Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus. Berikut catatan perjalanannya.
DARI kejauhan, bangunan itu lebih mirip benteng pertahanan daripada rumah ibadah. Dinding-dindingnya menjulang tebal mengelilingi kawasan seluas sekitar 15 ribu meter persegi. Tak ada ornamen mencolok yang lazim ditemukan di banyak kuil Buddha.
Namun, kesan itu berubah seketika saat melangkah melewati gerbang utamanya.
Suasana mendadak sunyi. Deretan aula ibadah berdiri berjajar dengan tata ruang yang rapi. Di sisi kanan dan kiri menjulang menara lonceng serta menara drum.
Di bagian belakang terdapat museum, sementara sebuah panggung pertunjukan budaya melengkapi kawasan yang telah berdiri lebih dari seabad itu.
Inilah Kuil Jingyuan, salah satu kuil Buddha bersejarah di Lembah Sungai Ili, Kabupaten Otonom Qapqal Xibe, Provinsi Xinjiang, Tiongkok. Lokasinya sekitar 30 menit berkendara dari Kota Yining.
Sejumlah jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) berkesempatan mengunjungi kompleks tersebut. Bukan sekadar melihat tempat ibadah, tetapi menyusuri jejak panjang sebuah komunitas yang pernah menjadi garda terdepan menjaga perbatasan Kekaisaran Qing.
Kuil Jingyuan menyimpan kisah masyarakat Xibe, salah satu etnis minoritas di Tiongkok yang hingga kini masih mempertahankan identitas budaya mereka meski telah meninggalkan kampung halaman hampir tiga abad silam.
Memasuki kawasan kuil, pola arsitekturnya langsung mencuri perhatian. Seluruh bangunan ditata simetris mengikuti poros utara–selatan dengan tiga lapis halaman yang berurutan, mulai halaman depan, tengah, hingga halaman belakang.
Sekilas, tata letaknya mengingatkan pada kompleks istana kekaisaran di Beijing.
"Tata letaknya sangat menyerupai Forbidden City di Beijing. Mungkin leluhur masyarakat Xibe terinspirasi dari sana," ujar Byan, pemandu sekaligus penerjemah yang mendampingi rombongan.
Kini, Kuil Jingyuan tak lagi hanya difungsikan sebagai tempat ibadah. Pemerintah setempat mengembangkannya menjadi destinasi wisata budaya. Museum sejarah, panggung pertunjukan, hingga berbagai ruang edukasi dibuka agar pengunjung dapat mengenal lebih dekat perjalanan masyarakat Xibe.
Di museum itulah perjalanan panjang etnis tersebut mulai terungkap. Suku Xibe berasal dari Provinsi Jilin di timur laut Tiongkok. Pada pertengahan abad ke-18, setelah Dinasti Qing berhasil menguasai wilayah Dzungar di Xinjiang, muncul tantangan baru yakni menjaga kawasan perbatasan yang membentang sangat luas.
Kaisar Qing kemudian mengambil keputusan besar. Sekitar 4.000 prajurit Xibe beserta keluarga mereka diperintahkan meninggalkan Shenyang menuju Lembah Sungai Ili pada 1764.
Perjalanan itu bukan perkara mudah. Mereka harus menempuh ribuan kilometer melintasi gurun, padang rumput, dan pegunungan selama hampir satu setengah tahun.
Sepanjang perjalanan, rombongan terus bertambah karena kelahiran maupun bergabungnya kelompok lain. Ketika tiba di Xinjiang, jumlah mereka telah mencapai sekitar 5.000 jiwa.
Di tanah baru itu, masyarakat Xibe membangun kehidupan dari awal. Mereka membentuk pasukan kavaleri untuk menjaga benteng-benteng perbatasan Kekaisaran Qing.
Bersamaan dengan itu, mereka membuka lahan pertanian, membangun saluran irigasi yang dikenal sebagai Paban Canal, hingga mendirikan berbagai fasilitas sosial dan keagamaan. Salah satunya adalah Kuil Jingyuan.
Pembangunan kuil berlangsung pada penghujung abad ke-19, sekitar 1892 hingga 1898. Hingga kini, bangunan tersebut masih terawat dan menjadi salah satu simbol penting identitas masyarakat Xibe.
Setiap tanggal 18 bulan keempat kalender lunar, yang umumnya jatuh pada Mei atau awal Juni, masyarakat Xibe menggelar festival budaya untuk mengenang perjalanan leluhur mereka dari Shenyang menuju Xinjiang. Perayaan itu dipenuhi pertunjukan seni, ritual adat, hingga berbagai tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Perjalanan kami di Kuil Jingyuan ditutup dengan pengalaman yang tak kalah menarik. Di halaman kompleks, para jurnalis CIPCC diajak mencoba olahraga memanah. Bukan sekadar permainan, melainkan bagian dari warisan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat Xibe.
Menurut Byan, kemampuan memanah telah menjadi identitas etnis tersebut sejak mereka menjadi pasukan kavaleri Kekaisaran Qing.
"Hingga sekarang tradisi itu masih dipertahankan. Di Qapqal Xibe, memanah sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Bahkan banyak pelatih nasional dan atlet panahan Tiongkok berasal dari daerah ini," tuturnya.
Di balik dinding-dinding kokohnya, Kuil Jingyuan bukan hanya menyimpan ruang ibadah. Ia menjadi pengingat bahwa sebuah perpindahan ribuan kilometer pada abad ke-18 telah melahirkan komunitas yang tetap teguh menjaga sejarah, budaya, dan jati dirinya hingga hari ini. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng