Dari Bukit Tandus Menjadi Hutan Kota, Menyusuri Jejak Penghijauan Ambisius Pemerintah Tiongkok di Tibet

Eka Prasetya • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 20:53 WIB
OASE DI TIBET: Suasana di Nanshan Park, Kota Lhasa, Provinsi Xizang, Tiongkok. Taman tersebut menjadi oase di pusat kota Lhasa, Tibet. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
OASE DI TIBET: Suasana di Nanshan Park, Kota Lhasa, Provinsi Xizang, Tiongkok. Taman tersebut menjadi oase di pusat kota Lhasa, Tibet. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

SULIT membayangkan kawasan hijau yang saya pijak di Nanshan Park, Kota Lhasa, Provinsi Xizang (Tibet), Tiongkok, dulunya hanyalah hamparan bukit berbatu. 

Di hadapan saya kini, pepohonan tumbuh rimbun, kolam-kolam dipenuhi ikan, burung beterbangan bebas, sementara beberapa rusa sesekali muncul dari balik semak. Pemandangan itu terasa kontras dengan cerita yang saya dengar sesaat setelah tiba.

"Kalau dulu, tidak ada yang datang ke sini. Isinya hanya bukit batu," tutur Ping Ping, pemandu yang mendampingi saya bersama rombongan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik selama berada di Lhasa.

Kini suasananya berbalik 180 derajat. Setiap akhir pekan, ribuan warga memadati taman yang berada di sisi selatan Kota Lhasa tersebut. 

Ada yang datang bersama keluarga, berolahraga, berpiknik, membawa hewan peliharaan, hingga mendaki menuju titik tertinggi taman yang dikenal sebagai Puncak Zǔguó Wànsuì.

Transformasi itu bukanlah proses yang terjadi begitu saja. Di balik hijaunya Nanshan Park, tersimpan proyek penghijauan berskala besar yang menjadi bagian dari ambisi Pemerintah Tiongkok mengubah wajah Tibet—wilayah yang selama ini dikenal sebagai "Atap Dunia" dengan bentang alam pegunungan tinggi dan iklim yang kering.

Selama beberapa hari berada di Lhasa, saya mulai menyadari pola yang sama di berbagai sudut kota. Jalur-jalur utama dipenuhi pepohonan. Median jalan tampak hijau. Bukit-bukit yang mengelilingi kota pun mulai diselimuti vegetasi. Sulit membayangkan kawasan ini pernah didominasi lereng tandus dan bebatuan.

Belakangan saya mengetahui, perubahan tersebut merupakan hasil program konservasi lingkungan yang telah dijalankan selama puluhan tahun. 

Sejak dekade 1990-an, Pemerintah Tiongkok menggulirkan berbagai proyek rehabilitasi ekologi untuk menjaga kawasan hulu sungai, menekan laju penggurunan, memperbaiki kualitas tanah, sekaligus meningkatkan tutupan hutan di Tibet.

Upaya itu memasuki babak baru pada 2021 melalui Proyek Penghijauan Gunung Utara-Selatan Lhasa. 

Targetnya sangat ambisius. Dalam kurun sepuluh tahun, pemerintah menargetkan penghijauan seluas sekitar 137.813 hektare di kawasan pegunungan yang mengelilingi Lhasa.

Secara keseluruhan, kawasan tersebut diproyeksikan memiliki tutupan hutan hingga sekitar 705.333 hektare. Khusus sepanjang 2026, pemerintah menargetkan penanaman hutan baru seluas sekitar 1.467 hektare.

Nanshan Park menjadi salah satu bukti paling nyata dari proyek tersebut. Penghijauan kawasan ini bahkan telah dimulai lebih awal, tepatnya pada 2012, sebagai proyek percontohan untuk memperluas ruang hijau di kawasan perkotaan.

Hasilnya kini terlihat jelas. Lebih dari satu juta pohon dari sekitar 120 spesies tumbuh di kawasan yang sebelumnya hanya berupa bukit tandus.

"Kalau sekarang, di sana sudah ada kolam, ikan, burung, bebek, bahkan rusa. Ekosistemnya benar-benar hidup," kata Ping Ping.

Perubahan itu membuat Nanshan Park menjelma menjadi salah satu ruang publik paling populer di Lhasa. Setiap akhir pekan, taman ini dikunjungi sekitar 2.000 hingga 5.000 orang. Menariknya, seluruh fasilitas dapat dinikmati masyarakat tanpa dipungut biaya.

Sejak pagi, jalur pedestrian dipenuhi warga yang berjalan santai atau berlari. Sebagian memilih duduk di bawah rindangnya pepohonan. Sebagian lainnya mendaki hingga Puncak Zǔguó Wànsuì untuk menikmati panorama Kota Lhasa dari ketinggian, dengan latar Pegunungan Himalaya yang membentang di kejauhan.

Di salah satu sudut taman, saya bertemu Rami, warga Lhasa yang tengah mengajak anjing peliharaannya berjalan-jalan. Baginya, taman ini telah menjadi bagian dari rutinitas akhir pekan.

"Hampir setiap akhir pekan saya datang ke sini. Sekalian mengajak anjing jalan-jalan. Lumayan untuk melepas penat setelah bekerja selama seminggu," ujarnya sambil tersenyum.

Percakapan singkat itu memperlihatkan bahwa Nanshan Park kini bukan sekadar kawasan penghijauan. Ia telah berubah menjadi ruang sosial tempat warga berkumpul, berolahraga, menikmati alam, sekaligus merasakan manfaat langsung dari perubahan lingkungan di sekitar mereka. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
beijing tibet tiongkok china buleleng