Opera Termegah di Tibet. Saat Sejarah, Alam, dan Teknologi Menyatu

Eka Prasetya • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 11:41 WIB
OPERA KOLOSAL: Pementasan Princess Wencheng di Kota Lhasa, Tibet. Pementasan kolosal tersebut sudah dipentaskan sejak 2013. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
OPERA KOLOSAL: Pementasan Princess Wencheng di Kota Lhasa, Tibet. Pementasan kolosal tersebut sudah dipentaskan sejak 2013. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

DERETAN toko penyewaan selimut menjadi pemandangan pertama yang menyambut saya ketika memasuki Taman Kreatif Pariwisata Budaya Tiongkok-Tibet di Lembah Cijue Lin, Kota Lhasa, Provinsi Xizang (Tibet), Tiongkok.

Pemandangan itu terasa janggal. Selimut yang disewakan bukan selimut biasa. Ukurannya hampir sebesar bed cover, cukup untuk membungkus tubuh dari kepala hingga kaki.

Awalnya saya mengira itu sekadar cara pedagang mencari keuntungan. Rasanya aneh jika orang harus menyewa selimut hanya untuk menonton pertunjukan seni.

Jawabannya baru saya dapatkan dua jam kemudian.

Malam kian larut. Angin dari Gunung Bumpa mulai berembus semakin kencang, menyapu tribun terbuka tanpa ampun. Suhu terus merosot hingga menusuk tulang. Jari-jari tangan perlahan kehilangan rasa, telinga mulai nyeri diterpa udara dingin khas dataran tinggi Tibet.

Saat itulah saya menyadari bahwa selimut tebal yang dijajakan sejak pintu masuk bukan aksesori wisata, melainkan kebutuhan. Ribuan penonton yang datang setiap malam memang membutuhkannya untuk bertahan menikmati pertunjukan hingga usai.

Malam itu saya bersama para jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik berkesempatan menyaksikan salah satu pertunjukan panggung terbesar di Tibet, Princess Wencheng.

Belum lima menit pertunjukan dimulai, mata saya langsung tertuju ke arah Gunung Bumpa yang menjulang gagah di belakang panggung. Gunung itu bukan sekadar latar dekorasi. Ia menjadi bagian dari panggung utama.

Permainan cahaya diproyeksikan langsung ke lereng gunung. Kabut buatan, tata lampu, dan teknologi visual membuat bentang alam tersebut seolah hidup mengikuti alur cerita.

Tak lama berselang, ratusan penari memenuhi arena pertunjukan. Iringan musik mengalun megah ketika puluhan kuda berlari melintasi panggung, disusul kawanan domba yang menjadi bagian dari adegan. Di atas semuanya, langit malam Tibet bertabur bintang menjadi langit-langit alami pertunjukan.

Saya hanya bisa berdecak kagum.

Beberapa jurnalis di samping saya bahkan berkali-kali mengangkat telepon genggam untuk mengabadikan setiap adegan. Sulit rasanya mengalihkan pandangan dari panggung yang terus menyuguhkan kejutan.

Princess Wencheng bukan sekadar opera kolosal yang memanjakan mata. Pertunjukan berdurasi sekitar dua jam itu mengangkat kisah nyata pada abad ke-7 ketika Putri Wencheng dari Dinasti Tang dipersunting Raja Songtsen Gampo, penguasa Kerajaan Tubo atau Tibet kuno. Pernikahan tersebut dikenang sebagai simbol perdamaian sekaligus awal pertukaran budaya antara wilayah Tiongkok dan Tibet.

Kisah sejarah itu kemudian dihidupkan melalui produksi berskala raksasa.

Lebih dari 800 penari dan aktor terlibat dalam setiap pementasan. Puluhan kuda dan domba asli ikut tampil mendukung alur cerita. Bahkan alam menjadi bagian yang tak terpisahkan dari panggung. Gunung, lembah, udara malam, hingga langit penuh bintang semuanya menyatu membentuk pengalaman yang nyaris mustahil ditemukan di teater konvensional.

Opera ini pertama kali dipentaskan pada 2013. Dalam lebih dari satu dekade, Princess Wencheng telah dipentaskan lebih dari seribu kali dan menjelma sebagai ikon wisata malam Kota Lhasa.

Setiap musim panas, sekitar April hingga Oktober, pertunjukan digelar hampir setiap malam. Ketika musim dingin tiba, pementasan dihentikan karena cuaca ekstrem di dataran tinggi Tibet membuat pertunjukan terbuka tidak memungkinkan.

Harga tiketnya pun tidak murah.

Kursi reguler dipasarkan mulai 380 hingga 480 RMB atau sekitar Rp 980 ribu sampai Rp 1,2 juta. Sementara kursi premium dibanderol 580 hingga 880 RMB, setara sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2,2 juta.

Namun harga tersebut tampaknya bukan persoalan. Ribuan kursi hampir selalu terisi penuh setiap malam.

Selain menjadi magnet wisata, pertunjukan ini juga membuka ribuan lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal dan menjadi salah satu penggerak ekonomi pariwisata Kota Lhasa.

Di balik kemegahan itu berdiri nama Mei Shuaiyuan, sutradara yang dikenal luas sebagai kreator berbagai pertunjukan kolosal berlatar alam terbuka di Tiongkok.

Menariknya, dalam Princess Wencheng, Mei memilih mengisahkan sang putri dari sudut pandang masyarakat Tibet.

Menurutnya, Putri Wencheng menghabiskan sebagian besar hidupnya di Tibet sehingga masyarakat setempat memiliki cara tersendiri untuk mengenang dan menghormatinya.

Untuk menjaga keaslian budaya Tibet, Mei menggandeng Bai Ji sebagai asisten sutradara sekaligus direktur artistik. Sutradara asal Tibet yang juga menjabat Wakil Ketua Asosiasi Tari Tibet itu memastikan setiap gerakan tari, kostum, musik, hingga unsur budaya yang ditampilkan tetap berpijak pada tradisi masyarakat setempat.

Yang lebih menarik lagi, tim produksi tidak pernah menganggap pertunjukan ini sebagai karya yang selesai.

Sejak dipentaskan perdana pada 2013, evaluasi dilakukan hampir setiap tahun. Teknologi panggung terus diperbarui, tata cahaya disempurnakan, alur cerita dipoles kembali, bahkan posisi figuran pun diatur ulang agar tidak ada satupun adegan yang terasa sia-sia.

Keseriusan itu benar-benar terasa sepanjang pertunjukan.

Salah satu momen paling memukau terjadi ketika efek salju buatan mulai turun perlahan dari atas tribun penonton. Serpihan putih beterbangan, berpadu dengan sorotan cahaya kebiruan yang mengubah suasana seolah musim dingin sungguhan tengah menyelimuti Lhasa.

Penonton spontan bersorak.

Sebagian mengulurkan tangan mencoba menangkap serpihan salju. Saya pun sempat lupa bahwa semuanya hanyalah efek visual. Begitu meyakinkan hingga batas antara kenyataan dan pertunjukan seakan menghilang.

Kekaguman serupa juga dirasakan Saurabh Kumar, jurnalis asal India yang telah menyaksikan berbagai pertunjukan seni di banyak negara.

"Saya sudah menyaksikan banyak sekali jenis pertunjukan, tapi yang ini benar-benar beda, kolosal, dan luar biasa. Saya tidak pernah menyaksikan pementasan seperti ini sebelumnya," ujarnya.

Menurut Saurabh, tim produksi sebenarnya bisa saja membuat pertunjukan yang biasa-biasa saja.

"Tapi sepertinya 'biasa' bukan hal yang berlaku untuk China. Mereka membuat pementasan ini benar-benar luar biasa," katanya sambil tersenyum.

Jurnalis asal Indonesia, Nadia Ayu Soraya, juga tak mampu menyembunyikan emosinya.

"Saya berkali-kali merinding saat menyaksikan pementasan ini. Hampir menangis menontonnya. Benar-benar tidak terlupakan," tuturnya.

Saya memahami betul apa yang mereka rasakan.

Sepanjang dua jam pertunjukan, saya berkali-kali dibuat terpana. Waktu berlalu begitu cepat. Yang tersisa bukan sekadar kisah cinta Putri Wencheng dan Raja Songtsen Gampo, melainkan pengalaman menyaksikan bagaimana sejarah, budaya, teknologi, dan lanskap alam Tibet berpadu menjadi sebuah opera kolosal yang sulit dicari tandingannya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
beijing tibet tiongkok china buleleng