Dari 88 Negara, Bertemu di Tiongkok, Berpisah dengan Cerita 

Eka Prasetya • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 10:49 WIB
TUTUP PROGRAM: Asisten Menteri Luar Negeri Tiongkok, Hong Lei, saat menutup program CIPCC yang diikuti oleh 96 orang jurnalis dari 88 negara. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
TUTUP PROGRAM: Asisten Menteri Luar Negeri Tiongkok, Hong Lei, saat menutup program CIPCC yang diikuti oleh 96 orang jurnalis dari 88 negara. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus. Berikut catatan perjalanannya.

TIGA bulan bukan waktu yang sebentar. Apalagi jika dijalani bersama 96 orang lain dari 88 negara berbeda. 

Dalam rentang waktu itu, 96 jurnalis peserta China International Press Communication Centre (CIPCC) 2026 berpindah dari satu kota ke kota lain, berbagi cerita, bertukar pandangan, dan perlahan-lahan membangun pertemanan.

Karena itu, penutupan program di Beijing, Selasa (11/8/2026), bukan sekadar seremoni. Ada tawa yang pecah di antara peserta. Ada pula mata yang menyimpan haru ketika menyadari bahwa perjalanan bersama akhirnya harus sampai di ujung.

Panggung penutupan menjadi semacam pertunjukan kecil tentang dunia. Jurnalis dari Asia Pasifik, Timur Tengah, Eurasia, Eropa, Karibia, Afrika, hingga Amerika Latin tampil membawa ciri khas kawasan masing-masing.

Beragam bahasa dan budaya bertemu di atas panggung. Namun, setelah tiga bulan bersama, mereka harus kembali ke negara masing-masing.

Sebagian peserta akan menempuh perjalanan ribuan kilometer menuju Asia Tenggara. Sebagian lain kembali ke Timur Tengah, Afrika, Eropa, Amerika Latin, dan berbagai penjuru dunia.

Tiga bulan sebelumnya, sebagian besar peserta datang ke Tiongkok tanpa saling mengenal. Kini, mereka pulang membawa sesuatu yang jauh lebih banyak daripada sekadar catatan jurnalistik.

Bagi saya, perjalanan mengikuti CIPCC juga tidak selalu mulus. Pekan-pekan pertama justru menjadi masa yang cukup berat. Penyebabnya adalah makanan.

Lidah yang terbiasa dengan nasi, sambal, dan cita rasa masakan Indonesia yang gurih, perlu beradaptasi dengan makanan Tiongkok. Beberapa menu terasa begitu asing. Rasa rindu rumah atau homesick pun sempat muncul.

Namun, waktu ternyata pandai mengubah kebiasaan.

Hari demi hari, makanan yang awalnya terasa asing mulai bisa dinikmati. Perjalanan ke berbagai daerah juga membuat pengalaman kuliner semakin beragam. Dari satu kota ke kota lain, selalu ada rasa baru yang dicoba.

Hal serupa terjadi dalam hubungan antar peserta.

Pada awal program, sebagian peserta masih terlihat canggung. Percakapan sering kali berhenti pada pertanyaan sederhana: dari negara mana, bekerja sebagai apa, dan sudah berapa lama menggeluti karir.

Tetapi perjalanan panjang mengubah semuanya.

Kami mulai saling membantu ketika ada yang mengalami kendala. Saling berbagi informasi. Saling menunggu ketika ada peserta yang tertinggal. Bahkan, hal-hal sederhana seperti makan bersama di sela perjalanan perlahan menjadi ruang untuk bercerita.

Tentang pekerjaan. Tentang keluarga. Tentang negara masing-masing. Tentang kebiasaan yang ternyata berbeda jauh, tetapi juga memiliki banyak persamaan.

Tiga bulan ternyata cukup untuk membuat batas-batas negara terasa lebih tipis.

Orang yang pada awalnya sama sekali tidak dikenal berubah menjadi kawan. Kawan kemudian menjadi sahabat.

Di luar pengalaman personal, CIPCC memberi kesempatan kepada para jurnalis untuk melihat Tiongkok dari jarak yang lebih dekat.

Bukan hanya Beijing dengan gedung-gedung modern dan jaringan transportasi publiknya. Peserta diajak menjelajah berbagai wilayah untuk melihat langsung bagaimana masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari.

Kami mendatangi perusahaan teknologi tinggi, desa, permukiman warga, sekolah, hingga berbagai lokasi yang menjadi gambaran perkembangan teknologi, ekonomi, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat Tiongkok.

Asisten Menteri Luar Negeri Tiongkok Hong Lei, dalam acara penutupan, mengapresiasi perjalanan para peserta tersebut.

Menurut dia, kunjungan ke berbagai daerah memberikan pengalaman langsung yang dapat membantu para jurnalis memahami arah serta dinamika pembangunan Tiongkok.

“Dengan bahasa yang lugas dan hidup, Anda sekalian telah menampilkan industri-industri Tiongkok yang dinamis serta kekuatan sains dan teknologinya kepada dunia,” ujarnya.

Hong Lei berharap para peserta tetap menceritakan pengalaman dan temuan mereka setelah kembali ke negara masing-masing.

Bukan sekadar tentang apa yang dilihat. Melainkan juga tentang bagaimana Tiongkok berkembang dan bagaimana masyarakatnya menjalani perubahan tersebut.

Cerita-cerita itu, menurut dia, diharapkan dapat membantu memperkuat pemahaman, kerja sama, serta hubungan antara Tiongkok dan negara-negara berkembang.

Sementara itu Presiden China Public Diplomacy Association (CPDA), Chen Xu juga menyoroti posisi jurnalis dari negara-negara berkembang dalam komunikasi internasional.

Menurut Chen, media dari negara berkembang memiliki peran penting untuk menyuarakan perspektif mereka sendiri di tengah lanskap informasi global yang selama ini dinilai masih didominasi narasi dari sejumlah negara.

Tahun 2026 ini, CIPCC telah memasuki tahun ke-12. Program tersebut berkembang menjadi salah satu program pertukaran media asing terbesar di Tiongkok, baik dari sisi jangkauan wilayah, jumlah peserta, maupun keberagaman organisasi media yang terlibat.

Tahun ini, 96 wartawan dari 88 negara mengikuti program tersebut. Selama tiga bulan, para peserta melakukan perjalanan ke 19 provinsi, kota, dan daerah otonom di Tiongkok.

Teknologi dan inovasi menjadi salah satu hal yang banyak ditemui dalam perjalanan. Namun, warisan budaya dan kehidupan masyarakat sehari-hari juga menjadi bagian penting dari cerita yang dibawa pulang para peserta.

Indonesia sendiri diwakili dua jurnalis. Yakni Eka Prasetya Kusuma Negara dari Jawa Pos Radar Bali dan Nadia Ayu Soraya dari Metro TV.

Keduanya menjadi bagian dari 96 jurnalis yang menjalani perjalanan panjang sejak 11 Mei hingga 11 Agustus tersebut.

Program yang diselenggarakan China Public Diplomacy Association itu berlangsung di Renmin University of China (RUC), salah satu perguruan tinggi terkemuka di Tiongkok dalam bidang jurnalistik dan komunikasi.

Peserta akhirnya berpamitan. Pertemuan itu memang hanya berlangsung tiga bulan. Namun, kenangannya bisa jauh lebih panjang daripada itu. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
beijing tiongkok china buleleng jurnalis