SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Ketika persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah di berbagai daerah di Bali, Desa Adat Buleleng justru telah lebih dulu mempraktikkan pengelolaan sampah berbasis sumber.
Lewat Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Nekat Kedas, sampah yang selama ini dianggap tak bernilai disulap menjadi produk yang bermanfaat bagi lingkungan.
TPS3R Nekat Kedas berlokasi di kawasan Setra Desa Adat Buleleng. Sekilas lokasinya mungkin tidak biasa, karena berada di area yang identik dengan aktivitas upacara keagamaan.
Namun justru dari tempat inilah lahir konsep pengelolaan sampah yang unik dan berkelanjutan.
Berbeda dengan tempat pengolahan sampah pada umumnya, TPS3R Nekat Kedas lebih banyak menangani sisa-sisa sarana yadnya dan sampah organik yang berasal dari kegiatan keagamaan.
Selama ini, berbagai jenis buah, bunga, janur, hingga dedaunan bekas upacara seringkali berakhir sebagai limbah setelah digunakan.
Padahal, jika dikelola dengan baik, material tersebut masih memiliki nilai guna yang tinggi.
“Kami kelola sampah agar sisa yadnya dan sampah daun tidak terbuang sia-sia,” ujar Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna.
Di tempat ini, sampah organik yang terkumpul dipilah dan diolah menjadi kompos. Hasilnya pun cukup menjanjikan.
Dalam sehari, TPS3R Nekat Kedas mampu menghasilkan satu compost bag dengan kapasitas sekitar 80 kilogram. Jika diakumulasikan, produksi kompos mencapai sekitar 2,4 ton setiap bulan.
Kompos tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mendukung kesuburan tanaman sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Tak hanya menghasilkan kompos, TPS3R Nekat Kedas juga mengembangkan produksi eco enzyme.
Cairan hasil fermentasi bahan organik ini dipercaya memiliki banyak manfaat bagi lingkungan, mulai dari membantu memperbaiki kualitas tanah hingga mendukung pertumbuhan tanaman.
Menariknya, bahan baku eco enzyme sebagian besar berasal dari sisa buah-buahan yang digunakan dalam berbagai rangkaian yadnya.
Ketimbang berakhir di tempat sampah, limbah organik tersebut diolah kembali menjadi produk yang memiliki nilai ekologis.
Desa Adat Buleleng juga menggandeng Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) dalam pengembangan program tersebut.
Kolaborasi itu dilakukan untuk memastikan proses pengolahan berjalan optimal sekaligus memberikan manfaat yang lebih besar bagi lingkungan.
“Kami bekerja sama dengan Undiksha. Eco enzyme ini kami buat dari sisa-sisa yadnya, utamanya buah-buahan. Karena jumlahnya sangat banyak, kami ingin agar tidak terbuang begitu saja,” tegas Sutrisna.
Saat ini, stok eco enzyme yang tersimpan di TPS3R Nekat Kedas disebut telah mencapai sekitar enam hingga tujuh ton.
Cairan tersebut nantinya digunakan untuk mendukung pelestarian lingkungan serta membantu menyuburkan tanah dan tanaman.
Keberadaan TPS3R Nekat Kedas membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak selalu berbicara soal pembuangan.
Sebaliknya, sampah bisa menjadi awal dari siklus baru yang memberi manfaat bagi alam.
Dari sisa yadnya yang sebelumnya dianggap limbah, kini lahir kompos dan eco enzyme yang kembali menghidupkan lingkungan. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng