Tanpa Sawah, Pabrik di Tiongkok Produksi 2 Juta Kemasan Jamur Per Hari. Panen Dibantu Robot

Eka Prasetya • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 23:14 WIB
PRODUKSI JAMUR: Salah satu pabrik produksi jamur di Provinsi Guangxi, Tiongkok. Pabrik ini mampu memproduksi 2 juta kemasan jamur per hari. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
PRODUKSI JAMUR: Salah satu pabrik produksi jamur di Provinsi Guangxi, Tiongkok. Pabrik ini mampu memproduksi 2 juta kemasan jamur per hari. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus. Berikut catatan perjalanannya.

TIDAK ada aroma tanah basah. Tidak terlihat petani memanggul cangkul atau hamparan lahan yang membentang luas. Yang terdengar justru dengung mesin yang bekerja tanpa henti. Ribuan botol berisi media tanam bergerak perlahan di atas jalur produksi otomatis, seolah mengikuti irama yang telah diprogram dengan presisi.

Di dalam ruangan bersuhu hanya beberapa derajat Celsius itu, jamur-jamur enoki tumbuh seragam. Putih bersih, berjajar rapi, nyaris tanpa sentuhan tangan manusia. Hampir seluruh proses produksi dikendalikan teknologi.

Pemandangan itulah yang menyambut rombongan jurnalis Asia Pasifik peserta China International Press Communication Center (CIPCC) saat mengunjungi Guangxi Hualv Biotechnology di Kota Chongzuo, Provinsi Guangxi, Tiongkok, beberapa waktu lalu.

Sekilas, bangunan itu lebih menyerupai pabrik elektronik dibanding kawasan pertanian. Padahal, dari kompleks seluas lebih dari 35 hektare tersebut, jutaan kemasan jamur diproduksi setiap hari.

Guangxi Hualv Biotechnology merupakan anak perusahaan Jiangsu Hualv Biotechnology, salah satu produsen jamur industri terbesar di Tiongkok. 

Beragam jenis jamur konsumsi diproduksi di sana, mulai dari enoki, jamur giok putih, crab mushroom, shimeji, hingga antler mushroom atau jamur tanduk rusa.

Begitu memasuki area produksi, konsep pertanian konvensional seolah hilang sama sekali. Tidak ada sinar matahari yang menerobos ruang budidaya. Seluruh lingkungan tumbuh jamur diciptakan secara artifisial.

Botol-botol media tanam bergerak otomatis dari satu lini ke lini berikutnya. Bahan baku dicampur menggunakan mesin, kemudian menjalani proses sterilisasi setiap satu setengah jam. Setelah steril, media tanam langsung memasuki tahap inokulasi atau penanaman bibit yang juga dilakukan sepenuhnya oleh sistem otomatis.

Peran manusia tetap ada, tetapi lebih banyak sebagai pengawas teknologi yang bekerja selama 24 jam tanpa jeda.

"Yang paling penting adalah otomatisasi. Seluruh proses pembuatan bahan baku menggunakan fasilitas otomatis sehingga efisiensinya meningkat. Inokulasi juga dilakukan secara otomatis. Kami memiliki sistem yang mengatur suhu dan kelembaban ruangan secara otomatis. Bahkan proses pengepakan menggunakan robot," jelas Huang Chunying, penerjemah yang mendampingi kunjungan tersebut.

Teknologi menjadi fondasi utama dalam menjaga kualitas produksi. Suhu ruangan dipertahankan stabil pada kisaran 5 hingga 15 derajat Celcius. Kelembaban udara, pencahayaan, hingga sirkulasi udara dipantau sensor secara terus-menerus agar kondisi pertumbuhan selalu berada pada titik ideal.

Media tanam ditempatkan di dalam botol dengan komposisi bahan yang diatur mesin secara presisi. Hasilnya, setiap botol menghasilkan jamur dengan kualitas yang hampir identik.

Untuk menghasilkan satu botol jamur siap panen, dibutuhkan waktu sekitar 52 hari. Setelah sekitar 45 hari berada di ruang budidaya utama, botol dipindahkan ke ruang pertumbuhan akhir agar batang jamur berkembang lebih tinggi sebelum dipanen.

Hasil akhirnya adalah jamur dengan ukuran, warna, hingga bentuk yang nyaris seragam.

Skala produksinya pun mencengangkan. Setiap hari, fasilitas di Guangxi mampu menghasilkan antara 1,5 juta hingga 2 juta kemasan jamur. Dari jumlah tersebut, sekitar 180 ton dikirim ke berbagai pasar internasional setiap harinya.

Negara-negara ASEAN menjadi tujuan utama ekspor, termasuk Indonesia, Laos, Kamboja, dan Myanmar. Perusahaan juga mulai memperluas pasar ke Eropa serta menjajaki peluang ekspor ke Amerika Serikat.

Menariknya, harga jamur di tingkat pabrik relatif terjangkau. Kemasan 200 gram dijual sekitar dua yuan, sedangkan satu kilogram dibanderol sekitar delapan yuan atau setara Rp 20 ribu.

Di balik kapasitas produksi yang sangat besar itu, jaringan bisnis Jiangsu Hualv Biotechnology juga terus berkembang. Saat ini perusahaan mengoperasikan delapan pusat produksi yang tersebar di Jiangsu sebagai kantor pusat, Chongqing, Hunan, Hubei, Guangxi, Zhejiang, Guizhou, dan Yunnan.

Kapasitas tersebut menempatkan perusahaan sebagai salah satu dari tiga produsen jamur terbesar di Tiongkok.

Meski otomatisasi mendominasi hampir seluruh proses produksi, kehadiran tenaga kerja tetap menjadi bagian penting. Warga lokal masih banyak dilibatkan, terutama pada bagian pengepakan dan operasional pendukung.

Menurut Huang, rata-rata pekerja menerima gaji antara 4.000 hingga 7.000 yuan atau sekitar Rp 10 juta hingga Rp 17,5 juta per bulan, bergantung pada jenis pekerjaan dan tingkat keterampilan.

Model pengembangan industri inilah yang menarik perhatian Beberg Arif, jurnalis asal Pakistan yang ikut dalam kunjungan tersebut. Menurutnya, keberhasilan Guangxi Hualv Biotechnology membuktikan bahwa masa depan pertanian tidak lagi ditentukan oleh luasnya lahan.

Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi mampu menciptakan efisiensi sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat pedesaan.

"Hal terbaik yang dilakukan Tiongkok terhadap perekonomiannya adalah membawa industri ini ke wilayah pinggiran, kepada masyarakat lokal di daerah pedesaan. Ini merupakan model yang sangat efisien yang tidak hanya dapat diterapkan di seluruh Tiongkok, tetapi juga memberikan pelajaran berharga bagi revitalisasi pertanian di negara-negara berkembang," ujarnya.

Di Chongzuo, pertanian telah memasuki babak baru. Sawah dan ladang bukan lagi satu-satunya wajah sektor pangan. Dari jutaan botol yang tersusun rapi di ruang bersuhu dingin, jamur-jamur tumbuh dalam kendali sensor dan robot, lalu berangkat menuju meja makan di berbagai penjuru dunia. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
beijing tiongkok jamur china buleleng