Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
DI TIBET, ada sebuah "kampus" yang tidak mengenal papan tulis digital, proyektor, ataupun ruang kuliah modern.
Ruang belajarnya berada di halaman terbuka. Materi yang dipelajari bukan matematika atau ilmu ekonomi, melainkan logika, filsafat, dan hakikat kehidupan. Cara mengujinya pun unik: berdebat.
Saya sebenarnya datang dengan satu harapan besar ketika menginjakkan kaki di Sera Monastery, salah satu biara tertua di Kota Lhasa, Provinsi Xizang (Tibet), Tiongkok.
Saya ingin menyaksikan langsung tradisi debat para biksu yang selama ini hanya saya lihat lewat video dan foto-foto di internet.
Sayangnya, harapan itu harus pupus. Jarum jam baru mendekati pukul 12.00 siang ketika rombongan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik memasuki kompleks biara. Sementara sesi debat para biksu baru dimulai sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Kami datang tiga jam terlalu cepat.
Meski demikian, rasa kecewa perlahan tergantikan oleh kekaguman saat mulai menyusuri kompleks biara yang berdiri sejak 1419 tersebut. Sera Monastery ternyata bukan sekadar tempat ibadah. Selama lebih dari enam abad, tempat ini menjadi salah satu pusat pendidikan Buddhisme paling berpengaruh di Tibet.
Sera Monastery merupakan satu dari tiga biara besar aliran Gelug di Tibet, bersama Drepung Monastery dan Ganden Monastery. Ketiganya memiliki peran yang berbeda.
Ganden dikenal sebagai pusat praktik tantra. Drepung sejak dahulu berkembang menjadi pusat administrasi politik dan ekonomi Tibet. Sedangkan Sera Monastery mendapat julukan sebagai "kampus logika" karena menjadi tempat para biksu belajar filsafat, dialektika, dan seni berdebat.
Tak heran jika nama Sera Monastery identik dengan tradisi debat para biksu.
Menurut pemandu kami, Ping Ping, debat yang berlangsung setiap sore bukanlah atraksi untuk wisatawan. Tradisi itu merupakan bagian dari metode pendidikan yang telah diwariskan secara turun-temurun.
"Perdebatan mereka sangat filosofis. Satu persoalan sederhana saja bisa dibahas selama berjam-jam," tuturnya.
Ping Ping lalu mengambil contoh yang membuat saya tersenyum. Sebotol air minum.
Bagi kebanyakan orang, botol hanyalah wadah untuk menyimpan air. Namun di hadapan para biksu Sera Monastery, benda sesederhana itu dapat berubah menjadi bahan diskusi panjang tentang logika, hakikat keberadaan, hubungan sebab-akibat, hingga makna kehidupan.
Semua disampaikan melalui argumentasi yang runtut. Tidak ada emosi. Tidak ada suara meninggi. Yang ada hanyalah adu nalar.
Tradisi itu lahir dari proses pendidikan yang tidak singkat. Anak-anak yang bercita-cita menjadi biksu biasanya mulai tinggal di biara sejak usia tujuh atau delapan tahun. Mereka kemudian menjalani pendidikan selama 15 hingga 20 tahun.
Selain mempelajari kitab-kitab suci Buddha, mereka juga mendalami filsafat Buddhis, logika, meditasi, hingga dialektika. Kemampuan berpikir kritis menjadi bagian penting dalam proses pembentukan mereka.
Debat menjadi ujian untuk mengukur seberapa dalam pemahaman mereka terhadap ajaran Buddha.
Setelah menyelesaikan pendidikan, para biksu akan menjalankan tugas sesuai kebutuhan. Ada yang mengajar di biara lain. Ada pula yang dipercaya bertugas di Potala Palace sebagai administrator, pengawas stupa makam Dalai Lama, maupun memimpin berbagai upacara keagamaan.
Tak hanya menjadi pusat pendidikan, Sera Monastery juga menjadi salah satu tujuan ziarah umat Buddha dari berbagai wilayah Tibet.
Di dalam aula-aulanya tersimpan ribuan patung Buddha berlapis emas yang berjajar rapi. Salah satu yang paling dihormati adalah patung Buddha Maitreya.
Perhatian saya kemudian tertuju pada manuskrip-manuskrip kuno yang disimpan di beberapa ruangan.
Lembaran kitab itu ditulis menggunakan tinta emas dan, menurut Ping Ping, sebagian berasal dari awal abad ke-15, tidak lama setelah biara didirikan.
Usianya telah melampaui enam abad. Namun, kondisinya masih terawat dengan sangat baik.
Ada satu pemandangan lain yang membuat saya penasaran. Beberapa warga datang membawa patung Buddha berukuran kecil. Awalnya saya mengira patung-patung itu merupakan persembahan untuk biara.
Ternyata saya keliru. Ping Ping menjelaskan, masyarakat Tibet memiliki tradisi membawa arca Buddha ke biara sebelum ditempatkan di altar rumah.
Patung-patung tersebut akan didoakan para biksu selama lima hingga tujuh hari. Setelah ritual selesai, pemiliknya kembali datang untuk membawanya pulang.
"Masyarakat percaya, kalau patung langsung ditempatkan di rumah tanpa didoakan terlebih dahulu, patung itu masih 'kosong'," jelasnya.
Sebagaimana saat mengunjungi Potala Palace, seluruh pengunjung juga diwajibkan berjalan mengikuti arah jarum jam. Jalur kunjungan dibuat satu arah sehingga tidak ada orang yang berjalan berlawanan.
Aturan lain juga diterapkan dengan ketat. Pengunjung sama sekali tidak diperbolehkan mengambil foto maupun video di dalam bangunan.
Saya memang gagal menyaksikan debat para biksu yang menjadi ikon Sera Monastery. Namun, saya justru pulang dengan pemahaman baru tentang makna pendidikan.
Di biara yang telah berdiri lebih dari 600 tahun itu, pendidikan tidak hanya diukur dari kemampuan menghafal kitab suci. Para biksu ditempa melalui disiplin, meditasi, latihan bernalar, dan keberanian menguji setiap pemikiran dengan logika.
Mereka berdebat bukan untuk mencari siapa yang menang. Melainkan untuk menemukan kebenaran. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng