Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus. Berikut catatan perjalanannya.
BAHKAN sebelum bus yang kami tumpangi berhenti, kawasan itu sudah memberi tanda tentang apa yang menjadi denyut kehidupannya.
Di tengah jalan berdiri sebuah monumen berbentuk notasi balok. Tidak ada patung tokoh besar. Tidak ada pula gerbang megah yang biasanya menjadi penanda kawasan industri. Hanya sebuah simbol sederhana yang seolah ingin berkata bahwa tempat tersebut dibangun dari nada.
Beberapa menit kemudian, bus memasuki kompleks Beijing Huadong Musical Instrument Co., Ltd., di Distrik Pinggu, Beijing. Di tempat inilah perjalanan sebuah alat musik yang akrab dengan panggung konser dunia dimulai.
Bersama puluhan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik, Afrika, Karibia, hingga Eropa, kami melihat lebih dekat bagaimana sebuah biola dibuat. Bukan sekadar sebagai produk industri, tetapi sebagai karya yang menggabungkan keterampilan tangan, ketelitian, dan kesabaran.
Begitu pintu aula dibuka, suara biola langsung menyambut kedatangan kami. Nada lembut itu memenuhi ruangan, menciptakan suasana berbeda dari bayangan sebuah pabrik.
Tak lama kemudian, suasana berubah menjadi lebih hangat. Seorang jurnalis asal Albania maju ke depan. Ia mengambil sebuah biola, lalu memainkan beberapa lagu.
Sekejap, musik menghapus jarak.
Tidak ada lagi perbedaan bahasa, negara, maupun latar belakang. Para jurnalis dari berbagai penjuru dunia hanya berdiri mengelilinginya, menikmati melodi yang mengalir dari sebuah instrumen yang dibuat ribuan kilometer dari rumah mereka.
Namun, di balik suara indah yang dihasilkan sebuah biola, ada proses panjang yang tidak sederhana.
Perjalanan berlanjut menuju ruang produksi. Di sinilah kami melihat bagaimana sebuah potongan kayu perlahan berubah menjadi instrumen musik bernilai tinggi.
Setiap tahap dikerjakan dengan penuh ketelitian. Mulai dari pemilihan kayu, pembentukan badan biola, pemasangan leher instrumen, penghalusan permukaan, hingga proses pewarnaan yang turut menentukan karakter suara dan keindahan akhir.
Kayu yang digunakan pun tidak sembarangan. Sebagian material didatangkan dari Jerman karena memiliki karakter serat yang dinilai mampu menghasilkan resonansi suara yang baik.
Di salah satu sudut ruangan, seorang perajin tampak bekerja dalam keheningan. Tangannya bergerak perlahan menghaluskan permukaan biola dengan alat sederhana.
Hanya suara gesekan amplas yang terdengar.
Namun dari gerakan kecil itulah kualitas sebuah instrumen ditentukan. Sedikit kesalahan dalam proses pengerjaan dapat memengaruhi suara yang dihasilkan.
Bagi para perajin di Huadong, membuat biola bukan hanya pekerjaan pabrik. Ada unsur seni yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
Untuk biola kelas standar, proses pengerjaan membutuhkan waktu sekitar lima hari. Namun untuk instrumen premium yang dibuat secara manual dengan tingkat presisi tinggi, pembuatannya bisa memakan waktu sedikitnya tiga bulan, bahkan hingga satu tahun.
Tidak ada jalan pintas dalam menciptakan kualitas.
Semakin tinggi standar yang ingin dicapai, semakin panjang pula waktu yang harus dilalui.
Setelah menyaksikan proses produksi, kami diajak menuju ruang pamer. Puluhan biola, cello, hingga kontrabas tersusun rapi memenuhi ruangan.
Ada instrumen berukuran kecil untuk anak-anak yang baru belajar bermain musik. Ada pula biola profesional yang dirancang untuk para musisi panggung.
Perbedaan kualitas tentu berpengaruh terhadap harga. Biola untuk pelajar dibanderol sekitar 350–450 yuan. Sementara instrumen premium memiliki harga mulai 10 ribu yuan dan dapat meningkat sesuai material serta tingkat pengerjaannya.
Manajer Beijing Huadong Musical Instrument, Ma Yanxia, mengatakan perusahaan tersebut berdiri sejak 1988.
Sejak awal berdiri, Huadong mendapat pendampingan dari sejumlah maestro pembuat biola atau luthier, seperti Dai Hongxiang dan Wang Chonggui.
Pendampingan tersebut menjadi fondasi bagi perusahaan untuk menjaga kualitas produksi hingga saat ini.
Kini, Huadong mampu menghasilkan sekitar 55 ribu biola setiap tahun dengan nilai produksi mencapai 40 juta RMB atau sekitar Rp 104 miliar.
Perusahaan itu juga menjadi salah satu pelopor industri pembuatan biola di Pinggu sekaligus kawasan Tiongkok bagian utara.
Namun, angka produksi bukan satu-satunya hal yang menarik.
Sekitar 80 persen produk Huadong diekspor ke berbagai negara, mulai Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Spanyol, Iran, Korea Selatan, hingga Jepang.
Dari aktivitas industri itulah muncul sebuah julukan yang melekat pada Donggaocun, kawasan tempat perusahaan tersebut berada.
"Satu dari setiap tiga biola di dunia berasal dari Donggaocun," ujar Ma.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan cerita besar. Sulit membayangkan sebuah kawasan yang tidak terlalu besar di Distrik Pinggu mampu memainkan peran penting dalam industri musik dunia.
Kini Donggaocun tidak hanya dikenal sebagai kawasan industri. Ia menjadi "Kampung Halaman Biola" Tiongkok, tempat kayu, tangan manusia, dan ketekunan berpadu menciptakan melodi yang kemudian mengalun di berbagai penjuru dunia. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng