Saat Ponsel Berganti Waktu di Khorgos, Merasakan Langsung Perbatasan Tanpa Sekat antara Tiongkok-Kazakhstan

Eka Prasetya • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 11:07 WIB
JALUR SUTRA: Suasana di Khorgos International Border Cooperation Centre (ICBC). Titik tersebut menjadi lokasi paling sentral dalam jalur sutra modern. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
JALUR SUTRA: Suasana di Khorgos International Border Cooperation Centre (ICBC). Titik tersebut menjadi lokasi paling sentral dalam jalur sutra modern. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus. Berikut catatan perjalanannya.

PESAN singkat itu tiba-tiba muncul di layar ponsel. Isinya membuat saya sempat terkejut. Operator seluler mengingatkan bahwa saya harus membeli paket roaming Kazakhstan. Jika tidak, layanan internet akan menggunakan tarif normal.

Padahal, paket roaming yang saya siapkan sejak awal hanya untuk Tiongkok.

Kepanikan kecil itu baru terjawab beberapa saat kemudian. Bukan karena jaringan bermasalah, melainkan karena ponsel saya benar-benar menangkap sinyal dari negara lain. 

Bahkan, waktu di layar ponsel ikut berubah. Jam digital mundur tiga jam dari waktu Tiongkok.

Pengalaman itu menjadi tanda bahwa saya telah memasuki kawasan perbatasan Khorgos International Border Cooperation Centre (ICBC), sebuah wilayah unik yang mempertemukan Tiongkok dan Kazakhstan dalam satu kawasan ekonomi khusus.

Khorgos berada di bagian timur laut Tiongkok, tepatnya di Provinsi Xinjiang. Dari Kota Yining, perjalanan menuju kawasan ini membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam menggunakan kendaraan. Lokasi tersebut menjadi salah satu titik penting yang menghubungkan Tiongkok dengan negara-negara Asia Tengah.

Kunjungan ke Khorgos menjadi bagian dari agenda jurnalis peserta program China International Press Communication Center (CIPCC). Begitu tiba di lokasi, bangunan-bangunan besar langsung menyambut dari kejauhan. 

Di sekitar pintu masuk berdiri kompleks bea cukai yang menjadi pusat pengawasan arus barang dan manusia antara dua negara.

Namun, Khorgos bukan sekadar gerbang perbatasan.

Kawasan ini merupakan salah satu simpul penting Belt and Road Initiative (BRI) atau Jalur Sutra Modern yang digagas Tiongkok. Dari tempat inilah berbagai produk industri Tiongkok dikirim melalui jalur darat menuju Asia Tengah hingga Eropa.

Salah satu komoditas yang kini mendominasi lalu lintas perdagangan adalah kendaraan listrik dan produk energi terbarukan.

“Setiap hari ada 2.500 unit mobil listrik yang diekspor lewat jalur ini. Kebanyakan dikirim ke Kazakhstan, Uzbekistan, dan Kyrgyzstan,” ujar Byan, pemandu sekaligus penerjemah yang mendampingi rombongan jurnalis CIPCC.

Khorgos ICBC sendiri memiliki konsep yang berbeda dibandingkan kawasan perbatasan pada umumnya. Kompleks ini membentang seluas sekitar 5,6 kilometer persegi atau sekitar 560 hektare. 

Wilayah tersebut terbagi menjadi dua bagian, masing-masing berada di sisi Tiongkok seluas sekitar 343 hektare dan sisi Kazakhstan sekitar 217 hektare.

Yang membuat kawasan ini menarik adalah kemudahan akses bagi pengunjung. Selama berada di dalam zona kerja sama tersebut, warga kedua negara maupun wisatawan dapat melintasi area perbatasan tanpa perlu mengurus visa khusus.

Cukup dengan menunjukkan paspor atau dokumen lintas batas, pengunjung dapat memasuki kawasan netral yang memperbolehkan mereka tinggal hingga 30 hari. 

Pemeriksaan imigrasi secara penuh baru dilakukan apabila seseorang hendak keluar dari kawasan ICBC menuju wilayah resmi Tiongkok atau Kazakhstan.

Saya merasakan langsung kemudahan proses tersebut. Petugas hanya memeriksa paspor dan menanyakan durasi kunjungan. Setelah menjawab kurang dari 24 jam, saya dipersilahkan masuk.

Saat meninggalkan kawasan, pemeriksaan kembali dilakukan sebelum pengunjung keluar dari area perbatasan.

Meski prosedurnya sederhana, sensasi berpindah negara tetap terasa kuat. Hanya dengan berjalan beberapa langkah melewati koridor kawasan ICBC, jaringan telekomunikasi berubah mengikuti operator Kazakhstan. Waktu pada ponsel pun otomatis menyesuaikan zona waktu negara tersebut.

Tiongkok menggunakan satu standar waktu nasional, yakni Waktu Beijing atau UTC+8. Sementara Kazakhstan berada pada zona waktu UTC+5. Perbedaan tiga jam itu langsung terasa melalui layar ponsel.

Tidak lama kemudian, pesan dari operator seluler masuk. Layanan roaming internasional aktif karena perangkat telah terhubung dengan jaringan Kazakhstan.

Sebuah pengalaman kecil, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa batas negara di Khorgos benar-benar berada hanya beberapa langkah kaki.

Selain menjadi pusat perdagangan internasional, Khorgos juga berkembang sebagai destinasi wisata belanja. Di sisi Tiongkok, pusat perbelanjaan dipenuhi berbagai produk elektronik, pakaian, hingga kerajinan lokal dengan konsep bebas pajak.

Sementara di sisi Kazakhstan, pengunjung dapat menemukan berbagai produk khas Asia Tengah, seperti cokelat Kazakhstan, parfum, barang berbahan kulit, minyak bunga matahari, hingga produk konsumsi lainnya.

Selama berada di Tiongkok, saya telah mengunjungi dua kawasan perbatasan. Sebelumnya, saya melihat langsung aktivitas perdagangan di kawasan Pingxiang, Provinsi Guangxi, yang menjadi penghubung Tiongkok dengan Vietnam.

Namun, Khorgos menghadirkan pengalaman yang berbeda.

Jika sebagian besar kawasan perbatasan identik dengan pagar pembatas, pemeriksaan ketat, dan jarak antarnegara, Khorgos justru memperlihatkan wajah lain. 

Kawasan ini menjadi ruang pertemuan dua negara yang hidup dari perdagangan, pariwisata, dan interaksi masyarakat lintas batas. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
beijing tiongkok sutra china buleleng