SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Kabupaten Buleleng menjadi wilayah paling rawan musibah kebakaran di Bali sepanjang 2026.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali mencatat, Buleleng menduduki peringkat teratas angka kebakaran bangunan rumah/gedung serta karhutla akibat dampak cuaca ekstrem musim kemarau.
Dari total 225 musibah kebakaran bangunan di Bali sejak 1 Januari hingga 9 September 2026 yang menelan kerugian Rp11,6 miliar, Kabupaten Buleleng menyumbang angka kejadian tertinggi yakni 66 kasus, mengungguli Kota Denpasar (45 kasus) dan Kabupaten Badung (41 kasus).
Tak hanya permukiman, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Buleleng juga berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan.
Kepala UPTD Pengendalian Bencana Daerah BPBD Bali, Wayan Suryawan, mengungkapkan bahwa dari total 196,68 hektare lahan terbakar di Bali, Buleleng mencatatkan kerusakan lahan terluas mencapai 159,07 hektare.
"Buleleng menjadi area terdampak paling dominan, baik untuk kebakaran bangunan gedung maupun karhutla. Fenomena kemarau 2026 yang lebih panjang, lebih kering, dan bersuhu tinggi memperparah risiko kebencanaan di wilayah utara Bali ini," ungkap Wayan Suryawan, Kamis (10/9/2026).
Selain hutan dan permukiman, fasilitas pengolahan sampah di Buleleng seperti TPST 3R Tejakula juga tak luput dari ancaman kobaran api yang masuk dalam pemantauan BPBD.
Suryawan menegaskan, meski fenomena cuaca El Nino mempertinggi kerentanan lingkungan menjadi sangat kering, faktor kelalaian manusia tetap menjadi pemicu utama.
BPBD menghimbau masyarakat memperketat kewaspadaan dengan rutin merawat instalasi listrik, menghindari tumpukan colokan kabel di rumah, tidak melakukan pembakaran sampah/lahan sembarangan, serta menyiagakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di area publik. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Bali