SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Ngelah pis, tapi sing ade lengis. Punya uang, tetapi tak ada bensin. Ungkapan berbahasa Bali itu belakangan terasa begitu dekat dengan kehidupan warga Buleleng.
Uang sudah disiapkan, kendaraan siap digunakan, tetapi bahan bakar yang dibutuhkan justru sulit didapatkan.
Sejak Minggu (11/10/2026), antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Buleleng kian langka.
Jika sebelumnya antrean masih berkutat di area SPBU, kini kendaraan mengular hingga ke jalan, bahkan mencapai radius 300–500 meter di sejumlah lokasi.
Di bawah terik matahari, warga bertahan menunggu giliran. Sebagian duduk di atas sepeda motor, sebagian lainnya turun untuk sekadar meluruskan kaki. Waktu terus berjalan, tetapi kepastian mendapatkan bensin tak kunjung datang.
“Ngelah pis, tapi sing ade lengis,” keluh Edy Nurdiantoro, salah seorang warga yang ikut mengantre.
Bagi para pengendara, situasi ini bukan lagi soal memilih jenis bahan bakar. Pertalite, Pertamax, maupun Pertamax Turbo, selama sesuai dengan kendaraan dan tersedia, semuanya menjadi pilihan. Kesempatan mengisi bensin terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja.
“Apa saja, yang penting isi dan bisa jalan,” timpal Yoga Sariada, pengantre lainnya.
Kelangkaan BBM juga tak hanya dirasakan di SPBU. Sejumlah Pertashop, Pertamini, warung Madura, hingga pedagang bensin eceran dalam botol turut kehabisan stok. Pilihan warga untuk mendapatkan bahan bakar semakin terbatas.
Di tengah situasi tersebut, muncul berbagai obrolan di kalangan masyarakat pengantre.
Mulai dari kemungkinan penimbunan hingga spekulasi mengenai penggunaan anggaran negara untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di balik panjangnya antrean, ada pula cerita-cerita kecil yang membuat penantian terasa sedikit lebih ringan.
Panas siang dan dingin malam menjadi bagian dari pengalaman warga yang bertahan di antrean BBM. Namun, di tengah ketidakpastian itu, suasana tak selalu dipenuhi keluhan.
Lanang, misalnya. Pemuda itu memilih menyantap nasi kuning yang dibawanya sembari menunggu giliran.
Tak sekadar makan, ia bahkan berkelakar hendak nyetik atau menyantet makanannya. Candaan itu ia lontarkan sambil memperlihatkan bekalnya kepada orang-orang di sekitar.
Alih-alih tersinggung, warga yang mendengar justru tertawa. Di tengah antrean yang tak kunjung usai, gurauan sederhana menjadi hiburan tersendiri.
Momen saling membantu juga terlihat. Sejumlah warga membagikan air minum kemasan, makanan ringan, hingga permen kepada sesama pengantre.
Bantuan kecil itu mungkin tak membuat bensin datang lebih cepat. Namun, setidaknya bisa mengurangi rasa haus, lapar, dan jenuh selama menunggu.
Tak ada seremoni atau pengumuman. Warga membantu warga lain dengan apa yang mereka punya.
Di antara mereka, ada pula Gunawan, seorang pengantre lanjut usia. Baginya, menghadapi situasi seperti ini dengan terus menggerutu hanya akan menambah beban pikiran.
“Kedek-kedekang gen pang sing emosi,” ujarnya. Artinya, ditertawakan saja agar tidak emosi.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di tengah antrean panjang dan ketidakpastian pasokan, ada upaya untuk menjaga diri agar tidak larut dalam kejengkelan.
Krisis BBM memang membuat aktivitas warga terganggu. Mereka harus meluangkan waktu lebih lama, berpindah dari satu SPBU ke SPBU lain, bahkan menghadapi kemungkinan pulang tanpa membawa bensin. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya
Sumber : Radar Buleleng