SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Sorotan publik terhadap kasus tewasnya KD, warga Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, yang menjadi korban amuk massa di Tabanan, ternyata menyisakan persoalan lain.
Ada dua orang anak yang ditinggalkan kini harus menghadapi beban psikologis akibat kehilangan ayah, sekaligus menjadi perhatian banyak orang.
Psikolog dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Buleleng mengkhawatirkan kondisi mental kedua anak tersebut semakin terpengaruh karena kerap menjadi objek pengambilan gambar saat menerima kunjungan maupun bantuan dari berbagai pihak.
Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, bantuan memang terus berdatangan. Namun, tidak sedikit yang disertai dokumentasi dan pembuatan konten. Kondisi itu dikhawatirkan justru menghambat proses pemulihan psikologis anak-anak.
Diketahui, KD meninggalkan dua orang anak yang masih berstatus pelajar. Salah satunya masih duduk di bangku sekolah dasar sehingga membutuhkan perhatian khusus dalam proses pemulihan emosional.
Psikolog Dinsos P3A Kabupaten Buleleng, Luh Putu Yuli Surya Dewi bersama Tasya Yumika, mengatakan kehilangan sosok ayah secara mendadak dapat memunculkan berbagai reaksi emosional pada anak.
"Yang jelas berdampak. Muncul kesedihan, kecemasan, rasa takut, bingung juga. Pastinya sulit berkonsentrasi," ujar Yuli.
Menurutnya, kedua anak menunjukkan respons yang berbeda karena faktor usia dan tingkat perkembangan emosional masing-masing.
Anak sulung yang duduk di bangku SMA disebut cenderung lebih pendiam setelah peristiwa tersebut. Meski demikian, tim psikolog terus memantau perkembangan kondisinya, terutama saat nanti kembali menjalani aktivitas belajar di sekolah.
Sementara itu, sang adik yang masih berusia sekolah dasar memperlihatkan kondisi emosional yang lebih fluktuatif.
Dalam beberapa kesempatan ia tampak ceria ketika banyak orang datang berkunjung, tetapi di waktu lain bisa tiba-tiba menangis histeris tanpa diduga.
"Jadi fokus kami adalah memastikan kembali kondisi emosional anak. Kami observasi terlebih dahulu, terkait dengan psikoedukasi yang akan dilakukan," jelasnya.
Untuk mendukung proses pemulihan, Dinsos P3A terus memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga.
Apabila memungkinkan, sesi konseling akan dilakukan di luar rumah atau di pusat layanan konseling agar anak berada di lingkungan yang lebih kondusif.
Namun jika kondisi tidak memungkinkan, tim psikolog akan mendatangi langsung kediaman keluarga agar pendampingan tetap berjalan secara berkelanjutan.
Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu kedua anak memproses duka, mengurangi trauma, serta memulihkan rasa aman sehingga mereka dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara bertahap. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng