Krisis BBM di Buleleng: Nyaris 10 Jam Mengantre Demi 5 Liter Pertalite

Eka Prasetya • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 18:25 WIB
MENGANTRE: Warga mengantre BBM di SPBU Anturan, Buleleng. Warga rela bermalam di SPBU demi mendapatkan bensin. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)
MENGANTRE: Warga mengantre BBM di SPBU Anturan, Buleleng. Warga rela bermalam di SPBU demi mendapatkan bensin. (Eka Prasetya/Radar Buleleng)

 

LIMA liter bensin. Jumlah itu akhirnya saya bawa pulang setelah menghabiskan hampir sepuluh jam mengantre di SPBU Anturan, Buleleng. 

Saya tiba di SPBU pada Rabu (14/10/2026) pukul 20.51 WITA. Baru pada Kamis (15/10) pukul 06.24 WITA, giliran saya mendapatkan bahan bakar. Itu pun hanya Pertalite. Pertamax yang saya cari sejak malam tak tersedia.

Di tengah krisis bahan bakar minyak (BBM) yang melanda Buleleng, lima liter bensin bukan sekadar urusan mengisi tangki sepeda motor. Untuk mendapatkannya, saya harus melewati malam yang panjang, berdesakan dengan ratusan kendaraan, menahan kantuk, dan menyaksikan bagaimana kelangkaan BBM mengubah SPBU menjadi tempat orang-orang mempertaruhkan waktu demi bisa kembali berkendara.

Perjalanan itu sebenarnya sudah memberi tanda sejak beberapa hari sebelumnya. Jumat (9/10/2026), saya menuju Denpasar untuk urusan kantor. Selepas rapat redaksi di markas Jawa Pos Radar Bali, Jalan Jempiring, saya bergegas pulang ke Buleleng. Saat itu, sejumlah SPBU di sepanjang perjalanan sudah dipadati antrean kendaraan.

Saya masih punya tiga strip bensin. Rasanya cukup untuk menempuh perjalanan menuju Singaraja. Beberapa SPBU saya lewati karena antreannya mengular. SPBU Baturiti pun tak luput dari kepadatan. Kendaraan bahkan mengantre hingga ke jalan.

Dalam hati, saya masih tenang. Masih ada SPBU Kembang Merta, pikir saya. Barangkali bisa mengisi bensin di sana. 

Ternyata SPBU itu tutup.

Indikator bensin mulai menipis, tinggal satu strip. Saya mengurangi kecepatan dan berusaha berkendara seirit mungkin. Selepas jalur shortcut titik 5–6, kekhawatiran itu menjadi kenyataan. Indikator bensin mulai berkedip.

Saya waswas. Jika bensin habis di tengah perjalanan, urusannya tentu lebih panjang. Beruntung, perjalanan menuju Singaraja relatif lancar. Saya akhirnya bisa membeli Pertamax di SPBU Sukasada dan mengisi tangki hingga penuh.

Saya tak menyangka, dua hari kemudian, situasinya berubah drastis.

Minggu (11/10/2026), gejala krisis BBM mulai terasa di Buleleng. Sehari berikutnya, antrean kendaraan semakin kentara. Hingga Selasa (13/10/2026), persoalan itu belum juga teratasi.

Sementara itu, bensin di tangki sepeda motor saya kembali menipis. Tinggal satu strip.

Rabu (14/10/2026) pagi, saya berniat mengisi bensin sebelum beraktivitas. Namun, antrean di sejumlah SPBU sudah mengular. Saya tetap melanjutkan perjalanan ke arah barat untuk meliput di Desa Kaliasem.

Ada harapan bisa mendapatkan bensin di SPBU Lovina. Biasanya, SPBU tersebut menyediakan Pertamax dan Pertamax Turbo. Seringkali sepi dari antrean. Namun, harapan itu pupus. Antrean kendaraan juga mengular di sana.

Jam menunjukkan pukul 12.05 WITA. Saya harus mengisi kelas di Institut Mpu Kuturan pukul 12.30. Waktu tak memungkinkan untuk ikut mengantre. Saya pun mengurungkan niat mengisi bensin.

Indikator di panel sepeda motor sudah berkedip. Namun, saya memutuskan menunda pembelian hingga malam. Barangkali antrean sudah lebih terkendali setelah aktivitas warga mereda.

Keputusan itu kelak saya sesali.

Malam harinya, setelah menyelesaikan liputan pertandingan sepak bola, menulis berita, dan menyunting naskah, saya memulai petualangan mencari BBM. Kali ini, saya tak punya banyak pilihan.

SPBU Sukasada menjadi tujuan pertama. Antrean mengular, sementara bensin nihil. Saya beralih ke SPBU Gajah Mada. Hasilnya sama. Begitu pula ketika menyambangi SPBU Ahmad Yani.

Di SPBU Banyuasri, lampu dan mesin dispenser sudah dipadamkan. Namun, kendaraan tetap mengantre. Sebagian pengendara bahkan memarkir kendaraannya sambil menunggu kemungkinan SPBU kembali beroperasi.

Saya melanjutkan perjalanan ke arah barat. SPBU Anturan tak memiliki Pertamax. Di SPBU Lovina, seluruh jenis bensin disebut telah habis.

Saya sempat bertanya kepada petugas apakah malam itu akan ada pengiriman BBM.

Petugas tersebut mengiyakan. Namun, SPBU baru akan buka kembali pukul 05.00 WITA kessokan harinya. Ia menyarankan saya mencoba SPBU Anturan yang beroperasi 24 jam.

Saya mulai bimbang. Pulang ke rumah dan mencoba lagi keesokan hari, atau kembali ke Anturan dan bertahan dalam antrean?

Saya memeriksa tangki bensin. Isinya nyaris habis. Tak ada lagi tanda-tanda bensin yang bisa diandalkan untuk perjalanan berikutnya.

Akhirnya, saya kembali ke SPBU Anturan. Apa pun risikonya, saya harus mencoba mengantre.

Pukul 20.51 WITA, saya mulai mengantre. Situasinya jauh dari tertib. Kendaraan datang dari berbagai arah. Ada yang dari timur, barat, utara, bahkan dari sisi selatan SPBU.

Malam itu, rasanya seperti seisi Singaraja tumpah ruah di Anturan. Sepeda motor dan mobil saling berebut ruang. Barisan kendaraan tak lagi mudah dibedakan. Semua orang ingin mendapatkan giliran.

Dari pengendara yang lebih dahulu mengantre, saya mendengar kabar truk tangki akan tiba sekitar pukul 22.00 WITA.

Menunggu satu jam rasanya bukan persoalan besar. Setidaknya, masih ada kepastian bahwa bensin akan datang.

Namun, pukul 22.00 berlalu. Truk tangki belum terlihat. Jarum jam terus bergerak hingga pukul 23.00 WITA. Kami masih menunggu.

Tak lama kemudian, sebuah mobil tangki melintas. Harapan muncul. Kami menanti kendaraan itu berbelok memasuki SPBU. Ternyata tidak. Truk tersebut terus melaju ke arah barat.

Beberapa menit berselang, truk kedua datang. Lagi-lagi, tak berhenti. Kegelisahan mulai terasa. Ketika truk ketiga melintas, sebagian pengendara bersorak. Bukan karena truk itu berhenti, melainkan karena kesabaran kami mulai diuji.

Seorang warga melontarkan seloroh di tengah penantian. “Untung di Bali, warganya masih sabar-sabar. Kalau di luar Bali, ini truk tangki sudah dihadang disuruh bongkar di SPBU ini,” katanya.

Tawa kecil terdengar di antara pengendara. Setidaknya, ada sedikit hiburan di tengah antrean yang tak kunjung bergerak.

Truk keempat melintas. Disusul truk kelima. Kemudian truk keenam. Harapan kami seolah ikut berlalu bersama kendaraan-kendaraan itu.

Baru pada pukul 23.48 WITA, truk tangki ketujuh akhirnya berhenti untuk membongkar muatan. Sorak-sorai langsung terdengar. Penantian panjang itu akhirnya berbuah kepastian: BBM datang.

Namun, kedatangan truk tak serta-merta membuat antrean menjadi lancar. Sebaliknya, situasi semakin semrawut. Pengendara berusaha mengambil posisi agar bisa segera maju. Saya sendiri terjepit di antara kendaraan lain. Hendak maju sulit, berbalik untuk keluar pun tak mungkin.

Antrean bergerak sedikit demi sedikit. Sentimeter demi sentimeter.

Petugas di dispenser sisi timur melayani kendaraan roda dua. Sementara itu, dispenser sisi barat diperuntukkan bagi mobil serta nelayan yang membawa jeriken dengan barcode khusus.

Saya tak tahu apakah situasi malam itu bisa disebut panic buying. Yang jelas, antrean di setiap dispenser seolah tak ada habisnya.

Hampir semua pengendara sepeda motor yang mengantre membawa botol atau wadah tambahan. Mereka berharap bisa memperoleh bensin lebih banyak untuk persediaan.

Namun, petugas menolak mengisi BBM ke dalam wadah tersebut. “Kalau punya barcode nelayan atau petani, bisa isi jeriken. Antre di barat,” ujar seorang petugas.

Saya hanya bisa bersabar di tengah barisan. Malam semakin larut, sementara tangki motor saya masih menunggu giliran.

Di tengah antrean, saya bertemu banyak orang dengan cerita masing-masing. Ada yang datang dari Kaliasem, Kayuputih, bahkan Tigawasa. Jarak bukan lagi persoalan utama. Selama masih ada harapan memperoleh bensin, mereka bersedia datang dan menunggu.

Obrolan kami hampir selalu kembali pada satu topik: kelangkaan BBM.

Sebagian saling bertukar informasi mengenai SPBU yang masih memiliki stok. Sebagian lain membicarakan kemungkinan pengiriman berikutnya. Informasi beredar dari satu pengendara ke pengendara lain, meski tak semuanya bisa dipastikan kebenarannya.

Ada pula sekelompok pemuda yang datang membawa speaker Bluetooth. Musik funkot diputar untuk mengusir sepi. Suara musik bercampur dengan deru mesin, percakapan, sorakan, dan seringkali klakson kendaraan.

Beberapa orang bahkan berbagi lungsuran makanan setelah maturan pada Buda Wage Klawu. Di tengah situasi serba terbatas, kebersamaan tumbuh di antara orang-orang yang sebelumnya tak saling mengenal.

Tiap kali terdengar suara sorak sorai atau suara klakson, dua orang Babinsa yang berjaga di SPBU akan mendekati kerumunan. Satu orang memasang wajah kaku dengan mata melotot memandang ke arah kerumunan. Seorang lainnya memilih lebih persuasif, menghimbau warga bersabar menunggu giliran.

Namun, tak semua sanggup bertahan. Saya berkenalan dengan seorang pria paruh baya yang mengaku bernama Nengah. Warga Anturan itu datang dengan mendorong sepeda motornya. Bensin kendaraannya sudah habis.

“Pokoknya saya harus dapat. Bensin sudah habis, sudah tidak bisa pulang,” ujarnya gigih.

Nengah bertahan di tengah antrean. Namun, sekitar pukul 23.30, ia akhirnya menyerah. Putrinya menawarkan untuk menyedot sisa bensin yang masih ada di sepeda motor.

Ia memilih pulang.

“Ketimbang begadang, akhirnya sakit, kerja tidak bisa. Pulang saja dulu, besok pagi coba lagi,” katanya.

Keputusan Nengah membuat saya berpikir. Mengantre memang menjadi salah satu cara mendapatkan bensin, tetapi waktu dan tenaga juga punya batas. 

Bagi sebagian orang, bertahan semalaman bukan perkara mudah, terlebih jika keesokan harinya masih harus bekerja. Tapi saya sudah tidak bisa mundur. Saya ada di tengah kerumunan. Satu-satunya pilihan, hanya bergerak maju.

Antrean terus bergerak. Orang-orang mencari cara untuk beristirahat tanpa kehilangan posisi. Ada yang menyandarkan kepala di atas setang sepeda motor. Ada yang memejamkan mata sambil duduk. Ada pula yang tetap mengobrol agar tak terlelap.

Pemandangan itu menjadi hal biasa malam itu. Kami berusaha mencuri waktu untuk beristirahat di sela-sela penantian.

Truk tangki terus berdatangan untuk membongkar muatan. Total ada lima truk berkapasitas 8.000 liter yang tercatat datang selama saya mengantre. Truk terakhir tiba pada pukul 03.31 WITA, Kamis (15/10/2026).

Saya tak mengetahui apakah semua truk membawa jenis BBM yang sama. Namun, yang jelas, pengendara yang mengantre saat itu menunggu Pertalite. Pertamax dan Pertamax Turbo tidak tersedia.

Waktu berjalan semakin lambat. Dari pukul 20.51 hingga dini hari, saya masih berada di barisan yang sama. Sesekali antrean bergerak, lalu kembali tersendat. Setiap kendaraan yang maju memberi harapan bahwa giliran saya semakin dekat.

Pagi akhirnya datang. Orang-orang yang bertahan semalaman mulai mendekati dispenser. Kantuk masih terasa, tetapi tujuan kami belum berubah: mendapatkan bensin.

Kamis (15/10), pukul 06.24 WITA, giliran saya tiba.

Setelah hampir sepuluh jam menunggu, saya akhirnya bisa mengisi bensin. Namun, bukan Pertamax seperti yang saya cari sejak malam sebelumnya. Hanya Pertalite yang tersedia.

Saya bisa saja mengisi tangki lebih banyak. Sebagian pengendara memilih mengisi hingga penuh setelah menunggu berjam-jam. Namun, saya memutuskan membeli lima liter saja. Cukup untuk tangki Honda Vario 150 tunggangan saya.

Lima liter. Itu saja. 

Bayangkan, hampir sepuluh jam dihabiskan untuk mendapatkan bahan bakar sebanyak lima liter. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk beristirahat atau mempersiapkan pekerjaan hari berikutnya justru habis di SPBU.

Saya meninggalkan Anturan dengan perasaan lega sekaligus lelah. Lega karena akhirnya mendapatkan bensin. Lelah karena pengalaman yang seharusnya sederhana—mengisi bahan bakar—berubah menjadi perjuangan semalaman.

Bagi saya, pengalaman itu menjadi gambaran nyata bagaimana krisis BBM memengaruhi kehidupan sehari-hari. 

Persoalannya bukan semata-mata soal jenis bensin yang tersedia atau panjangnya antrean. Ada waktu yang terbuang, pekerjaan yang harus disiasati, dan tenaga yang terkuras hanya untuk memastikan kendaraan tetap bisa digunakan.

Malam itu, saya juga melihat bagaimana orang-orang berusaha bertahan dengan caranya masing-masing. Ada yang tetap sabar menunggu, ada yang menghibur diri dengan musik, ada yang berbagi makanan, dan ada pula yang memilih menyerah demi menjaga kesehatan.

Saya teringat perjalanan pulang dari Denpasar beberapa hari sebelumnya. Saat itu, saya masih bisa memilih SPBU mana yang akan disinggahi. Ketika satu tempat penuh, saya bisa berharap pada tempat lain.

Kini, pilihan itu menyempit. SPBU yang didatangi sama-sama dipadati kendaraan, sementara kepastian pasokan menjadi hal yang paling ditunggu.

Pukul 06.24, setelah hampir sepuluh jam mengantre, saya akhirnya meninggalkan SPBU Anturan dengan lima liter Pertalite.

Jumlah yang mungkin habis dalam beberapa hari, bergantung pada jarak tempuh dan aktivitas. Namun, untuk mendapatkannya, saya harus mengorbankan satu malam penuh.

Lima liter bensin itu mengantar saya pulang. Sekaligus meninggalkan pertanyaan sederhana: berapa banyak lagi waktu yang harus dihabiskan warga Buleleng di antrean sebelum mengisi bensin kembali menjadi urusan biasa? (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

 

Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng
Kelangkaan Pertalite Krisis BBM Buleleng Antrean SPBU SPBU Anturan buleleng