Melihat Cara Tiongkok Melawan Terorisme: Dari Etalase Bom Pipa hingga Strategi Deradikalisasi

Eka Prasetya • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 12:14 WIB
JEJAK KELAM: Sejumlah barang yang digunakan untuk melakukan aksi terorisme di Tiongkok. Barang tersebut kini menjadi bagian dari eksebisi untuk melakukan kontra-terorisme di Provinsi Xinjiang, Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
JEJAK KELAM: Sejumlah barang yang digunakan untuk melakukan aksi terorisme di Tiongkok. Barang tersebut kini menjadi bagian dari eksebisi untuk melakukan kontra-terorisme di Provinsi Xinjiang, Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus. Berikut catatan perjalanannya.

PINTU ruang pameran itu terbuka perlahan. Namun, bukan lukisan, artefak kuno, atau benda budaya yang menyambut pengunjung. 

Di balik ruangan tersebut, justru terpajang benda-benda yang merekam jejak kelam. Seperti bom pipa, senjata api rakitan, tabung gas yang dimodifikasi, hingga foto-foto aksi kekerasan.

Setiap benda di balik kaca etalase seolah menjadi pengingat bahwa Xinjiang pernah melewati masa panjang yang penuh tantangan akibat aksi terorisme dan ekstremisme.

Suasana itu menyambut rombongan kecil jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) ketika mengunjungi Exhibition on the Fight Against Terrorism and Extremism in Xinjiang di Kota Urumqi, Provinsi Xinjiang, Tiongkok.

Berbeda dengan perjalanan jurnalistik ke sejumlah wilayah lain di Tiongkok, kunjungan ke Xinjiang kali ini berlangsung dalam kelompok terbatas. 

Hanya lima orang jurnalis yang ikut dalam agenda tersebut. Selain saya dari Indonesia, rombongan terdiri atas jurnalis dari Pakistan, Arab Saudi, Turkmenistan, dan Azerbaijan.

Xinjiang menjadi wilayah yang mendapat perhatian khusus. Provinsi yang berada di barat laut Tiongkok itu dikenal sebagai kawasan dengan populasi muslim terbesar di negara tersebut. 

Wilayah ini juga menjadi rumah bagi berbagai kelompok etnis dengan keragaman bahasa, budaya, dan tradisi.

Melalui ruang pameran tersebut, pemerintah Tiongkok memperlihatkan narasi mengenai perjalanan Xinjiang dalam menghadapi ancaman terorisme dan ekstremisme.

Di balik kaca transparan, berbagai barang bukti ditampilkan. Mulai dari bom rakitan, senjata sederhana, hingga tabung gas yang disebut pernah digunakan dalam aksi kekerasan. 

Sementara itu, dinding ruangan dipenuhi informasi kronologi peristiwa, foto korban, kerusakan fasilitas umum, serta dokumentasi penanganan keamanan.

Berdasarkan informasi yang dipaparkan dalam pameran, pemerintah Tiongkok mencatat Xinjiang mengalami sejumlah aksi kekerasan dalam kurun waktu lebih dari dua dekade. 

Sejak April 1990 hingga 28 Desember 2016, tercatat 52 aksi terorisme dan kekerasan terjadi, dengan sebagian besar berlangsung di wilayah Xinjiang.

Pemerintah Tiongkok menyebut sejumlah aksi tersebut berkaitan dengan kelompok ekstrimisme yang berasal dari wilayah tersebut. 

Namun, setelah periode tersebut, pendekatan penanganan tidak hanya diarahkan pada aspek keamanan.

Bagi pemerintah Tiongkok, pemberantasan terorisme membutuhkan strategi yang lebih luas. 

Selain penegakan hukum, pemerintah mengedepankan pendekatan deradikalisasi melalui pembangunan sosial, pendidikan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Penguatan persatuan antaretnis menjadi salah satu kebijakan yang terus ditekankan. Di wilayah yang dihuni berbagai kelompok masyarakat itu, pemerintah mendorong pendidikan kebangsaan, pelestarian budaya, serta pembangunan ekonomi sebagai bagian dari upaya mencegah berkembangnya paham ekstrem.

Pembangunan infrastruktur juga menjadi bagian dari strategi tersebut. Berbagai proyek pembangunan dilakukan untuk memperluas konektivitas, menarik investasi, sekaligus membuka lebih banyak peluang kerja bagi masyarakat.

Melalui pendekatan itu, pemerintah Tiongkok menilai peningkatan kesejahteraan dapat menjadi salah satu cara mengurangi faktor sosial dan ekonomi yang berpotensi dimanfaatkan oleh kelompok ekstrem.

Pandangan tersebut menarik perhatian Beberg Arif, jurnalis asal Pakistan yang mengikuti kunjungan CIPCC ke Xinjiang. 

Menurutnya, pengalaman yang dilihat selama kunjungan menunjukkan bahwa penanganan terorisme membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh.

“Pendekatan yang dilakukan Tiongkok sangat masuk akal. Terorisme dan ekstremisme tidak bisa semata-mata dilawan dengan kekerasan. Akar persoalannya juga harus diselesaikan, terutama masalah sosial dan ekonomi. Memang membutuhkan waktu yang panjang, tetapi hasilnya akan sangat terasa,” ujarnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
beijing tiongkok china buleleng