Dari Distrik Pinggu di Beijing, Makanan Halal Tiongkok Menembus Pasar Dunia

Eka Prasetya • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 18:52 WIB
PROSES MAKANAN: Suasana di pabrik processing makanan Zixingyuan di Distrik Pinggu, Beijing. Pabrik tersebut menjadi salah satu pusat produksi dan distribusi makanan halal di Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
PROSES MAKANAN: Suasana di pabrik processing makanan Zixingyuan di Distrik Pinggu, Beijing. Pabrik tersebut menjadi salah satu pusat produksi dan distribusi makanan halal di Tiongkok. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus. Berikut catatan perjalanannya.

DARI luar, bangunan itu tampak seperti kawasan industri modern biasa. Deretan gedung berdinding putih berdiri rapi di Distrik Pinggu, Beijing. 

Tidak ada tanda mencolok yang menunjukkan bahwa dari tempat itu lahir jutaan produk makanan yang setiap hari dikonsumsi masyarakat.

Namun, di balik dinding tersebut, sebuah industri makanan halal sedang bergerak dengan skala besar. 

Produk yang dihasilkan tidak hanya memenuhi pasar domestik Tiongkok, tetapi juga telah menyeberangi lautan menuju Malaysia hingga Amerika Serikat.

Beberapa waktu lalu, kami, para jurnalis peserta program China International Press Communication Center (CIPCC), berkesempatan melihat langsung aktivitas produksi di fasilitas tersebut. 

Kunjungan itu memperlihatkan bagaimana makanan tradisional Tiongkok dipadukan dengan teknologi modern tanpa kehilangan karakter budaya yang melekat di dalamnya.

Begitu memasuki area produksi, kesan pertama yang muncul justru ketenangan.

Tidak terdengar suara gaduh seperti yang sering dibayangkan dari sebuah pabrik makanan berskala besar. 

Jalur konveyor bergerak tanpa henti. Mesin-mesin otomatis bekerja memindahkan bahan baku, mengemas produk, hingga menyusun kemasan dengan tingkat presisi tinggi.

Sementara itu, para pekerja lebih banyak berada di depan layar monitor. Mereka memantau proses produksi, melakukan pemeriksaan kualitas, dan memastikan seluruh produk memenuhi standar keamanan pangan.

Teknologi memang mengambil alih banyak pekerjaan teknis, tetapi bukan berarti menghilangkan peran manusia. Justru, manusia ditempatkan pada posisi yang lebih penting sebagai pengendali kualitas dan pengambil keputusan.

Pabrik yang kami kunjungi merupakan anak usaha Ziguangyuan Group. Pada 2021, perusahaan tersebut menginvestasikan 255 juta RMB atau sekitar Rp 663 miliar untuk membangun Zixingyuan sebagai pusat produksi makanan halal modern. Setahun kemudian, fasilitas tersebut mulai beroperasi penuh.

Kini, kapasitas produksinya terbilang besar.

Sepanjang 2025, Zixingyuan memproduksi sekitar 100 juta cup Naipizi, yoghurt tradisional khas Beijing. 

Selain itu, perusahaan juga menghasilkan 40 juta Huoxiangbao atau roti panggang khas Tiongkok, 2.500 ton Zenggao berupa kue ketan kukus dengan kurma merah, dua juta ekor ayam suwir siap saji, serta 2.000 ton daging sapi berbumbu.

Seluruh produk tersebut diproses dalam satu kompleks yang dirancang khusus sebagai fasilitas makanan halal.

Deputy General Manager Zixingyuan, Lu Xingjiu, mengatakan perusahaan saat ini memiliki empat kelompok produk utama. 

Mulai dari makanan berbahan dasar daging siap olah dan berbumbu, produk berbasis tepung, saus dan bumbu masak untuk jaringan restoran, hingga produk susu yang menjadi salah satu andalan.

"Produk yoghurt (napizi) kami dibuat dari susu sapi segar dengan kandungan protein lebih dari 3,2 persen. Setelah melalui proses homogenisasi bertekanan tinggi, rasa susunya menjadi lebih kaya dan lembut," jelas Lu.

Produk tersebut menjadi salah satu primadona perusahaan. Pada periode penjualan terbaik, Zixingyuan mampu menjual hingga 530 ribu cup yoghurt dalam sehari.

Bahkan, Naipizi mendapat predikat "Beijing Gift", penghargaan dari Biro Kebudayaan dan Pariwisata Kota Beijing untuk produk yang dianggap mampu merepresentasikan identitas ibu kota Tiongkok.

Kami pun berkesempatan mencicipi produk tersebut.

Bagi Patience Mawa, jurnalis asal Vanuatu, yoghurt tersebut memberikan pengalaman rasa yang berbeda dibanding produk serupa yang pernah ia coba.

"Ini yogurt terenak yang pernah saya makan selama di Tiongkok," ujarnya.

Namun, perjalanan Zixingyuan tidak berhenti di pasar dalam negeri.

Produk mereka kini telah memasuki pasar Malaysia dan Amerika Serikat. Bahkan, perusahaan mulai membidik pasar Asia Tenggara lainnya, termasuk Singapura dan Indonesia.

Untuk pasar Malaysia, Zixingyuan mengembangkan varian khusus berupa milk-ice yogurt. Produk tersebut dirancang agar lebih efisien dalam proses distribusi. Setelah tiba di negara tujuan, toko hanya perlu melakukan proses pengolahan singkat sebelum produk siap disajikan.

Di Malaysia, yoghurt tersebut dipasarkan dengan merek Heiyou (Black You). Strategi pemasaran pun menyesuaikan perkembangan zaman dengan memanfaatkan influencer media sosial serta jaringan toko ritel.

Saat ini, produk yoghurt Zixingyuan telah tersedia di sekitar 320 gerai di Malaysia.

Namun, yang menarik dari perjalanan perusahaan ini bukan hanya besarnya kapasitas produksi atau luasnya pasar ekspor.

Di tengah pertumbuhan bisnis, Zixingyuan justru terus memperbesar investasi di bidang penelitian dan pengembangan.

Lu mengungkapkan, sepanjang tahun lalu perusahaan mengalokasikan 28 juta RMB atau sekitar Rp 72,8 miliar untuk riset dan pengembangan.

Dana tersebut digunakan untuk menciptakan produk baru, memperbaiki cita rasa, meningkatkan efisiensi produksi, hingga menyesuaikan produk dengan selera konsumen di berbagai negara. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
beijing tiongkok china buleleng