Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus. Berikut catatan perjalanannya.
GEMURUH air terdengar bahkan sebelum air terjunnya terlihat. Dari kejauhan, Sungai Guichun mengalir tenang membelah perbatasan Tiongkok dan Vietnam. Namun beberapa ratus meter kemudian, aliran itu berubah drastis.
Air jatuh bertingkat dari tebing setinggi sekitar 70 meter, memecah kesunyian pegunungan karst yang mengapit salah satu air terjun lintas batas negara terbesar di dunia.
Inilah Air Terjun Detian-Ban Gioc, destinasi yang bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga menjadi simbol bagaimana dua negara dapat mengubah garis perbatasan menjadi ruang kolaborasi.
Beberapa waktu lalu, rombongan jurnalis dari berbagai negara Asia Pasifik peserta China International Press Communication Center (CIPCC) mendapat kesempatan mengunjungi Kawasan Kerja Sama Pariwisata Lintas Batas Air Terjun Detian (Ban Gioc) di Kota Chongzuo, Provinsi Guangxi, Tiongkok.
Dari anjungan utama, panorama yang tersaji nyaris tanpa cela. Dinding-dinding karst menjulang mengelilingi air terjun, sementara hamparan sawah hijau membentang di kaki pegunungan. Di tengah lanskap itu, Sungai Guichun—yang di Vietnam dikenal sebagai Sungai Quay Son—mengalir menjadi batas alami kedua negara.
Namun bagi masyarakat setempat, sungai tersebut bukan sekadar garis pemisah. Mereka menyebutnya sebagai “mother river”, sungai induk yang menghidupi warga di kedua sisi perbatasan.
Hubungan sosial masyarakat pun telah terjalin jauh sebelum kawasan wisata ini dibangun. Di sepanjang tepian sungai, warga Tiongkok dan Vietnam hidup berdampingan. Tak sedikit yang masih memiliki hubungan kekerabatan akibat perkawinan lintas negara yang berlangsung turun-temurun. Bahkan sekitar sepertiga penduduk di kawasan tersebut merupakan warga keturunan Vietnam.
Semangat kebersamaan itulah yang kemudian melahirkan gagasan membangun kawasan wisata lintas batas. Ide tersebut mulai dibahas pada 2009 sebelum akhirnya kedua negara menandatangani kesepakatan pembentukan China-Vietnam Cross-Border Tourism Cooperation Zone pada 2015.
Masing-masing negara menyediakan kawasan seluas dua kilometer persegi di sekitar garis perbatasan untuk dikembangkan bersama. Setelah melalui masa uji coba pada 2023, kawasan wisata ini resmi beroperasi penuh pada 2024.
Hasilnya cukup revolusioner. Wisatawan kini dapat menikmati pengalaman menjelajahi dua negara hanya dalam satu kunjungan melalui konsep "satu tiket untuk dua negara." Pengunjung tidak perlu menjalani prosedur lintas batas yang rumit sebagaimana perjalanan internasional pada umumnya.
Kemudahan itu semakin terasa bagi masyarakat perbatasan. Mereka dibekali kartu izin khusus yang memungkinkan keluar-masuk kawasan dalam waktu tertentu. Walaupun tidak dapat menetap di negara tetangga, akses tersebut menjaga hubungan sosial sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat di kedua sisi.
Salah satu pengalaman yang paling diminati wisatawan adalah menyusuri sungai menggunakan rakit bambu. Dengan biaya sekitar 30 yuan atau setara Rp 75 ribu, pengunjung dapat mendekati air terjun hingga merasakan langsung semburan embun air yang jatuh dari ketinggian. Sementara tiket masuk kawasan wisata dipatok sekitar 115 yuan atau sekitar Rp 250 ribu.
Saat rombongan CIPCC berkunjung, kawasan wisata tampak dipenuhi wisatawan. Pengunjung datang dari Tiongkok maupun Vietnam, meski jumlah wisatawan asal Tiongkok terlihat lebih mendominasi.
Suasana lintas budaya terasa di hampir setiap sudut kawasan. Para petugas wisata, pengemudi rakit, pedagang suvenir hingga pelaku usaha lainnya berasal dari kedua negara dan bekerja berdampingan. Bahkan papan nama toko ditulis dalam dua bahasa, yakni Mandarin dan Vietnam.
Pariwisata kini menjadi sumber penghidupan baru bagi masyarakat yang sebelumnya bergantung pada pertanian serta perdagangan tradisional di kawasan perbatasan.
Air Terjun Detian sendiri berada di wilayah Tiongkok, sedangkan sisi lainnya masuk ke Vietnam dengan nama Thác Bản Giốc atau Air Terjun Ban Gioc. Perpaduan air terjun bertingkat, pegunungan karst, dan hamparan sawah hijau menjadikan kawasan ini kerap disebut sebagai salah satu air terjun terindah di Asia.
Jurnalis asal Thailand, Maneenat Onpanna, menilai kawasan tersebut membuktikan bahwa pariwisata mampu menjadi jembatan kerja sama antarnegara.
"Tempat ini bisa menjadi contoh sekaligus proyek unggulan kerjasama pariwisata antara Tiongkok dan negara-negara ASEAN," ujarnya.
Hal senada disampaikan jurnalis asal Bangladesh, Easmin Akter. Menurutnya, kemudahan akses yang diberikan kepada wisatawan menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.
"Air terjun ini luar biasa. Wisatawan Vietnam tidak memerlukan visa untuk masuk ke kawasan ini dan dapat berada di sini hingga enam jam," katanya.
Di Air Terjun Detian-Ban Gioc, batas negara tidak lagi sekadar garis pemisah. Di antara gemuruh air yang jatuh dari tebing dan perahu-perahu yang hilir mudik membawa wisatawan, perbatasan justru menjelma menjadi ruang perjumpaan.
Alam menyatukan apa yang dipisahkan oleh peta, sementara pariwisata menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat di kedua sisi negara. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng