Belajar Ekowisata dari Desa di Perbatasan Tiongkok-Vietnam: Saat Sawah, Karst, dan Pariwisata Hidup Berdampingan

Eka Prasetya • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 12:44 WIB
PEGUNUNGAN KARST: Suasana di Desa Mingxi, Provinsi Guangxi. Desa di kawasan perbatasan antara Tiongkok dan Vietnam itu menjadikan bentang alam sebagai daya tarik pariwisata. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
PEGUNUNGAN KARST: Suasana di Desa Mingxi, Provinsi Guangxi. Desa di kawasan perbatasan antara Tiongkok dan Vietnam itu menjadikan bentang alam sebagai daya tarik pariwisata. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.

DERETAN bukit karst menjulang di kejauhan. Bentuknya unik, seolah menara-menara batu yang tumbuh dari hamparan sawah hijau. Di bawahnya, sungai mengalir tenang, sementara perahu-perahu kecil bergerak perlahan membawa wisatawan menikmati panorama pedesaan.

Pemandangan itulah yang menyambut rombongan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) saat memasuki Desa Mingshi, Kecamatan Kanxu, Kabupaten Daxin, Kota Administrasi Chongzuo, Provinsi Guangxi, Tiongkok.

Sepanjang perjalanan, kendaraan melintasi jalan sempit yang membelah persawahan. Lanskapnya membuat saya sejenak teringat kawasan karst Rammang-Rammang di Sulawesi Selatan. Bedanya, di Mingshi, gugusan batu kapur itu berpadu harmonis dengan sawah produktif, sungai yang tetap alami, dan aktivitas wisata yang berkembang tanpa mengubah wajah desa.

Desa Mingshi merupakan bagian dari Mingshi Pastoral Scenic Area, destinasi wisata nasional berperingkat 4A di Tiongkok. Pesonanya bukan semata karena panorama alam yang memanjakan mata. Kawasan ini menjadi contoh bagaimana sektor pertanian dan pariwisata dapat tumbuh berdampingan tanpa saling mengorbankan.

Rombongan jurnalis dari berbagai negara Asia Pasifik diajak mengunjungi sebuah resort yang berdiri di tengah persawahan. Dari lokasi itu, pegunungan karst tampak begitu dekat, seolah menjadi benteng alami yang mengelilingi desa.

Tak ada deretan gedung bertingkat yang merusak lanskap. Yang terlihat justru petak-petak sawah yang tetap hijau, aliran sungai yang jernih, dan bukit-bukit karst yang menjadi latar kehidupan masyarakat sehari-hari.

Letaknya yang berada di perbatasan Tiongkok dan Vietnam menjadikan Mingshi memiliki karakter budaya yang khas. Sedikitnya enam kelompok etnis hidup berdampingan di kawasan ini. Tradisi bertani, terutama menanam padi yang diwariskan masyarakat etnis Zhuang, masih dipertahankan hingga sekarang.

Untuk mengenal kehidupan desa lebih dekat, kami diajak berkeliling menggunakan shuttle car listrik. Kendaraan ramah lingkungan itu menyusuri jalur wisata yang membelah area persawahan dan pemukiman warga.

Di sepanjang rute, geliat ekonomi lokal terlihat nyata. Warga membuka kios souvenir, menjual berbagai produk kerajinan, hingga menawarkan kuliner khas kepada wisatawan. Di tepian sungai, perahu-perahu wisata hilir mudik membawa pengunjung menikmati panorama karst dari permukaan air, sementara sebagian lainnya memilih bersantai memancing.

Yang menarik, mayoritas perahu wisata menggunakan tenaga listrik. Selain lebih senyap, penggunaan mesin listrik juga mengurangi polusi sehingga suasana alam tetap terjaga.

Model pengembangan wisata seperti inilah yang menarik perhatian para peserta CIPCC. Kehadiran wisatawan membuka lapangan kerja baru tanpa memaksa masyarakat meninggalkan sektor pertanian. Sawah tetap ditanami, sungai tetap bersih, dan pegunungan karst tetap menjadi ikon utama kawasan.

Jurnalis asal Türkiye, Mert Sagit, mengaku belum pernah menemukan kawasan seperti Mingshi selama perjalanan jurnalistiknya ke berbagai negara.

"Saya sudah berkunjung ke banyak negara, tapi saya tidak pernah melihat tempat seperti ini. Tempat ini, menurut saya, seperti surga di bumi," ujarnya.

Kekaguman serupa disampaikan jurnalis asal India, Saurabh Kumar. Menurutnya, daya tarik utama Mingshi bukan hanya panorama alam, melainkan keberhasilannya memadukan pembangunan ekonomi dengan pelestarian lingkungan.

"Saya menyukai model pembangunan seperti ini. Kawasan yang tetap berbasis pertanian mampu berkembang menjadi destinasi wisata sekaligus menambah pendapatan masyarakat melalui ekowisata tanpa merusak keseimbangan lingkungan. Ini pertama kalinya saya melihat tempat seperti ini dan saya sangat senang bisa berkunjung kesini," katanya.

Bagi banyak daerah, termasuk Bali, pembangunan pariwisata kerap dihadapkan pada dilema antara mengejar pertumbuhan ekonomi dan menjaga kelestarian alam. Desa Mingshi menunjukkan bahwa keduanya tidak selalu harus dipertentangkan.

Pegunungan karst yang selama ratusan tahun menjadi bagian dari bentang alam kini menjadi magnet wisata. Persawahan yang menjadi sumber penghidupan warga tetap dipertahankan sebagai identitas desa. Pariwisata justru hadir melengkapi, bukan menggantikan. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
beijing tiongkok china buleleng