Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus. Berikut catatan perjalanannya.
SELAMA dua bulan berada di Beijing, ada satu kata yang nyaris selalu muncul dalam berbagai kunjungan. Kata itu yakni inovasi.
Kata itu terdengar ketika membicarakan kecerdasan buatan, media, manufaktur, sampai pertanian. Namun, bagi saya, makna inovasi baru terasa lebih konkret ketika rombongan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) menginjakkan kaki di Beijing Jingwa Agricultural Science and Technology Innovation Center, atau lebih dikenal sebagai Jingwa Center, di Distrik Pinggu, awal Agustus lalu.
Di tempat ini, inovasi ternyata bukan sekadar tentang menciptakan teknologi yang terdengar canggih. Ukurannya justru lebih sederhana, sejauh mana hasil riset bisa keluar dari laboratorium dan benar-benar dirasakan masyarakat. Bahkan, jika memungkinkan, sampai tersaji di meja makan.
Jingwa Center berada di Kota Yukou, Distrik Pinggu. Lembaga ini bukan perusahaan, melainkan pusat inovasi sains dan teknologi pertanian yang didirikan pada 2021 dengan dukungan Pemerintah Kota Beijing dan Komite Kota Beijing Partai Komunis Tiongkok (CPC).
Yang menarik, pusat inovasi ini lahir dari kolaborasi banyak pihak. China Agricultural University (CAU), Beijing Academy of Agriculture and Forestry Sciences (BAAFS), Beijing Capital Agribusiness & Foods Group (BCAF), New Hope Group, hingga raksasa teknologi JD.com terlibat di dalamnya.
Akademisi, pemerintah, lembaga penelitian, industri, dan dunia bisnis ditempatkan dalam satu ekosistem.
Tujuannya sebenarnya terdengar sederhana. Jangan biarkan hasil penelitian hanya menjadi tumpukan jurnal di perpustakaan atau berhenti sebagai prototipe di laboratorium.
Di Jingwa Center, kami diajak melihat bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi berbagai produk pangan. Salah satu yang langsung menarik perhatian adalah ayam suwir siap konsumsi.
Sekilas, tidak ada yang terlalu istimewa. Tampilannya bahkan tak jauh berbeda dari produk ayam suwir yang mudah ditemui di pasaran.
Namun, penjelasan pengelola membuat produk itu terasa berbeda.
Ayam tersebut dikembangkan melalui penelitian yang tidak hanya mempertimbangkan kandungan gizi, tetapi juga tekstur. Daging dibuat lebih lembut sehingga mudah dikunyah balita maupun lanjut usia.
Di sudut lain, deretan produk pangan fungsional juga dipamerkan. Ada suplemen berbasis probiotik hingga berbagai produk yang dirancang untuk mendukung kesehatan saluran pencernaan.
Salah satu produk bahkan cukup membuat penasaran.
Bentuknya berupa bubuk halus dalam kemasan kecil. Berbeda dengan produk probiotik yang lazim saya temui, bubuk tersebut tidak perlu dilarutkan terlebih dahulu. Cukup dituangkan langsung ke mulut.
Rasanya manis, ringan, dengan sensasi creamy yang mengingatkan pada susu.
Maneenat Onpanna, jurnalis peserta CIPCC asal Thailand, langsung memberikan respons setelah mencicipinya.
“Bubuk prebiotiknya enak, bisa dikonsumsi langsung. Awalnya saya kira harus dilarutkan dengan air dulu, baru dikonsumsi,” ujarnya.
Namun, produk-produk tersebut hanyalah hasil akhir yang terlihat. Di belakangnya terdapat sebuah pola kerja yang menjadi fondasi Jingwa Center, yakni Golden Triangle Model atau Model Segitiga Emas.
Model ini mempertemukan tiga kekuatan. Pemerintah berperan menyiapkan kebijakan sekaligus ekosistem yang memungkinkan inovasi tumbuh.
Lembaga penelitian bertugas menghasilkan pengetahuan dan teknologi baru. Sementara dunia industri menerjemahkan hasil penelitian tersebut menjadi produk yang memiliki nilai guna dan dibutuhkan pasar.
Di sinilah jarak antara laboratorium dan pasar berusaha dipangkas.
Sebuah penelitian tidak cukup hanya menghasilkan jurnal ilmiah. Teknologi harus menemukan jalannya menuju masyarakat. Riset harus memiliki bentuk yang bisa digunakan, dikonsumsi, atau menyelesaikan persoalan sehari-hari. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng