Cahaya Merah Menyala di Tengah Pekuburan, Rumah Pohon Bersejarah di Buleleng Disiapkan Jadi Destinasi Wisata

Francelino Junior • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 18:05 WIB
RUMAH POHON: Keberadaan rumah pohon di Setra Desa Adat Buleleng.
RUMAH POHON: Keberadaan rumah pohon di Setra Desa Adat Buleleng.

 

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Saat malam mulai turun di Kota Singaraja, ada pemandangan tak biasa yang menarik perhatian pengguna Jalan Gajah Mada. 

Di tengah kawasan Setra Desa Adat Buleleng, tampak cahaya kemerahan menyala dari atas sebuah pohon kepuh raksasa.

Bagi mereka yang belum mengetahui kisah di baliknya, pemandangan itu bisa saja memunculkan rasa penasaran, bahkan sedikit merinding. 

Bagaimana tidak, cahaya merah tersebut muncul dari area kuburan dan berasal dari sebuah rumah pohon yang berdiri puluhan meter di atas tanah.

Namun, rumah pohon itu bukanlah bagian dari cerita mistis. Sebaliknya, bangunan tersebut merupakan salah satu saksi bisu sejarah perjuangan masyarakat Buleleng yang kini kembali dihidupkan oleh Desa Adat Buleleng.

Melalui program revitalisasi, rumah pohon yang berada di kawasan setra tersebut disulap menjadi objek wisata sejarah dan budaya. 

Desa Adat Buleleng berharap keberadaannya tidak hanya menjadi spot foto unik, tetapi juga menjadi ruang edukasi bagi masyarakat dan wisatawan.

“Ke depan, rumah pohon ini tidak hanya menjadi tempat berfoto, tetapi juga sebagai ruang edukasi yang menceritakan peran penting Buleleng pada masa lalu, khususnya terkait sejarah pelabuhan dan perjuangan masyarakat dalam menjaga wilayah,” ujar Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna.

Di balik bentuknya yang sederhana, rumah pohon itu menyimpan kisah panjang tentang perjuangan warga Bali Utara. 

Pada masa lalu, bangunan tersebut difungsikan sebagai pos pengamatan kapal yang keluar masuk Pelabuhan Buleleng.

Saat itu, Bali Utara dikenal sebagai pusat perdagangan sekaligus pintu gerbang utama Pulau Bali. 

Posisi pohon kepuh yang menjulang tinggi membuat rumah pohon menjadi titik strategis untuk memantau aktivitas di laut tanpa mudah diketahui pihak luar.

Menurut Sutrisna, para pemuda Buleleng kala itu menggunakan rumah pohon sebagai tempat pengintaian terhadap kapal-kapal Belanda. 

Dari lokasi tersebut, mereka dapat memantau pergerakan musuh sekaligus menyusun langkah-langkah perlawanan.

Rumah pohon itu dilengkapi berbagai sarana sederhana. Mulai dari teropong untuk mengamati situasi, senjata tajam sebagai alat perlindungan diri, hingga perangkat komunikasi tradisional untuk menyampaikan informasi kepada rekan-rekan yang berada di bawah pohon.

“Rumah pohon ini dulu digunakan sebagai tempat pengintaian. Mulai masa penjajahan Belanda hingga masa-masa perjuangan seperti G30S PKI dan Dwikora,” lanjut Sutrisna.

Kesadaran akan pentingnya nilai sejarah tersebut mendorong prajuru Desa Adat Buleleng mengambil langkah pelestarian. 

Melalui paruman desa, disepakati bahwa rumah pohon harus dipertahankan sebagai pengingat perjuangan generasi terdahulu sekaligus media edukasi bagi generasi masa kini.

Revitalisasi pun dilakukan secara hati-hati sejak Januari lalu. Proses renovasi tidak hanya berfokus pada kekuatan bangunan, tetapi juga menjaga keaslian bentuk dan nilai historis yang melekat pada rumah pohon tersebut.

Bangunan berukuran 2x2 meter itu kini menggunakan konstruksi kayu besi dan berdiri kokoh di tengah pohon kepuh yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun. Letaknya berada sekitar 30 meter dari permukaan tanah.

Tak hanya memperbaiki rumah pohon, Desa Adat Buleleng juga berencana menata kawasan di bawahnya menjadi taman edukasi sejarah. 

Area tersebut nantinya dapat dimanfaatkan sebagai ruang rekreasi sekaligus sarana belajar sejarah lokal bagi masyarakat.

Karena akan dikembangkan menjadi objek wisata berbasis sejarah, proses revitalisasi turut melibatkan ahli tanaman. 

Pemeriksaan terhadap akar, batang, hingga cabang pohon dilakukan secara berkala untuk memastikan keamanan bangunan dan keselamatan pengunjung.

Dalam waktu dekat, Desa Adat Buleleng juga akan menambah fasilitas tangga agar wisatawan dapat naik dan menikmati rumah pohon secara langsung. 

Namun hingga saat ini, akses ke atas masih ditutup karena faktor keamanan dan penghormatan terhadap kawasan setra.

Untuk sementara, rumah pohon tersebut difungsikan sebagai monumen sejarah yang dapat dinikmati dari bawah sembari menunggu seluruh fasilitas pendukung selesai dibangun.

“Harapannya, keberadaan rumah pohon ini dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Buleleng, khususnya dalam pengembangan city tour Kota Singaraja,” tutup Sutrisna. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
rumah wisatawan Desa adat buleleng rumah pohon