga bentuk-bentuk abstrak yang hanya dimengerti sang pembuat.
Emma, instruktur yang mendampingi kelas tersebut, mengatakan Jianzhi merupakan seni yang dapat dipelajari siapa saja. Bahkan, menurutnya, tidak sedikit penyandang disabilitas di Tiongkok yang menjadikan kerajinan ini sebagai sumber penghasilan.
"Kerajinan ini bisa dilakukan oleh semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Saya mengenal beberapa orang yang menjadikan Jianzhi sebagai cara mereka mencari nafkah. Saya berharap teman-teman jurnalis juga dapat mempelajarinya dan memperkenalkannya di negara masing-masing," ujarnya.
Pengalaman itu juga meninggalkan kesan bagi Alexandra, jurnalis asal Serbia. Ia mengaku baru pertama kali mengenal seni potong kertas tradisional Tiongkok.
"Saya memang tidak ahli dalam kerajinan. Mungkin hasil saya berantakan karena tidak maksimal. Tetapi kelas ini sangat menyenangkan," katanya sambil tertawa.
Di Tiongkok kuno, kemampuan membuat Jianzhi pernah menjadi keterampilan yang hampir wajib dimiliki perempuan desa sebagai bekal memasuki kehidupan berumah tangga. Kini, seni itu telah berevolusi menjadi karya budaya yang dipamerkan di galeri, diajarkan di universitas, hingga diperkenalkan kepada masyarakat dunia.
Dari selembar kertas merah dan sebuah gunting kecil di ruang kelas Renmin University pagi itu, saya belajar satu hal: sebuah peradaban besar tidak selalu bertahan karena bangunan megah atau teknologi canggih. Kadang, ia tetap hidup karena ada orang-orang yang sabar menjaga tradisi, satu potongan kecil demi satu potongan berikutnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng