Desa Buhua di Tiongkok Sulap Lahan Tak Produktif Jadi Homestay Mewah, Warga Ikut Sejahtera

Eka Prasetya • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 06:24 WIB
KUALITAS PREMIUM: Suasana di Wild Homestay Cluster. Kawasan di Desa Buhua, Provinsi Guangxi, Tiongkok itu menyulap lahan tak produktif menjadi resort mewah. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
KUALITAS PREMIUM: Suasana di Wild Homestay Cluster. Kawasan di Desa Buhua, Provinsi Guangxi, Tiongkok itu menyulap lahan tak produktif menjadi resort mewah. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus. Berikut catatan perjalanannya.

Deretan bangunan berbentuk jamur itu muncul di tengah hamparan hijau. Di sekelilingnya, pohon pisang dan kebun tebu masih tumbuh seperti dulu. 

Tak ada hotel bertingkat. Tak ada deretan beton yang mendominasi lanskap. Yang terdengar hanya desir angin, suara burung, dan sesekali tawa wisatawan yang menikmati pagi.

Sulit dipercaya, kawasan yang kini menjadi destinasi wisata premium itu dulunya hanyalah lahan pertanian biasa di Desa Buhua, Kota Chongzuo, Provinsi Guangxi, Tiongkok.

Kini, kawasan tersebut dikenal sebagai Wild Homestay Cluster, kompleks penginapan eksklusif yang mengusung konsep hidup berdampingan dengan alam. 

Meski tarif menginap mencapai 2.200-2.600 yuan atau sekitar Rp 4,5 juta hingga Rp 5,3 juta per malam, kamar-kamarnya justru kerap habis dipesan, terutama saat musim liburan.

Beberapa waktu lalu, rombongan jurnalis Asia Pasifik peserta China International Press Communication Center (CIPCC) berkesempatan mengunjungi kawasan tersebut. Begitu tiba, kesan pertama yang muncul bukanlah kemewahan seperti hotel berbintang, melainkan suasana pedesaan yang begitu tenang.

Bangunan-bangunan rendah tampak bersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Arsitekturnya sengaja dibuat mengikuti kontur alam sehingga hampir tak mengubah wajah desa. Bahkan, pohon-pohon pisang tetap dipertahankan sebagai bagian dari lanskap.

"Kalau sedang berbuah, pisang ini boleh dipetik dan dimakan gratis oleh para tamu," ujar Huang Miaomiao, penerjemah sekaligus perwakilan manajemen Wild Homestay Cluster, sambil menunjuk deretan pohon pisang yang tumbuh di halaman penginapan.

Dari seluruh area kompleks, hanya satu bangunan yang memiliki dua lantai, yakni area kolam renang utama. Dari titik itulah panorama terbaik tersaji.

Di kejauhan, gugusan pegunungan karst membentang megah hingga mendekati perbatasan Tiongkok-Vietnam. Lanskap khas Guangxi yang selama ini hanya muncul dalam brosur promosi wisata, kini terlihat nyata tanpa rekayasa.

Pemandangan itulah yang menjadi daya tarik utama. Para tamu rela membayar mahal demi menikmati pagi dengan latar pegunungan batu kapur, udara segar, dan suasana yang jauh dari kebisingan kota.

Kompleks ini memiliki 48 kamar yang terbagi ke dalam empat merek homestay berbeda. Masing-masing menawarkan karakter tersendiri, mulai dari konsep artistik hingga desain modern minimalis.

"Kami memiliki empat merek homestay yang dikelola secara terpisah. Masing-masing memiliki konsep berbeda. Ada yang lebih menonjolkan suasana artistik, ada juga yang mengusung desain modern dan minimalis," jelas Huang.

Tak hanya menawarkan tempat menginap, setiap unit juga dilengkapi kolam renang pribadi. Sementara kolam renang utama menghadap langsung ke bentang pegunungan karst yang menjadi ikon kawasan tersebut.

"Setiap homestay memiliki kolam renang. Saya memperhatikan tamu-tamu asing sangat menyukai fasilitas ini. Bahkan ketika hujan, mereka tetap ingin berenang," ujarnya.

Meski mayoritas tamu masih berasal dari Tiongkok, wisatawan mancanegara terus berdatangan. Huang menyebut pengunjung dari Malaysia dan Indonesia menjadi dua negara Asia Tenggara yang paling sering datang.

Namun, mereka datang bukan semata mencari kamar yang nyaman. Yang mereka cari adalah sesuatu yang mulai sulit ditemukan di kota-kota besar: ketenangan.

"Tujuan utama kami adalah menciptakan lingkungan yang harmonis antara manusia dan alam. Saat ini banyak orang menghadapi tekanan pekerjaan yang besar. Mereka membutuhkan tempat untuk melepaskan diri dari hiruk-pikuk kota dan menenangkan pikiran," kata Huang.

Filosofi itu pula yang menjadi fondasi pembangunan Wild Homestay Cluster. Kawasan ini mulai dikembangkan pada 2022 dan resmi beroperasi penuh pada 2024 sebagai bagian dari program revitalisasi pedesaan Pemerintah Kota Chongzuo.

Alih-alih membangun hotel raksasa, pengembang memilih memanfaatkan rumah-rumah kosong dan lahan desa yang sebelumnya tidak produktif. Seluruh aset tersebut ditata ulang menjadi kawasan wisata tanpa menghilangkan karakter asli desa.

Model pengelolaannya menggunakan pola "koperasi dan petani". Warga tidak hanya menyediakan lahan, tetapi juga terlibat langsung dalam pengelolaan sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan bersama.

Sekitar 90 persen tenaga kerja di kompleks homestay berasal dari masyarakat Desa Buhua. Mereka bekerja sebagai staf penginapan, petugas kebersihan, pengelola fasilitas, hingga pelaku usaha pendukung lainnya.

"Selain itu, usaha lain seperti rumah makan dan toko-toko di sekitar desa juga ikut berkembang," ujar Huang.

Dalam waktu singkat, wajah Desa Buhua berubah total. Lahan yang dahulu hanya menghasilkan tebu dan pisang kini menghadirkan sumber ekonomi baru melalui sektor pariwisata.

Di saat banyak desa kehilangan generasi mudanya akibat urbanisasi, Buhua justru memilih jalan berbeda. 

Desa ini tidak menjual gedung pencakar langit ataupun pusat perbelanjaan modern. Yang ditawarkan adalah kesunyian, udara bersih, bentang alam yang masih alami, dan pengalaman hidup sederhana—kemewahan yang justru semakin sulit ditemukan di kota-kota besar. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
beijing tiongkok hotel china buleleng