Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus. Berikut catatan perjalanannya.
ALUNAN musik menyerupai harmonika terdengar sebelum kaki saya benar-benar melangkah masuk ke dalam gedung museum. Nadanya riang, sesekali berpadu dengan denting alat musik tradisional Asia Tengah yang terdengar khas.
Suara itu menjadi sambutan pertama bagi siapa pun yang berkunjung ke Alexander Accordion Museum. Begitu pintu terbuka, mata langsung disuguhi pemandangan yang tidak biasa.
Ratusan akordion berjajar rapi memenuhi hampir seluruh dinding ruangan. Rak-rak tinggi bahkan membawa koleksi itu hingga mendekati langit-langit bangunan.
Jumlahnya bukan cuma puluhan, melainkan hampir seribu akordion dari berbagai penjuru dunia tersimpan dalam satu bangunan.
Pemandangan unik itu disaksikan saat sejumlah jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) mengunjungi Alexander Accordion Museum, salah satu museum akordion terbesar sekaligus paling unik di Tiongkok. Museum tersebut berada di kawasan wisata Liuxing Street Scenic Area, Kota Yining, Provinsi Xinjiang, Tiongkok.
Di balik megahnya koleksi tersebut, tersimpan kisah panjang tentang kegigihan seorang kolektor bernama Alexander Sergeyevich Zazulin. Pria keturunan Rusia yang lahir dan besar di Yining itu menghabiskan lebih dari tiga dekade hidupnya untuk memburu akordion dari berbagai negara.
Bukan hanya waktu, dana pribadi pun ia keluarkan demi mendapatkan instrumen-instrumen langka yang memiliki nilai sejarah tinggi. Perjalanannya membawa Alexander menyusuri berbagai negara seperti Rusia, Jerman, Italia, Prancis, Polandia, hingga Inggris.
Ketekunannya menjadikan museum tersebut bukan hanya sebagai ruang pamer, tetapi juga tempat pelestarian budaya. Alexander dikenal sebagai pewaris warisan budaya takbenda seni memainkan Bayan, jenis akordion tombol khas Rusia yang memiliki sejarah panjang.
Di dalam museum, pengunjung seolah diajak melakukan perjalanan melintasi zaman melalui perkembangan alat musik tersebut.
Koleksi yang tersimpan mencapai lebih dari 800 hingga 1.000 akordion yang berasal dari lebih dari 20 negara dengan beragam merek. Setiap instrumen memiliki cerita, bentuk, serta karakter suara yang berbeda.
Ada akordion berbahan kayu yang telah berusia lebih dari satu abad. Ada pula akordion elektronik modern yang mengikuti perkembangan teknologi musik.
Bahkan, museum tersebut menyimpan instrumen berukuran mungil seukuran telapak tangan hingga akordion besar dengan berat lebih dari 16 kilogram.
Keberagaman koleksi juga terlihat dari jenis-jenis akordion yang dipamerkan. Mulai dari Garmon, Khromka, Bayan, hingga Piano Accordion yang menggunakan tuts menyerupai piano.
Masing-masing memiliki ciri khas tersendiri.
Garmon dan Khromka banyak digunakan dalam musik rakyat Rusia serta kawasan Asia Tengah.
Sementara Bayan dikenal mampu menghasilkan komposisi klasik yang kompleks.
Adapun Piano Accordion menjadi salah satu jenis yang paling banyak digunakan di dunia karena relatif mudah dimainkan oleh mereka yang terbiasa dengan piano.
Namun, daya tarik Alexander Accordion Museum tidak hanya terletak pada koleksi yang tersusun rapi di balik kaca.
Setiap hari, panggung kecil di dalam museum berubah menjadi ruang pertunjukan. Seniman lokal dari berbagai kelompok etnis di Xinjiang memainkan musik secara langsung untuk para pengunjung.
Suara Bayan berpadu dengan petikan Dombra, alat musik tradisional masyarakat Kazakh. Perpaduan tersebut menciptakan harmoni yang menggambarkan keberagaman budaya di Lembah Ili.
Rombongan jurnalis CIPCC berkesempatan menyaksikan pertunjukan tersebut. Lagu-lagu khas Xinjiang dimainkan secara bergantian, membuat suasana museum yang awalnya tenang berubah menjadi ruang hiburan yang hangat. Tepuk tangan pengunjung pun berkali-kali terdengar mengikuti irama musik.
Ali Ibrahim, wisatawan asal Arab Saudi yang ikut menyaksikan pertunjukan itu, mengaku terkesan dengan perpaduan musik yang baru pertama kali ia dengarkan.
"Rasanya sangat hidup. Ada perpaduan Asia, Tiongkok, dan Rusia. Memberikan warna yang baru. Ini pertama kali saya mendengarnya," ujarnya.
Bagi sebagian orang, Alexander Accordion Museum mungkin hanya tampak sebagai tempat penyimpanan alat musik. Namun, di balik deretan akordion yang memenuhi ruangan hingga mendekati langit-langit, tersimpan cerita lebih besar.
Bahwa musik tidak mengenal batas. Ia mampu menghubungkan manusia dari berbagai latar belakang, melampaui bahasa, etnis, bahkan batas negara. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng