Mengunjungi Shaanxi Mosque, Rumah Ibadah Islam di Xinjiang yang Menyerupai Kuil Han

Eka Prasetya • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 15:31 WIB
ARSITEKTUR TIONGKOK: Suasana Shaanxi Mosque di Provinsi Xinjiang, Tiongkok. Dari luar, bangunan masjid lebih menyerupai kuil. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
ARSITEKTUR TIONGKOK: Suasana Shaanxi Mosque di Provinsi Xinjiang, Tiongkok. Dari luar, bangunan masjid lebih menyerupai kuil. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus. Berikut catatan perjalanannya.

JIKA tak ada tulisan kaligrafi Arab yang menghiasi bagian dalam bangunan, banyak orang mungkin akan keliru mengira tempat itu adalah kuil kuno peninggalan tradisi Han. 

Atapnya bertingkat dengan lengkungan khas arsitektur Tiongkok, menara adzannya menyerupai paviliun pagoda, sementara ukiran kayu memenuhi hampir seluruh sudut bangunan.

Tidak ada kubah besar. Tidak ada menara tinggi yang menjadi ciri khas masjid bergaya Timur Tengah.

Namun, bangunan yang berdiri kokoh di Kota Yining, Prefektur Otonom Ili Kazakh, Provinsi Xinjiang, Tiongkok, itu adalah sebuah masjid. Namanya Shaanxi Mosque atau Masjid Raya Shaanxi.

Pemandangan unik itu menjadi pengalaman tersendiri bagi para jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) ketika berkunjung ke masjid tersebut. 

Di balik tampilannya yang menyerupai kuil tradisional Tiongkok, tersimpan cerita panjang tentang perjumpaan budaya Islam dan Tionghoa yang berlangsung selama ratusan tahun.

Dari kejauhan, Shaanxi Mosque memang lebih mudah dikenali sebagai bangunan bergaya arsitektur Han. Struktur utama masjid dibangun menggunakan kombinasi kayu dan bata. 

Atap bergaya gable-and-hip yang lazim ditemukan pada bangunan tradisional Tiongkok menjadi elemen paling dominan.

Ukiran kayu dengan detail rumit menghiasi berbagai bagian bangunan. Sementara menara azan yang biasanya menjulang tinggi pada masjid bergaya Timur Tengah, di tempat ini justru tampil seperti paviliun bertingkat yang mengingatkan pada bentuk pagoda klasik.

Tetapi suasana langsung berubah ketika memasuki ruang utama. Kaligrafi Arab yang terinspirasi dari ayat-ayat Al-Qur'an memenuhi dinding ruangan. 

Ornamen bunga dan sentuhan seni Tionghoa berpadu tanpa menghilangkan identitas Islam yang menjadi fungsi utama bangunan tersebut.

Masjid ini dibangun pada masa Dinasti Qing oleh komunitas Muslim etnis Hui yang berasal dari Provinsi Shaanxi. 

Mereka datang ke wilayah Ili melalui jalur perdagangan menuju Xinjiang, kemudian menetap dan membangun kehidupan baru di Kota Yining.

Jauh dari tanah kelahiran, para pedagang dan perantau tersebut mengumpulkan dana secara bersama-sama untuk mendirikan tempat ibadah sekaligus pusat kegiatan masyarakat. Nama Shaanxi Mosque dipilih sebagai pengingat asal-usul para pendirinya yang berasal dari provinsi tersebut.

Tak hanya nama, nuansa kampung halaman juga diwujudkan melalui desain bangunan. Arsitektur masjid dibuat menyerupai Masjid Raya Xi'an di Provinsi Shaanxi. 

Bagi komunitas Hui kala itu, bangunan tersebut bukan hanya tempat beribadah, tetapi juga simbol kerinduan terhadap tanah asal yang berjarak ribuan kilometer.

Berdiri di atas lahan sekitar 6.000 meter persegi, kompleks Shaanxi Mosque tidak hanya digunakan untuk kegiatan salat. Di dalam kawasan masjid terdapat ruang pendidikan keagamaan, perpustakaan, hingga ruang administrasi yang masih digunakan hingga kini.

Pengurus Masjid Raya Shaanxi, Ma Jirong, mengatakan masjid tersebut telah berusia lebih dari 270 tahun dan tetap mempertahankan karakter arsitektur awalnya.

Menurut dia, penggunaan nama Shaanxi berkaitan erat dengan latar belakang para pendiri masjid. Mereka ingin menghadirkan bangunan yang membawa identitas budaya asal sekaligus menjadi tempat ibadah bagi komunitas Muslim Hui di Xinjiang.

"Masjid ini memang tidak memiliki kemiripan dengan masjid yang terinspirasi dari Timur Tengah. Nuansa kuil Tiongkok justru lebih kuat terlihat dari bagian luarnya," ujar Ma Jirong.

Meski tampilan luarnya kental dengan budaya Tiongkok, identitas Islam tetap terasa kuat di dalam bangunan. 

Kaligrafi Arab dan elemen keagamaan menjadi penanda bahwa bangunan tersebut bukan sekadar warisan arsitektur tradisional, melainkan ruang spiritual bagi umat Muslim.

Ma Jirong menjelaskan, renovasi terakhir dilakukan pada 2015. Dalam proses tersebut, lebih dari 80 persen material asli bangunan tetap dipertahankan untuk menjaga nilai sejarah sekaligus mempertahankan keaslian arsitektur masjid.

Hingga kini, Shaanxi Mosque masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah masyarakat Muslim di Kota Yining. Terutama saat pelaksanaan salat Jumat maupun perayaan hari besar keagamaan Islam.

Di tengah perkembangan zaman, masjid berusia lebih dari dua abad itu tetap berdiri sebagai saksi bahwa budaya tidak selalu harus saling menggantikan. Di Xinjiang, arsitektur Han dan tradisi Islam justru bertemu dalam satu bangunan yang sama. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
beijing masjid tiongkok china buleleng