SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Wacana pembangunan Bandara Bali Utara atau Bandara Buleleng kembali mencuat.
Pemkab Buleleng mengungkapkan bahwa rencana proyek strategis tersebut sebenarnya sudah dibahas dalam pertemuan tingkat pusat. Namun, keputusan akhir mengenai realisasinya masih sepenuhnya berada di tangan pemerintah pusat.
Isu pembangunan bandara kembali menghangat setelah Paiketan Puri-Puri se-Bali bersama sejumlah raja dan sultan dari berbagai daerah di Indonesia menyampaikan aspirasi pembangunan Bandara Bali Utara kepada Kepala Staf Kepresidenan (KSP) RI di Jakarta pada Jumat (17/7/2026).
Pertemuan itu kembali memantik harapan masyarakat terhadap proyek yang telah lama diwacanakan.
Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra mengaku tidak mengetahui agenda pertemuan tersebut. Bahkan, pemerintah daerah baru mengetahui informasi itu melalui pemberitaan media sehingga tidak terlibat dalam penyampaian aspirasi tersebut.
Meski demikian, Sutjidra menegaskan bahwa pembahasan mengenai Bandara Bali Utara sebenarnya sudah lebih dahulu dilakukan.
Menurutnya, Pemprov Bali, Pemkab Buleleng, dan Kementerian Perhubungan telah menggelar rapat yang dihadiri langsung Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, Direktur Jenderal Perhubungan Laut, serta Direktur Jenderal Perhubungan Udara.
Pertemuan tersebut berlangsung di Bali pada Kamis (9/7/2026), bertepatan dengan kunjungan kerja Menteri Perhubungan ke Kabupaten Buleleng.
"Terkait pembangunan transportasi, Pemprov dan Pemkab sudah memiliki kesepahaman. Selanjutnya akan ada evaluasi dan komunikasi lanjutan. Pak Gubernur Bali juga sudah siap untuk itu," ujar Sutjidra, Minggu (19/7/2026).
Kendati demikian, ia belum dapat memastikan lokasi pembangunan bandara. Menurutnya, seluruh keputusan, termasuk apakah bandara akan dibangun di wilayah Buleleng bagian barat atau timur, bahkan konsepnya di daratan atau reklamasi laut, masih menunggu keputusan pemerintah pusat.
Sutjidra mengungkapkan, hasil pembahasan bersama Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur pendukung akan menjadi prioritas sebelum proyek bandara direalisasikan.
Salah satu rencana yang dikaji adalah peningkatan konektivitas melalui pelebaran Jalur Pantura Bali yang membentang dari Gilimanuk hingga Karangasem.
Selain itu, juga terdapat rencana pengembangan jalur dari Gilimanuk menuju Bali bagian selatan yang berpotensi diwujudkan dalam bentuk jalan tol.
Menurutnya, kajian Kementerian Perhubungan menyebut keberadaan jalan tol menjadi faktor penting agar waktu tempuh antar bandara di Bali tidak melebihi dua jam. Aspek tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan jaringan transportasi di Pulau Dewata.
Karena itu, Sutjidra meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan berbagai informasi yang beredar mengenai pembangunan Bandara Bali Utara.
"Pemkab Buleleng tentu terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Selama belum ada keputusan resmi, kami mengajak masyarakat bersabar dan tidak mudah tergiring opini-opini yang justru merugikan," tegasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng