Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus. Berikut catatan perjalanannya.
DI meja makan, telur nyaris tak pernah mendapat perlakuan istimewa. Telur diolah sederhana. Direbus untuk sarapan, diceplok, didadar, atau sekadar menjadi pelengkap sepiring nasi.
Namun, kesederhanaan itu mendadak terasa berbeda ketika saya berdiri di sebuah perusahaan pembibitan unggas di Distrik Pinggu, Beijing, awal Agustus lalu.
Di tempat itu, saya baru menyadari bahwa sebutir telur yang tampak biasa saja di atas meja makan ternyata memiliki perjalanan panjang sebelum sampai ke sana. Ada riset genetika, pemuliaan, bioteknologi, hingga jaringan industri yang membentang lintas negara di baliknya.
Pengalaman tersebut saya dapatkan saat mengunjungi Beijing WOD Chen-Long Biotechnology Co., Ltd., yang lebih dikenal dengan nama Yukou Poultry Industry. Kunjungan itu menjadi bagian dari agenda perjalanan bersama puluhan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) pada awal Agustus lalu.
Nama Yukou Poultry Industry mungkin belum banyak dikenal masyarakat Indonesia. Namun, di industri perunggasan Tiongkok, perusahaan ini memiliki posisi yang cukup besar.
“Satu dari setiap dua telur yang dikonsumsi masyarakat Tiongkok berasal dari ayam yang kami kembangkan,” ujar Mrs. Wu, salah seorang peneliti perusahaan, saat membuka presentasi.
Kalimat itu cukup untuk membuat saya menaruh perhatian lebih. Sebab, perusahaan yang berdiri di kawasan Pinggu tersebut ternyata bukan sekadar peternakan ayam dalam pengertian yang umum.
Beijing WOD Chen-Long Biotechnology merupakan salah satu dari tiga perusahaan pembibitan unggas terbesar di dunia. Sepanjang 2025, pendapatan operasionalnya mencapai 1,83 miliar RMB atau sekitar Rp 4,75 triliun.
Yang mereka jual bukan telur konsumsi yang biasa ditemukan di pasar. Mereka justru bekerja jauh di hulu. Fokusnya adalah mengembangkan bibit ayam unggul yang kemudian dipelihara peternak di berbagai wilayah Tiongkok hingga sejumlah negara lain.
Perjalanan perusahaan itu juga tidak dibangun dalam semalam. Menurut Mrs. Wu yang bekerja di divisi riset dan pengembangan, Yukou Poultry Industry memulai usaha pada 1975 sebagai produsen telur. Empat belas tahun kemudian, tepatnya 1989, perusahaan mulai memasok anak ayam petelur atau day-old layer chicks.
Langkah berikutnya datang pada 1999. Perusahaan mulai serius masuk ke bidang pemuliaan ayam petelur.
Pengembangan bisnis kemudian berlanjut ke ayam pedaging atau broiler pada 2012. Dari sana, perusahaan perlahan membangun rantai pasok perunggasan yang semakin terintegrasi. Skalanya kini sulit disebut kecil.
“Kami memproduksi sedikitnya 350 juta anak ayam setiap tahun,” kata Mrs. Wu.
Bagian yang paling menarik perhatian saya justru berada pada bagaimana perusahaan tersebut membangun keunggulan melalui riset genetika.
Selama bertahun-tahun, mereka mengembangkan berbagai varietas ayam petelur unggul. Di antaranya Jing Brown 1, Jing Tint 1, Jing Tint 2, dan Jing White 1.
Masing-masing memiliki karakteristik berbeda. Namun, ada satu kesamaan yang menarik: varietas tersebut mampu menghasilkan telur dengan bobot lebih dari 60 gram per butir.
Di sinilah industri perunggasan tidak lagi sekadar berbicara tentang memelihara ayam dan menunggu telur.
Ada proses panjang untuk menentukan karakter unggas yang diinginkan. Mulai dari produktivitas, kualitas telur, hingga karakteristik lain yang dibutuhkan pasar.
Inovasi serupa juga dilakukan pada ayam pedaging. Pada 2019, perusahaan mengembangkan ayam pedaging berukuran lebih kecil.
Setelah dua tahun berselang, muncul varietas dengan kualitas daging yang lebih baik dan ayam pedaging dengan pertumbuhan lebih cepat.
Yang menarik, pengembangan bibit tersebut tidak berhenti di pasar domestik Tiongkok. Ayam petelur seri Jing, ayam pedaging WOD, dan berbagai produk pembibitan lainnya telah diekspor ke lebih dari belasan negara.
Daftarnya membentang dari Tanzania, Ghana, Tajikistan, Mali, Laos, Pakistan, Arab Saudi, Afghanistan, Myanmar, Kamboja, Uni Emirat Arab, hingga Korea Utara.
Secara keseluruhan, perusahaan menyebut telah mengekspor lebih dari 72.300 set anak ayam indukan (parent stock chicks), 270.000 butir telur tetas indukan (parent stock hatching eggs), serta 830.000 butir telur tetas komersial (commercial hatching eggs).
Kini, pandangan perusahaan mulai diarahkan lebih jauh ke Asia Tenggara. Mrs. Wu mengatakan ekspansi pasar tengah dijajaki ke sejumlah negara, termasuk Filipina, Thailand, Myanmar, Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Kamboja.
Produk yang disiapkan pun bukan hanya bibit ayam. Ada ayam pembibitan (breeding chickens), telur tetas (hatching eggs), hingga premix feed—campuran vitamin, mineral, asam amino, dan bahan tambahan lain yang digunakan sebagai suplemen pakan untuk mendukung pertumbuhan dan produktivitas unggas.
Dengan kata lain, yang dibawa perusahaan bukan sekadar ayam. Mereka membawa teknologi pembibitan sekaligus bagian dari ekosistem industrinya.
Sayangnya, rasa penasaran saya terhadap bagaimana proses tersebut berlangsung di balik layar belum sepenuhnya terjawab.
Rombongan tidak diperbolehkan memasuki area pembibitan maupun kandang. Bukan karena perusahaan tidak ingin menunjukkan proses produksinya, melainkan karena aturan biosekuriti yang sangat ketat.
Area yang berkaitan langsung dengan unggas memang memiliki standar akses berbeda. Setiap orang yang keluar-masuk berpotensi membawa kontaminan yang dapat mengganggu kesehatan ternak.
Ditambah waktu kunjungan yang terbatas, pengalaman kami akhirnya lebih banyak berlangsung di ruang presentasi.
Sebagai gantinya, perusahaan mengajak rombongan menikmati sejumlah hidangan berbahan dasar ayam hasil pengembangan mereka. Dagingnya terasa lembut dengan cita rasa yang relatif ringan.
Apakah perbedaan tersebut benar-benar berasal dari faktor genetika ayam atau lebih banyak dipengaruhi teknik pengolahan? Sulit bagi saya memastikan.
Namun, setidaknya, sepiring ayam itu menjadi penutup yang menarik dari sebuah kunjungan yang mengubah cara saya memandang telur.
Sebab, setelah mendengar cerita tentang genetika, riset, pembibitan, dan perjalanan panjang ayam-ayam tersebut menembus pasar dunia, sebutir telur di meja makan rasanya tak lagi sesederhana sebelumnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng