Bukan Film Fiksi Ilmiah, Robot di Beijing Sudah Jadi Pelayan hingga Bartender

Eka Prasetya • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 10:10 WIB
ROBOT: Suasana di lobi Humanoid, sebuah perusahaan teknologi dan AI di Beijing, Tiongkok. Perusahaan ini mengembangkan berbagai jenis robot. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
ROBOT: Suasana di lobi Humanoid, sebuah perusahaan teknologi dan AI di Beijing, Tiongkok. Perusahaan ini mengembangkan berbagai jenis robot. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus. Berikut catatan perjalanannya.

SAPAAN itu terdengar begitu biasa. Namun, sosok yang mengucapkannya sama sekali tidak biasa.

Bukan pegawai perusahaan. Bukan pula pemandu wisata yang sudah terbiasa menerima tamu. 

Sapaan itu keluar dari mulut sebuah robot humanoid yang berdiri tegak di lobi Humanoid, salah satu perusahaan pengembang robot berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) di Beijing, Tiongkok.

Beberapa detik kemudian, robot tersebut berjalan di depan rombongan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah. Kami mengikutinya memasuki ruang eksibisi teknologi.

Layaknya pemandu museum, robot itu membawa kami dari satu sudut ke sudut lainnya. Dari satu inovasi ke inovasi berikutnya.

Sejak langkah pertama, suasana futuristis langsung terasa. Beragam robot dipajang di hampir setiap sudut ruangan. Masing-masing memiliki bentuk, fungsi, dan kemampuan berbeda.

Ada robot yang bisa menari mengikuti irama musik. Ada pula tangan robotik yang mampu menirukan gerakan tangan manusia dengan tingkat presisi yang mengagumkan.

Seorang staf menggerakkan jemarinya. Di hadapannya, replika tangan mekanis segera mengikuti gerakan tersebut. Jari-jari robot bergerak hampir bersamaan dengan tangan manusia yang menjadi acuannya.

Teknologi itu terlihat sederhana dari kejauhan. Namun ketika diperhatikan lebih dekat, koordinasi gerak tersebut terasa seperti menyaksikan batas antara manusia dan mesin yang semakin tipis.

Perhatian saya kemudian beralih kepada robot dengan bentuk yang justru tidak menyerupai manusia.

Robot itu tidak memiliki dua kaki untuk berjalan tegak. Tubuhnya bergerak rendah, merayap di atas lantai.

Menurut pemandu, robot tersebut sedang dikembangkan sebagai rescue robot. 

Tugasnya bukan menggantikan manusia sepenuhnya, melainkan masuk ke tempat-tempat yang terlalu berbahaya atau sulit dijangkau tim penyelamat.

Bayangkan sebuah gedung ambruk setelah gempa. Tumpukan beton menutup sebagian besar akses. Atau sebuah lorong sempit yang bahkan tidak cukup untuk dilalui tubuh manusia.

Dalam kondisi seperti itu, robot dapat dikirim lebih dahulu. Mencari tanda-tanda keberadaan korban. Sekaligus memetakan kondisi di dalam lokasi sebelum petugas penyelamat mengambil tindakan.

Dari bencana, pengembangan robot Humanoid bergerak ke dunia industri.

Perusahaan tersebut juga menyiapkan robot pekerja untuk sektor logistik dan jasa pengiriman. Robot diproyeksikan mengerjakan aktivitas berulang yang membutuhkan tenaga besar, sekaligus meningkatkan efisiensi pekerjaan.

Lalu ada robot untuk kebutuhan rumah tangga.

Fungsinya membantu aktivitas sehari-hari di rumah. Namun, teknologi futuristis itu masih dibanderol dengan harga yang cukup membuat dahi berkerut.

Satu unit robot ditawarkan sekitar 400 ribu yuan. Jika dikonversikan dengan kurs sekitar Rp 2.600 per yuan, harganya mencapai sekitar Rp 1,04 miliar.

Mahal? Untuk saat ini, iya.

Namun perusahaan optimistis harga tersebut akan turun seiring peningkatan produksi massal dan perkembangan teknologi.

Kunjungan kami berlanjut ke ruang demonstrasi. Di sana, robot-robot yang telah diarahkan untuk kebutuhan komersial diperagakan secara langsung.

Ada robot yang memainkan piano. Ada robot penari. Ada robot asisten rumah tangga. Ada pula robot yang dikembangkan untuk membantu pelayanan medis.

Yang membuat penasaran bukan hanya bentuknya. Sebagian robot sudah mampu bergerak dengan cukup luwes.

Gerakan tangan, tubuh, hingga koordinasinya tampak semakin halus. Beberapa di antaranya bahkan memiliki ekspresi yang membuat sosok mesin tersebut terasa sedikit lebih “hidup”.

Di titik itu, saya mulai menyadari bahwa perkembangan robotika di Tiongkok bukan lagi sekadar urusan laboratorium.

Robot tidak hanya dibuat untuk dipamerkan sebagai prototipe. Sebagian sudah diarahkan untuk masuk ke ruang-ruang kehidupan manusia. Bekerja di industri. Membantu di rumah. Bahkan melayani pelanggan.

Bukti paling nyata justru kami temukan di bagian akhir kunjungan.

Kami diajak memasuki sebuah restoran yang nyaris seluruh aktivitas pelayanannya dijalankan robot.

Seorang robot pramusaji membawa makanan menuju meja pelanggan. Di sudut lain, robot barista sibuk meracik kopi. Gerakannya terukur dan presisi.

Tak jauh dari sana, robot bartender membuat minuman. Robot lainnya melayani pembelian popcorn secara otomatis.

Bahkan ada robot anjing yang berjalan berkeliling restoran. Di bagian lain, robot bertugas memutar musik untuk menghibur pengunjung.

Rasanya seperti masuk ke dalam potongan film fiksi ilmiah.

Bedanya, kali ini bukan layar bioskop yang menjadi tempatnya.

Kami benar-benar berada di dalamnya.

Namun pengalaman paling berkesan justru bukan saat melihat robot menari, meracik kopi, atau melayani pelanggan.

Melainkan ketika saya berhadapan langsung dengan robot dalam permainan tradisional Tiongkok, Weiqi. Permainan yang lebih dikenal secara internasional dengan nama Go.

Saya memberanikan diri menantang robot tersebut.

Keputusan yang belakangan saya sadari kurang bijaksana.

Tiga kali permainan berlangsung. Tiga kali pula saya harus mengakui keunggulan lawan.

Tidak ada ekspresi kemenangan di wajahnya. Tidak ada sorakan ketika berhasil mengalahkan saya. Hanya tubuh logam dan rangkaian chip yang bekerja menghitung setiap langkah.

Robot itu benar-benar tidak memberi kesempatan.

“Berlatih lagi, sama robot saja kalah,” seloroh Pheng Somany, jurnalis asal Kamboja, yang menyaksikan pertandingan tersebut.

Saya hanya bisa tertawa.

Kalah telak dari robot memang bukan pengalaman yang ingin dibanggakan. Namun setidaknya saya tidak pulang dengan tangan kosong.

Sebagai semacam “hadiah penghibur”, saya mendapatkan segelas bir yang diracik langsung oleh robot bartender.

Rasanya? Mungkin tidak jauh berbeda dengan bir pada umumnya.

Tetapi sensasinya jelas berbeda.

Sebab tidak setiap hari kita bisa menikmati minuman yang diracik dan disajikan oleh sepasang tangan mekanis. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
beijing tiongkok robot china buleleng